Petang hari masih mengajak sinar mentari menari, awan putih bergulung sebentar lagi menyambut datangnya malam seraya mengajak pulang mentari malu-malu akan kembali pada peraduaannya. Semilir angin sejuk masih setia sepanjang hari seperti akan merasuki setiap pemilik napas, yang segitunya membalutinya dengan tebalnya pakaian aneka warna dan model.
Senyuman manis nan cantik selalu terlempar penuh senyuman setulus hati dari raut wajahnya gadis Suku Hui, dengan hijab aneka warna dengan balutan busana muslimahnya masih tidak mengurangi ciri khas Suku Hui. Senyuman sambil menundukan wajahnya ketika setiap bertemu dengan seseorang berpapasan, dengan sapaan halus terucap dari bibir kecil terbalut gincu merah tua.
"Assalam' mualikum," tersenyum tergurat cantik di raut wajah salah satu gadis Suku Hui saat melirik Tedy dan Jupri, seakan lucu di lihatnya. Mereka berdua ternyata sudah tiba sejak dari pagi, hanya rasa bingung dan hendak kemana mereka melangkahkan dua kakinya.
"Waalaikum' salam." sahut Tedy makin terenyuh perhatikan tiga gadis cantik Suku Hui, dengan aneka warna hijab terbalut busana muslimah serba cerah. Setelah itu tiga gadis cantik Suku Hui kembali berjalan, seraya ingin meledek hanya menahan senyuman, tapi di urungkannya dan mereka bertiga kembali berjalan lagi meninggalkan Tedy dan Jupri masih dalam sejuta kebingungan.
"Paras wajah mereka, cantik-cantik ya, Jup?" guman masih berdiri Tedy belakangi Jupri tangan kanannya masih memegang handle tas koper tidak jadi di tariknya.
"Ted. Tedy ...!" sekali dipanggil tidak dengar Tedy, mulut Jupri di dekatkan pada kuping Tedy cepat berbalik jalan menarik tas kopernya.
"Loe kalau ngomong jangan teriak-teriakan gitu. Malu di sini mulut loe, Jup. Memang kalau satu pabrik, cetakan mulutnya ngak beda jauh, sama-sama bawel!" pikiran Tedy seraya digelayuti sejuta kebingungan dan kecemasan, apakah dirinya bisa menemukan Aling. Jupri cepat mengikuti langkah jalan Tedy sembari melirik kiri kanan rumah, pintu tertutup rapat diapit gapura.
Senja telah berganti dengan datangnya gelap malam. Terdengar sadhu menggema dari kejauhan suara Adzan Magrib, berhenti Tedy perhatikan langit makin terasa gelap. Jupri tarik koper dan duduk diatasnya, mulai dua mata Tedy seraya tidak bisa terbendung kesedihan.
"Gua jadi ingat sama Babeh dan Emak gua, Jup," ujar Tedy melirik Jupri mukanya ngak kelihatan karena samar gelapnya malam. Tidak lama kemudain, satu-persatu lampu depan rumah menyalah terang. Kelihatan lagi muka Jupri yang pas-pas'an karena pas duduk di bawah penerangan cahaya lampu yang menjuntai di atas kepalanya.