Pemukiman Suku Hui, tampak bersih, asri nyaman sepanjang jalan berbaris sederatan rumah hampir semuanya bentuk bangunannya sama dan masih kental tidak mengurangi budaya tradisonal China.
Langit segitunya masih centilnya ingin mengajak bercanda awan putih bergulir seraya mengajak menari sinar mentari masih setia menyinari pemukiman Suku Hui dan lajunya motor berjalan, terlihat kilauan helm saat sinar matahari terik mengajaknya berkedip. Helm warna hitam di pakai Rasyid dan helm warna merah tua di pakai kepalanya Aling.
Motor berjalan pelan kira-kira 30 km perjam jalannya, senyuman manis selalu terlempar dari wajah Aling saat berpapasan gadia hijab cantik Suku Hui berjalan di sisi kiri jalan. Terdiam sesaat Aling berpikir, terduduk di belakang boncengan motor yang masih di kendarai Rasyid.
"Inginnya hati ini seperti mereka, tapi salahkah gua jika belum sepenuhnya seperti mereka? Yang padahal?" belum sempat rinci bicara apa yang di pikirkan Aling dalam hatinya.
"Ling?" sudah di panggil Rasyid.
"Iya kenapa, Ras?" lagi-lagi selalu menundukan wajahnya di sertai senyum saat berpapasan gadis hijab, dengan aneka warna hijab, yang di pakai gadis Suku Hui juga membalas melempar senyuman pada Aling.
Belum sempat Aling tanya kelanjutan Rasyid bertanya, motor malahan sudah berhenti di depan rumah. Rumah tidak terlalu besar tampak dari depan, hanya kelihatan pintu lipat dua merah tua, dengan di apit gapura bertopang tiang beton beradukan serpihan batu.
Rasyid hanya perhatikan belakang Aling, yang tangan kanannya sudah mengepal ketuk pintu.
"Tok ... tok ..." dua kali pintu di ketuk Aling, tapi belum terdengar ada jawaban dari si empunya rumah.
"Kamu kenapa Ras, kok senyun-senyun gitu? Memang ada yang aneh dengan aku?" maju selangkah Aling berdiri di hadapan Rasyid.
Hanya tatapan dua mata Rasyid pandangi wajah cantik kecil berambut pendek sebahu.
"Ehhh, anu, anu?" belum sempat Rasyid akan utarakan niatnya pada Aling sudah berbalik berdiri belakangi Rasyid jadi ngak enak hati saat pintu sudah terbuka.