Dua tangan Ko Lim mulai mengembok pintu kedai, makin terpancing dua matanya melirik ada rasa ingin menolong saat melihat Tedy dan Jupri masih terduduk di depan kedai, padahal sudah tutup. Lalu anak kunci di masukan kedalam saku pakaian kokoh dengan celana panjang putihnya, masih terbalut kopiah putih atau Head-Wimpled. Hanya terduduk di depan kedai Tedy dan Jupri berhadapan dua tas koper tidak tahu akan di tarik kemana lagi.
Berapa kali Jupri menahan kantuk, dengan terdengar suara menguap di tahan tangan kanannya. Raut wajah Tedy masih tidak dibohongin, karena serasa ingin sekali bertemu dengan Aling. Rasa ragu secarik kertas alamat sudah di pegangnya, tidak jadi dipastikan untuk di bacanya, lalu di masukan lagi secarik kertas alamat tulisan tangan Cinwa kedalam saku celananya.
"Loe makin merana ngerinduin Aling, Ted? Yakin aja loe pasti nemuin Aling disini?" seraya ngeledek Jupri beranjak bangun melirik langkah Ko Lim hampir mendekati.
"Gua berharap cepat nemunin Aling di sini, tapi kenapa hati gua jadi ragu ya?" tetap duduk Tedy disamping Jupri makin senyum-senyum nundukin kepalanya pada Ko Lim sudah berdiri di depan Tedy rada ngak enak hatinya.
Ko Lim sudah berdiri di hadapan Tedy cepat beranjak bangun berdiri tarik handle tas koper. "Duibuqi. Wo zheng yao zoulu," {maaf. saya baru mau jalan} ngerasa tidak enak Tedy karena rasanya Ko Lim sudah tutup kedainya, tapi mereka berdua masih ada di depan kedai.
"Jup ayo." sekali Tedy anggukan wajahnya pada Ko Lim tahu mereka berdua sudah salah paham. Jupri cepat tarik handle tas koper ikuti Tedy tapi langakahnya masih ragu hendak berjalan kemana dua kakinya, karena malam makin larut.
"Kalian berdua mau kemana? Malam makin larut loh. Kalian tidak tahu daerah jalan sini'kan?" terdiam tidak jadi berjalan Tedy dan Jupri saat Ko Lim lagi-lagi mengikuti langkah mereka berdua dan Ko Lim sudah berada di belakang mereka berdua cepat berbalik.
"Kalian berdua dari Jakarta?" tersenyum Ko Lim tunjuk Tedy dan Jupri colek tangan kiri Tedy balas melirik wajah Jupri makin tersenyum, dalam pikirannya dirinya pastinya dapat bermalam di rumah Ko Lim.