Bingung bercampur panik Jupri di minta buru-buru oleh pelanggan, yang biasanya di layani Ko Lim. "Sabar-sabar. Iya, iya sebentar-sebentar. Semua pasti dilayani," berapa kali tangam kiri Jupri garuk pantatnya ditepak tangan kanan Tedy.
"Loe gimana si!" lirikan dua mata Tedy merasa malu melihat kelakukan Jupri yang di perhatikan pelanggan sempat apa yang di lakukin Jurpi. Pelanggan terduduk saling berhadapan dengan sekat meja berkaki empat.
"Kuai dian gei wo pao cha," {cepat buatkan saya teh} sahut salah satu lelaki muda seolah-olah minta dibuatkan teh cepat. Makin bingung Jupri melirik Tedy seraya masih meraba-raba membaca racikan ukuran teh catatan tangan Ko Lim dalam satu buku kecil
Masuk Rasyid rada bingung perhatikan pelanggan seperti tidak sabaran ingin cepat minta dibuatkan teh, yang biasanya Ko Lim ada dan melayani mereka. Tapi kenapa siang itu Ko Lim tidak ada, hanya ada Tedy dan Jupri cuman berdiri dan makin bingung panik seraya dikejar-kejar debet colector saja.
"Lengjing lengjing." {tenang tenang} sudah berdiri Rasyid disamping Jupri nambah bingung. Pelanggan tahu segera terdiam saat Rasyid segera membantu Tedy dan Jupri rasanya hati mulai plong lega, kayak habis buang hajat dengan kedatangam Rasyid yang ngebantu bangat.
Hanya senyuman tidak banyak kata dari tebaran wajah tampan Rasyid meracik teh dan melayani pelanggan dengan penuh senyuman. Tedy cuman ikuti sambil senyum malu hatinya apa yang di lakuin Rasyid. Yang tadi awalnya mau bantu Ko Lim, tapi rasanya Tedy hampir bikin kecewa pelanggan setia teh Ko Lim. Tapi untung saja karena datangnya Rasyid, Tedy dan Jupri sampai tidak bikin kekacauan dikedai teh milik Ko Lim.
Berderet rapi sepanjang jalan kedai bermacam-macam menjual minuman, makanan dan aneka souvernir. Semua itu adalah kedai milik Yungmi dan ada satu kedai yang belum di buka. Kedai makanan Indonesia, yang harusnya Rasyid sudah membuka kedai itu. Karena Rasyid tidak sengaja melihat kewalahan Tedy dan Jupri melayani pelanggan Ko Lim, terpaksa Rasyid rada telat buka kedai itu.
"Untung ada loe bantuin gua. Gua Tedy," tangan kanan Tedy di ulurkan di sambut tangan kanan Rasyid.
"Gua Rasyid," sahut Rasyid melirik Jupri masih kewalahan nyuci cangkir teh belum selesai.
"Gua Jupri." "Prang" sahut Jupri makin kesal karena sudah berapa cangkir teh pecah saat di cucinya.