Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #21

Berharap Cinta Setengah Hati

Baru dua hari Tedy dan Jupri berada di pemukiman Suku Hui, mereka berdua sudah bisa merasakan kehidupan damai, tentram sebegitu ramahnya terpancar tersirat dari raut wajah setiap warganya yang keseluruhan memeluk Agama Islam. Suku Hui adalah salah satu suku dari lima suku terbesar yang ada pada Republik Rakyat China. Suku Hui tetap memiliki perayaan terpenting dalam kurun sepanjang tahunnya, yaitu tiga perayaan Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi Muhammad.

Tata kehidupan Suku Hui, sungguh menjungjung tinggi nilai Islam termasuk dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Dimana Suku Hui begitu penuh toleransi dengan warga sekitar, di mana budaya saling membantu dan gotong royong selalu di utamakan.

Siang makin banyak pengunjung datang, ingin melepas dahaga haus minum teh khas Ningxia, teh yang sudah di kenal ratusan tahun lalu. Di sebut teh Ningxia, delapan harta karun, karena di racik dengan delapan bahan pilihan rempah termasuk teh. Teh Ningxia sangat bagus ketika dikonsumsi untuk meningkatkan sirkulasi darah, menambah energi dan meningkatkan kekebalan tubuh.

"Duh makin siang, makin banyak aja yang datang, Ted. Padahal cuman mau minum secangkir teh doang," gerutu Jupri mulai kewalahan melayani pengunjung datang kebanyakan usia mereka rata-rata menjelang usia senja.

"Ingat Jup, kita tetap bantu Ko Lim," dua tangan Tedy mulai mahir meracik mencampur semua bahan teh, walau terkadang dua matanya masih melirik buku resep. "Iya, iya Tedy." jawab rada ngak senang Jupri sambil meletakan secangkir teh pada atas meja pesanan kakek tua dan mengambil cangkir kosong bekas pengunjung minum.

"Xu yao bang zhu?" {perlu bantuan?} sudah berdiri lelaki setengah baya menawarkan bantuan pada Jupri. "Xie xie" {terima kasih} sahut Jupri dengan senyuman ramahnya kayak terpaksa sambil persilahkan duduk lelaki bertubuh tambun setengah baya tahu, jika Jupri dan Tedy sedang repot sekali. Siang itu sepanjang jalan kedai ramai sekali, hampir didepan kedai banyak motor dan mobil terparkir padat.

Maklum hari itu, adalah hari sabtu, banyak pengujung dari luar kota sehabis meraka tamasya kunjungi tempat rekreasi, mereka sengaja mampir kebanyak kedai, banyak menyediakan aneka makanan, minuman dan souverni. Ada juga pengunjung yang hanya berdiri di samping mobil dan depan kedai hanya untuk melepas lelah sambil bercengkeramah.

"Ted, loe kenapa?" Jupri sudah berdiri disamping Tedy dua matanya cuman kosong diam seperti sedang terbayang sesuatu.

Lihat selengkapnya