Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #13

Cinta Terpendam

Langit makin gelap, tapi sinar rembulannya masih setia menyinari kubah emas Najia Great Mosque makin berkilau cahaya emas, dengan kedipan genit nakal pijaran cahaya bintang menebar menari di atas Masjid. Tampak megah dan tinggi serta anggun bangunan Masjid Najia Great, di bangun di atas tanah seluas 9 ribu meter persegi dengan ornamen arsistektur kebanyakan Masjid pada umumnya, yang sudah berdiri ratusan tahun tetapi masih kokoh berdiri.

Pepohonan hijau tampak makin asri saat melihatnya pada siang hari, pastinya makin terasa teduh dengan sedapnya di pandang mata. Bangunan Masjid dengan kubah kuningnya di balut dengan warna hampir semuanya putih menyelimuti setiap bangunannya dengan pelataran halaman Masjid yang sangat luas sekali.

Terduduk seorang diri, Rasyid wajahnya tidak lelahnya tersenyum menatap wajah Masjid dari depan. Hanya di temani satu kursi dirinya terduduk berhadapan meja kosong. Gelap malam sunyi dengan hembusan semilir angin sejuk, jadikan dirinya memakai mantel tebal dan celana jeans serta bersepatu kets putih.

Hampir sejak sedari tadi setelah menatap wajah depan Masjid tidak jauh dari hadapan Rasyid. Rasyid selalu tersenyum sendiri, makin tidak jelas apa yang sedang di lihatnya, yang padahal dirinya hanya duduk seorang diri saja, tidak ada siapapun duduk di hadapannya.

Ternyata pikiran dan benaknya Rasyid sedang membayangkan wajah cantik Aling sedang berdiri di hadapannya. Sekali-kali bayangan Aling hilang luput dari bayangan dua mata Rasyid, tapi lagi-lagi Rasyid hanya tersenyum seraya tidak ingin melapaskan bayangan cantik wajah Aling.

"Cuman cinta terpedam yang bisa gua raasin sama loe, Ling. Ingin rasanya gua mengutarakan rasa cinta ini yang selama ini terpedam, tapi kenapa kayaknya hati ini ngerasa ngak bisa," beranjak bangun Rasyid sesaat melempar senyuman pada gelap tidak ada lagi bayangan Aling.

"Tapi saat nantinya, gua akan mengutarakan rasa cinta ini yang kian lama terpendam sama loe, Ling. Gua ngak mau cuman ngerasaian cinta yang terus-terusan gua pedam selamanya." makin tersenyum Rasyid pandangi wajah halaman Masjid seraya hanya tersenyum tahu apa yang sedang di rasakan Rasyid malam itu.

Lalu perlahan langkah dua kakinya berjalan tinggalkan keheningan terbalut kesunyian Masjid sampai kapanpun akan tetap ada dan berdiri kokoh, dengan megah bangunan dan kilau emas kubahnya selalu akan menyambut siapa saja, yang ingin mendekatkan dirinya semakin dekat padaNya, yaitu Allah SWT.

Rasa kantuk belum menghampiri dua mata Tedy, dengan wajah tampamnya masih tersenyum duduk membalas senyuman nakal sinar rembulan malam itu masih mengajak Tedy agar tidak larut dulu dalam tidurnya. Makin tersenyum wajah Tedy, saat kedipan cahaya sinar pijaran bintang seraya makin mengajak Tedy juga agar jangan tidur dulu.

Tedy duduk di undakan kedua anak tangga, dengan dua telapak kakinya telanjang tidak beralas sandal di daratkan pada undakan anak tangga paling bawah menyatu dengan selasar halaman rumah. Duduknya di sandarkan pada anak tangga paling atas menyatu dengan lantai pintu utama terlihat terbuka.

Lihat selengkapnya