Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #16

Cinta Mulai Setengah Hati

Hamparan luas terbentang gurun pasir Shapotou, sepanjang mata memandang terlihat hanya bukit pasir tanpa ada ujungnya, kilau butiran pasir berkilau ketika tersentuh tercolek sinar matahari semakin genit, makin memainkan sinar mataharinya. Gundukan kecil pasir terkadang runtuh, saat seketika terhempas angin membentuk gulungan butiran pasir menjadi satu larut dalam genangan lautan butiran pasir kembali.

"Bang kapan sampainya kalau kita naik onta doang?" kesel campur gerutu selalu keluar dari mulut Mumun terduduk di atas onta berjalan diatas pijakan pasir, seraya onta masa bodoh dengan ocehan Mumun.

"Dari tadi saya di suruh sabar! Sabar terus! Bentar lagi sampe! Lihat tuh Bang. Nih gurun ngak ada ujungnya. Kita di kelilingin pasir doang! Lagian dari tadi ngak sampe-sampe tempatnya Tedy?!" terlunjuk jari tangan kanan tunjuk sekitar gurun sepi. Cuman terduduk santai Jaja naik onta juga berjalan di samping onta yang di naiki Mumun.

Tour guide, dua lelaki asli warga setempat hanya tersenyum menarik tali pelana onta sambil berjalan, hanya jawaban senyuman makin bikin Mumun sewot saat di tanya. "Loe berdua senyam-senyum doang. Di tanya dari tadi, jawabannya senyam, senyum aja. Uhhh! Lah kok jadi gelap? Bang! Bang kenapa jadi gelap. Tadi'kan terang?" mulut Mumun ngak capek-capek terus ngoceh sampai ngak sadar kaca mata hitam yang tersangkutkan di kepalanya terjatuh dan tutupi dua matanya.

"Ya, terang aja jadi gelap, Mun. Tuh, kaca mata yang loe pake, kaca mata item!" cepat Mumun keataskan lagi kaca matanya sambil mesem malu hati.

"Masih jauh?" Jaja juga mulai cemas karena sejak dari tadi naik onta ngak sampai-sampai. Tour guide lantas berhenti perhatikan sekitar gurun sepi, hanya hamparan pasir putih tertiup angin terbentang luas tidak ada ujungnya atau rumah ataupun warung.

"Disini ada warung ngak? Lapar haus gua nih," tour guide lalu mengambil segenggam pasir lalu ditaburkan keatasnya, sontak terkena mata Mumun.

"Loe gimana si! Kena mata gua nih! kucek dua mata Mumun dengan dua tangannya sata melihat pasir berterbangan tertiup angin kearah selatan. "Hai hen yuan," {masih jauh} tunjuk salah satu tour guide menarik lagi tali pelana onta berjalan kearah selatan.

Lihat selengkapnya