Kepergian Tedy makin bikin Mumun banyak diam, ngelamun dan tidak mau makan. Pikirannya terbalut cemas kelihatan bangat dari raut wajahnya sedikit mengeriput tapi tetap aja selalu dandan dan roll rambut ngak pernah ketinggalan masih ngegantung menjuntai dirambutnya makin ikal. Sejak dari pagi Mumun sedikitpun belum makan, piring berisi nasi dan lauk pauk masih utuh di atas meja nakas samping dipan, dipan yang biasa ditidurin Tedy kini jadi tempat pelampiasan Mumun melepas rindu dan kangennya.
Tadinya kamar banyak gambar, foto dan poster Aling kini semua sudah di ganti dengan poster Siti hampir di penuhi nempel di dinding tembok kamar. "Gimanapun juga, gua ngak mau punya mantu yang beda segalanya. Gua lebih suka loe, Ti" masih tertelungkup Mumun sambil melirik kesekitar kamar, dua matanya masih sembab basah kayak sawah kering tiba-tiba di guyur air hujan.
"Andai gua cari Tedy ke China, mau nyari di mana?" guman makin sedih terduduk Mumun di atas dipan. Dua kakinya menyentuh lantai nyeker ngak pakai sandal, pandangannya masih melihat foto Siti. Daster merah bermotif Great Wall China, di kenakan Mumun siang itu beranjak bangun. Serasa berat dua langkah kakinya karena makin tergelayuti rindu kangen mendalam dengan Tedy.
Sinar matahari sedikit mencolek wajah Mumun masih basah sisa air mata di seka dengan tangan kanannya, sedikit melongok pandangan Mumun kedepan jendela terbuka lebar tirainya. Bajaj-bajaj masih terparkir di depan halaman rumah menanti kapan di ajak jalan untuk mencari rejeki. Sopir bajaj masih terlihat menunggu, karena kunci bajaj masih belum tahu di mana rimbanya.
"Mun, makan nih. Dari tadi pagi loe'kan belum makan. Tuh makanan tadi pagi masih utuh belum loe makan," masuk Jaja kedalam kamar dua tangannya bawa mangkok berisi sayur asem dan piring nasi dengan kian asin serta sambel trasi.
"Saya malas makan, Bang. Tedy, lagian tega bangat sama kita ya, Bang. Pegi ngak bilang-bilang sama kita," sedih Mumun duduk di kursi hadapan meja tergeletak kamus bahasa Indonesia-China.
"Ngaco loe. Masa orang kabur bilang-bilang. Kalau anak loe mau kabur bilang sama kita, pasti gua ngak kasih, Mun. Udeh sekarang makan aja loe ntar keburu dingin nih!" makan siang udah ada di hadapan Mumun ragu untuk manakn teringat Tedy.
"Tedy sekarang udah makan belum ya, Bang?" sendok cuman di putar-putar dalam mangkok sayur asem. "Iya juga Mun? Gua takut Tedy ngak ada duit, ntar kelaparan di sana. Gua juga jadi keingatan Tedy," ikut mikir cemas Jaja terduduk di atas dipan sambil dua tangannya kencengin kain sarungnya.
"Ya, kita berharap aja Tedy sama si Jupri ngak bakalan susah di sana, Mun. Udeh loe makan dulu deh," beranjak bangun Jaja.