Suara burung bersautan terdengar dari atas langit cerah bergulung awan putihnya. Burung seraya makin bahagia berkelompok terbang untuk mencari makan. Kepakan dua sayapnya tidak henti-hentinya terus membuatnya melesat terbang jauh saling mengejar.
Perkampungan Suku Hui terlihat indah sedap di padang mata dengan dikelilingi perbukitan hijau nan luas terbentang jauh tak jenuh dipandang mata. Jalanan berkelok disisi kanan kirinya terpagar rapi pembatas jalan, sebelah kirinya mencorak jurang langsung menjorok keperbukitan hijau bercampur gersang tandus. Hanya terlihat melintas berapa kendaraan motor dan mobil lewat berlawanan arah, namun tetap dalam garis mistar pembatas jalan.
Sementara di rumah Ko Lim, cerahnya langit tidak secerah hatinya raut wajah Ko Lim. Ada rasa cemas tergurat di raut wajah Ko Lim, saat tidak tega dirinya masih menatap Ayung wajahnya sendu bercampur pucat. Dengan sentuhan lembut penuh ketulusan usapan tangan Ko Lim membasuh wajah Ayung dengan lap basah. Tidak berubah wajah Ayung, masihtetap pucat menahan sakit berkepanjangan.
"Pergilah kekedai, hari sudah siang," ucap di sertai desahan rintih tertahan dari bibir pucat Ayung seraya ingin di biarkan saja dirinya sendiri terbaring di atas ranjang saat dua tangan Ko Lim mulai menggantikan pakaian lusuh yang belum di gantinya.
Menahan sedih Ko Lim tetap ingin dirinya ada di samping Ayung walau meminta segera membuka kedai karena hari mulai siang. "Kamu jangan terlalu risaukan hari ini. Karena senantiasanya hari akan tetap sama, walau saya buka atau tutup kedai itu. Dan tetap saja kebaikan Yungmi, makin membuat saya bertambah beban," sayup sekilas Tedy mendengar, tapi tidak terlalu jelas apa yang di dengarnya saat dirinya tidak sengaja akan pamit rasanya berat meninggalkan kebaikan Ko Lim.
"Biar saya saja yang buka kedai itu, Ko Lim." tas koper cepat di dorong ke sisi kanan depan pintu. Jupri juga ngak bisa banyak berkata-kata banyak, dengan melihat apa yang akan di lakuin Tedy dengan membalas kebaikan Ko Lim.
"Yung mereka ini dari Jakarta. Semalam mereka berdua numpang Sholat di kedai, lantas mereka saya ajak saja kesini buat bermalam," telenjuk jari kanan Ko Lim tunjuk Tedy dan Jupri tersenyum berdiri berendengan di samping Ko Lim rada tersenyum melihat Ayung sudah di gantikan pakaian yang bersih.
"Saya Tedy, ini Jupri," ucap Tedy berdiri di samping ranjang.
"Ko Lim, percaya'kan sama saya? Biar saya saja yang buka kedai teh milik Ko Lim," sedikit berpikir Ko Lim melirik Ayung.
"Biar Ko Lim jaga saja Ci Ayung, biar saya dan Jupri yang buka kedainya." lebih yakinkan lagi Tedy pada Ko Lim walau sedikit di raut wajahnya bekerinyit ada ketidak percaayan dan keraguan di mimik wajahnya.