Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #19

Hati Marah, Tapi Wajah Tetap Mencintai

Tergurat panik bercampur cemas terlihat dari tangan kanan Ko Lim saat sedang mencari obat, makin terlihat jelas tersirat di raut wajahnya saat melihat isi kantong obat telah habis. Terdiam berdiri di sertai dua mata berbinar berkaca meraih menahan sekian kerasnya hujaman air mata kesedihan tertahan. Lirikan mata kiri Ko Lim melihat Ayung terbaring berselimutkan, selimut merah beralas ranjang besi dengan tirai kelambu berenda putih.

"Ya Allah, sampai kapan Engkau terlalu begitu sayangnya pada Hambamu ini, sampai segitu dasyatnya terpaan ombak gelombang cobaan yang Engkau berikan," guman sedih dalam hati Ko Lim sudah berdiri di samping ranjang, rasanya keluhan kesedihan Ko Lim tidak terdengar Ayung hanya terlelap dalam tidurnya menahan segala kesakitan sudah sekian lama di deritanya.

"Ko Lim?" hanya berdiri Tedy depan pintu tidak jadi masuk, sontak Tedy merasakan apa yang sedang di rasakan Ko Lim hanya berdiri di depan ranjang sambil pegangi kantong obat isinya sudah habis obat untuk Ayung.

"Ini uang hasil dari kedai," terpaksa Tedy masuk berikan kedalam berdiri di samping Ko Lim. Tidak banyak uang di berikan Tedy sempat di lirik Ko Lim sudah berbalik cepat seka dua matanya walau tidak tampak ada lagi tetesan air mata.

"Taruh saja uangnya di situ," lirikan mata kanan Ko Lim melirik tangan Tedy meletakan sejumlah uang receh dan kertas di atas meja kecil samping ranjang. Tedy sesaat masih berdiri perhatikan wajahnya Ayung makin pucat dan gemetarnya tangan kanan Ko Lim pegang kantong obat.

Hanya berjuta rasa bingung dan kecemasan makin menggurat terarut jelas di wajah Ko Lim cepat beranjak jalan keluar dari dalam kamar, serasa makin tidak kuat untuk menahan derita cobaan hidup. Tangan kanan Tedy sedikit menaiki selimut sedikit menyentuh dagu Ayung, lalu Tedy cepat beranjak jalan keluar dari dalam kamar.

Jupri masih berdiri di depan pintu kamar saat Tedy cepat berjalan kearah pintu luar sudah terbuka lebar. Dua langkah kaki Jupri mengajak ingin berjalan, ingin mengulik apa yang sedang dipikirkan Ko Lim saat itu dirinya sedang berdiri diteras beranda depan rumah.

Tedy serasa makin tidak berani untuk bertanya mengulik hati kesedihan Ko Lim wajahnya sedikit tersenyum saat melihat indahnya sinar bulan menerangi selasar halaman rumah, yang tidak banyak ditumbuhi pepohonan.

Jupri sudah berdiri di belakang Tedy kodekan tangan kanannya di lambaikan pada Jupri tahu, jika mereka berdua ada niat besok pagi untuk pergi dari rumah Ko Lim. Tapi karena keadaan kondisi Ayung, harus membuat Jupri dan Tedy mengurungkan niatnya untuk pergi.

Lihat selengkapnya