"Bang, Abang gimana nasibnya Tedy? Pasti Tedy lagi di siksa sama Aling. Pasti Tedy ngak di kasih makan dan minum," isak tangis bersuara kecil, karena tidak enak di dengar Rasyid terlihat di ruangan tengah bersiap-siap akan segera buka kedai.
"Mun, loe bisa diam ngak. Jangan mewek aja kenapa. Dari malam tuh mata loe bengul kebanyakan loe peres tuh mata loe," menahan kesel Jaja cepat tutup pintu kamar melempar senyum menahan rasa malu sama Rasyid sedikit meliriknya.
"Pokoknya loe tenang aja, Mun. Pasti kita cari Tedy," ikut terpancing emosi dari raut wajah Jaja bingung cemas juga mau cari kemana Tedy.
"Benar ya Bang, habis ini kita cari Tedy. Saya yakin Tedy emang di culik sama Aling." peluk erat Mumun menahan sedih sambil tangan kanan Jaja mengelus rambutnya yang ikal.
"Tok, tok ..." kedengaran suara ketukan pintu dua kali dari luar. Karena tidak ada jawaban pintu terpaksa didorong sedikit terbuka.
"Maaf?" terkejut Rasyid saat melihat Jaja masih memeluk Mumun cepat dorong Jaja terjatuh ngangkang kelihatan kolornya.
Cepat Jaja beranjak bangun sambil kencengin kain sarung kesayangannya dengan dua tangan. "Sid, Rasyid loe jangan punya pikiran macam-macam. Gua ngak sejelek apa yang loe lihat tadi!" Jaja tuduh dan tahu Rasyid berpikiran jelek padanya.
"Bini gua tadi sedih aja, ya terus dia memeluk gua. Pasti pikiran loe, gua sama bini gua. Gini-gini ya?" dua telapak tangan Jaja di satukan kuncup. "Loe kok mesem-mesem? Uhhh pikiran loe benaran ngak jelas nih, Sid!" makin nuduh ngak jelas Jaja mulai tersinggung.
"Mun hayoo. Kita pergi aja dari sini. Gua tersungging sama pikirannya Rasyid, otaknya dia mikirin kita tadi lagi gituan!" sambil tarik tangan kiri Mumun masih setia dengan dasternya.
"Lagian loe juga, Mun. Pake nangis segala terus memeluk gua. Ya orang ngelihatnya jadi macam-macam pikirannya!" cepat pakaian di masukin kedalam koper.
"Lagian siapa yang nuduh Bapak Ibu lagi gitu?" sahut Rasyid sudah siap-siap akan jalan.
"Lah loe mikirin apa ngelihat gua tadi sama bini gua tadi di dalam kamar?" langkah Rasyid terhadang Jaja sambil kencengin kain sarung dengan dua tangannya.
"Saya lihat Bapak Ibu, kayak di sinetron. Jadi lucu tahu. Aktor dan akrtisnya lagi nangis sambil pelukan gitu, ya persis kayak tadi," cengar-cengir malu hati Jaja tepuk pundak kanan Rasyid melirik Mumun masih terduduk di atas ranjang dalam kamar.
"Maaf Sid, pikiran gua lagi kalut. Gua sama bini gua semalam ngak bisa tidur, mikirin anak gua," mulai memelas Jaja melirik Mumun terduduk di atas ranjang dalam kamar.