Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #5

Wo Bu Ai Ni

Makin siang, makin mengintip sinar matahari dari balik jendela terlihat jelas selasar halaman rumah sudah mulai sepi. Tidak adalagi ada bajaj terparkir, yang tadi pagi sempat bajaj tidak jalan karena kehilangan akinya, seraya kehilangan jantung tidak bisa berjalan. Pohon nangka yang ada di depan rumah, cuman berdiri seraya tersenyum mengajak bercanda, kapan aki bajajnya di ikat lagi di dahan pohonnya.

Rumah bergaya Betawi Kebaya, seraya antik berpadu sentuhan modern dengan ornamen warna catnya biru, biasanya rumah Betawi warna catnya kebanyakan coklat mudah dan warna kayu jati. Semua sentuhan dibuat manis modern, dengan terpasang kaca jendela lengkap dengan lampu kristal tergantung diatas plapon teras beranda depan. Membisu kursi dan meja, yang jadi tempat singgah tamu sementara duduk.

Jaja cuman terduduk bengong ngelamun, wajahnya makin ringsek kayak bajaj habis ketabrak tembok tetangga. Ruangan tengah juga sudah di sentuh dengan gaya modern, tapi ngak ngurangin kultur budaya Betawi. Dua kakinya di lonjorin naik keatas meja, dua matanya kemana ngak jelas, saat TV plasma 60" tergeletak di atas meja lagi nayangin berita budaya Betawi, tentang Ondel-Ondel. Sekali-kali pandangan dua matanya melirik pintu kamar Tedy masih tertutup rapat.

"Assalam' mualikum," terdengar suara salam lembut terucap dari bibir manis kecil terbalut lipstik merah tua berwajah cantik.

Sudah berdiri Siti, gadis cantik berhijab tangan kiri kanannya menenteng rantang dan kantong plastik warna hitam. "Assalam' mualikum," terucap lagi dari bibir Siti masih berdiri depan pintu cuekin Jaja.

"Waalaikum' salam." malahan Mumun yang balas nyucap salam Siti nundukin kepalanya sambil tersenyum saat di hampiri Mumun kedepan pintu.

"Babeh! Uhhh!" terkejut Jaja cepat turunin dua kakinya dari maja, kayak habis dengar suara geledek nyamber.

"Loe Mun! Bikin kaget gua aja!" senyum terpaksa Jaja beranjak bangun berdiri saat Siti masuk dan di persilahkan duduk Mumun.

"Duduk sini, Ti," terduduk Siti saat tangan kirinya di tarik Mumun duduk di sampingnya.

"Gimana si Beh? Dari tadi Siti berdiri depan pintu, ngak di suruh masuk," dua mata Mumun melotot rada kesel sama Jaja. "Gua ngak dengar, Mun," sahut Jaja malingin mukanya ngelirik kerantang dan kantong plastik sudah tergeletak diatas meja.

"Ohh iya, Cing hampir lupa. Ini dari Emak. Semur jengkol sama pepes ikan peda campur pete," dua tangan Siti ambil rantang dan kantong plastik cepat di serobot Jaja cepat beranjak bangun.

"Bang! Itu'kan buat Tedy. Bukan buat Abang. Hihh!" nahan sakit tangan kiri Jaja saat di tepak tangan kanan Mumun mesem-mesem tatap wajah Siti cantik terbalut hijab hijau lengap dengan pakaian kebaya encimnya.

"Iya Cang, itu buat Bang Tedy kata Emak." malu-malu Siti lirik tahan kesal Jaja sambil beraduan giginya.

Lihat selengkapnya