Tidak tahu kapan malam akan segera berganti siang, rasanya malam itu makin setia menyelimuti setiap Insan dalam balutan selimut hangat terbaring setia bersama pasangan setulus kasih dalam balutan ikrar cinta setia. Malam makin membawa setiap nikmat pemilik Insan terbuai dalam setiap mimpi indahnya. Sinar rembulan semakin setia penuh senyuman ketulusan menyinar semesta, walau pijaran kedipan cahaya bintang mulai redup serasa lelah ingin menutup pijaran kedipan cahayanya karena makin datang rasa kantuknya.
Dari kejauhan terlihat cahaya lampu kecil terpasang dari setiap rumah, tampak bagai butiran cahaya bintang kecil beratap langit samar gelap menrangi pemukiman Suku Hui. Walau terlihat samar dalam gelap, tapi jelas atap rumah begitu rapi seraya tetap ingin memayungi pemilik rumah dari hawa dingin serta hujan rintik pastinya suatu hari akan datang.
"Bang ini kita di mana?" terasa capek tapi mulut Mumun masih gerutu kesal. Sejak dari siang, dua tangannya selalu bergantian menarik handle koper besar berwarna biru tua. Kesal menahan capek Mumun duduk di depan pintu rumah tidak tahu itu rumah siapa, dua matanya kesal masih sempat melirik pintu tertutup rapat.
"Nih kalau ngak gara-gara Aling nyulik Tedy, saya ngak bakalan ke sini! Kesiksa jadinya saya. Mana dari tadi ngak ada warung," tas koper di dudukin Mumun sambil garuk-garuk kepalanya karena stres atau gatal.
"Ngak tahu ini ada di mana ya?" dua kaki Jaja juga makin ngajak bingung, kadang kekiri, kekanan dan berdiri belakangi Mumun makin kesal. Sesaat dua matanya perhatikan kubah Masjid berwarna emas, yang terlihat berkilau karena diterangi sinar rembulan.
"Mun, gimana ini?" berbalik Jaja hampiri Mumun rasanya udah capek bangat sedikit menyenderkan kepalanya pada pintu rumah. Jaja tahu apa yang sedang di pikirn Mumun, tergurat sedih bercampur kesal. Jaja tahu pikiran Mumun sedang mikirin Tedy, karena walau Mumun bawel tetap dirinya sayang sama Tedy.
"Kita berdoa aja, semoga malam panjang ini lekas siang. Jadi kita bisa nyari Tedy," jongkok Jaja tatap dua mata Mumun kosong kayaknya malas balik tatap wajah Jaja yang bulat, perutnya makin tambun menyundul kedepan, hidung gede, bibir dower dan rambutnya ikal ngak karuan.
"Walau gimanapun, Tedy tetap anak kita Mun. Kita bela-belain susul ke China, buat selamatin Tedy, anak kita," dua tangan Mumun di raih dua tangan Jaja, rasa mesra bibir Jaja kecup dua tangan Mumun.
"Busyet tangan loe bau bangat Mun. Bau asem!" dua tangan Mumun di lepaskan dua tangan Jaja.
"Hihh Abang! Mesra-mesra, tapi ujung-ujungnya nyelah tangan saya bau asem! Jangan gitu dong!" gerutu Mumun kesal.
"Abis tangan loe bau?" cepat beranjak bangun Mumun kesal, Jaja nyengir nyium tangan dan pakaiannya sendiri.
"Ehh iya? Kita berdua'kan belum mandi seharian ini," malu hati Jaja tarik tangan Mumun mulai terpancing rayuan maut Jaja mengelus halus tangan kiri Mumun seraya ingin mengajak menari.