Clingak-clinguk kiri kanan sepi, jalan pelan sambil tarik koper masing-masing di ruangan tengah sepi. "Jupri!" nada tinggi Tedy sontak pelan tidak jadi teriak di bekap tangan kiri Jupri bau jengkol.
"Kaki loe tuh ngak ada matanya. Main injak aja," menahan sakit jempol kaki terinjak kaki Jupri.
"Maaf Ted, ngak sengaja. Maklum selama ini kaki gua'kan ngak pernah gua ajak jalan-jalan, baru kali ini loe ajak jalan-jalan ke China," mau marah Tedy tidak jadi, saat Jupri buru-buru baik-baikan Tedy.
"Ayo cepat ntar Babeh dan Emak keburu bangun," cepat Tedy tarik lagi tas kopernya sambil jalan.
"Ted?" colek Jupri berdiri di depan kamar. Ada rasa tidak tega Tedy mau pergi ninggalin Mumun dan Jaja yang lagi terbaring tidur di atas ranjang. Posisi tidur Jaja menghadap dan menjilat kaki Mumun serasa manis permen makin jilatin Jaja, yang mungkin lagi mimpi makan permen lolypop. Mumun tidurnya malahan lagi tendang-tendang Jaja, dalam mimpi Mumun lagi main bola, maklum cita-cita Mumun lagi kecil mau jadi pemain hebat pesepak bola luar negeri.
"Gua ngak tega ninggalin Babeh sama Emak, Jup. Tapi gua harus pergi buat ngejemput cinta gua," diam-diam tanpa sepengetahuan Tedy masih berdiri depan pintu kamar. Jupri cepat meletakan surat kaleng, surat dalam kaleng bekas susu, ada tulisannya biar jelas. "Surat kaleng".
"Udeh cepat Ted, ntar Babeh sama Emak loe keburu bangun," tas koper di tarik Jupri keluar, masih berat langkah Tedy masih berdiri di depan pintu kamar.
"Babeh Emak. Tedy jalan dulu. Tedy mau pergi jemput cinta di China. Doa'in Tedy biar lancar," mulai sedih mundur pelan-pelan sambil tarik koper keluar rumah. Pintu cepat di tutup pelan-pelan Jupri, mereka berdua jalan persis kayak maling jemuran sudah berhasil bawa hasil di masukin dalam koper.
Bajaj terdiam membisu, tidak lagi diajak bercanda Tedy, dengan akinya tidak lagi di gantung, pada pohon nangka cuman diam rimbun rada berat menahan beratnya beban buah nangka yang besar-besar. Bayangan mereka berdua makin tidak terlihat sudah pergi meninggalkan selasar halaman rumah ditelan gelap malam.
Malam jalan ibu kota sepi, hanya kelihatan berapa mobil dan kendaraan terlihat berjalan di tandai sorot lampu cahaya saat berpapasan jalan. Bintang dan bulan seakan malas menyolek ngajak becanda Tedy, yang pergi diam-diam untuk pergi jemput cintanya di Negeri Tirai Bambu.
Sopir taksi, sudah terlihat rada tua dari wajahnya sekali-kali cuman ngelirik kaca spion tengah. Lelap tidur ngiler Jupri, pipi sebelah kanan di daratkan pada bahu pundak kiri Tedy berapa kali tangan kanan Tedy dorong wajah Jupri, tetap aja pipi kanannya di daratkan lagi ke bahu kiri Tedy. Pikiran sopir taksi udah beda dalam benak dan hati melihat Tedy dan Jupri.
"Mau kemana kalian berdua?" tanya sopir taksi melirik lagi kebelakang, sontak bibir Jupri malahan mau nyosor pipi Tedy cepat bibirnya di dorong tangan Tedy jijik.
"Mau ke China," jawab Tedy perhatiin sopir taksi senyum aja dalam hati dan pikirannya sudah berpikiran macam-macam. "Pasti loe anggap gua macam-macam nih?" guman Tedy dorong wajah Jupri kearah kaca pintu sisi kanan.