Semilir angin bertiup menusuk kalbu sembilu nadi terbungkus ari kulit terbalut mantel tebal, terduduk diam berharap dalam penantian sekian lama cinta hanya terdiam kosong, dua mata memandangi selasar halaman rumah sepi berpayung langit samar gelap. Ada rasa ragu dan cemas tergurat makin jelas menggelayuti wajah tampan Rasyid, sejak dari tadi cuman terduduk menunggu kepastian cintanya apakah akan datang menerimanya, atau menolaknya.
Hanya kesepian dan kesunyian jadi teman Rasyid terduduk di teras beranda depan rumah terlihat lebih tinggi dari selasar halaman rumah. Kursi terbuat dari anyaman bambu dan kursi di sebelahnya masih kosong, dua mata Rasyid berharap bila kursi di duduki oleh Aling, yang akan memberikan jawaban kepastian cintanya.
Sinar bulan menerangi pelataran selasar halaman rumah walau masih terlihat samar gelap, masih jelas terlihat dua gapura tiang pintu menopang dua daun pintu lipat berwarna merah tua.
"Ras," sapa Aling lembut, bukannya Rasyid membalas sapaan hangat Aling sudah berdiri di hadapannya. Rasyid malahan cuman terduduk tertegun terkasima melihat Aling dengan mengenakan Cheongsam kombinasi celana bahan biru tua, dengan kiri kanannya rambut terkuncir pita merah. Seraya putri China manja, Aling cuman berdiri menebar senyum ingin mencari perhatian tapi malu-malu tergurat dari raut wajah cantiknya.
"Rasyid," lagi-lagi Aling sapa tegor Rasyid rada kencengin suaranya. Rasyid cuman tersenyum beranjak bangun berdiri hadapan Aling. Tatapan dua mata Rasyid seakan tidak ingin melepaskan moment kapan lagi dirinya bisa melihat Aling sangat cantik malam itu. Dalam bayangan penglihatan Rasyid makin berlebihan, bila Aling yang di lihatnya benar-benar Putri China, dengan memakai Cheongsam serba merah di sertai dengan hiasan emas. Berbalut hiasan makin cantik bak sungguhan Putri Kerajaan China, dua matanya berkedip seraya menggoda hati Rasyid masih hanya tertegun kagum.
"Kamu cantik sekali, Ling," puji Rasyid akan raih dua tangan Aling mundur sedikit kebelakang seakan dua tangannya tidak ingin disentuh. Rasyid tersadar dengan apa yang telah di bayangkan barusan, tetap saja tersenyum walau tidak enak hati saat dua tangannya ingin meraih cintanya, kemudian dua tangannya kembali pada posisinya. "Sungguh Ling, malam ini kamu cantik sekali." puji lagi Rasyid makin bikin baper salting Aling, tapi ngak sampe terbuai pujian.
Yungmi terhenti langkahnya saat dirinya sudah mengambil buku yang ada di atas meja kerja. Dua kakinya mengajak melangkah berjalan seperti ingin mengulik sayup-sayup suara pujian dari luar. Benar saja dua kaki Yungmi terhenti di balik pintu, makin terdengar sayup tapi nyata suara pujian. Yungmi beranikan berjalan dekati pintu, dari balik celah sisi kanan pintu terdengar apa yang sedang di utarakan Rasyid pada Aling.
"Wo Ai Ni, Ling," malu-malu terlontar dari mulut Rasyid berharap cintanya akan di terima Aling hanya diam tatap dua mata kesungguhan Rasyid berbinar berkaca tersirat sungguh ada ketulusan. Sesaat hanya terdiam Rasyid karena tidak ada jawaban dari bibir bergincu merah muda membaluti bibir kecil Aling, seakan masih ada keraguan terekam dalam hatinya dan begitu sulit terucap dari bibirnya untuk memberikan jawaban. Berapa saat ditunggu Rasyid, tetap saja tidak ada jawaban dari Aling, masih berharap menunggu Rasyid masih berdiri dihadapan Aling.