Makin kuning bersilau ketika sinar rembulan menerangi kubah Najia Great Mosque, Yinchuan. Warna emas tampil dominan di sertai warna putih makin terasa terang menyelimuti bangunan seluruh Masjid. Seraya sinar rembulan makin betah tak'kan ingin beranjak pergi, sampai segitu setia ingin terus menyinari rumah, Rumah Allah.
Tampil anggun nan cantik wajah Aling, raut wajahnya makin bercahaya saat rembulan makin centil mencolek polesan cantik wajahnya dengan paduan kilau cahaya pesona hijab warna putihnya. Pujian demi pujian di sertai ketulusan terlontar dari bibir Rasyid, makin memancing hasrat hati ingin memiliki seorang gadis, yang selama ini menjadi dambaannya. Sepasang Insan terduduk di kursi saling berhadapan, tetapi masih tersekat meja bulat dengan di saksikan betapa megahnya Najia Great Mosque.
Hanya tatapan dua mata saling memandang, tidak ada rasa berani untuk saling mengukapkan rasa cinta yang ada. Terlebih Rasyid masih menunggu setia jawaban dari Aling apakah cinta Rasyid akan di tolak atau di terima, hanya bibir kecil Aling akan menjawabnya. Sampai malam itu, harapan yang dinantikan Rasyid masih menggantung perasaan hatinya, seperti menanti buah matang didahan pohonnya, kapan buah itu matang. Selalu ada ketakutan dalam hati Rasyid menanti harapan jawaban cintanya, takut akan dipetik orang.
Beratap langit sendu kilauan sinar rembulan dengan kedipan cahaya pijaran sejuta bintang masih saling setia berkedipan, seakan ingin mengasih kode kapan Aling memberikan jawaban pasti pada Rasyid. Berapa kali tangan kanan Rasyid ingin menyentuh dua belahan tangan hati calon belahan jiwanya tidak berani karena masih ada rasa keraguan.
"Sampai kapan gua harus menunggu jawaban dari loe, Ling?" guman dalam hati Rasyid mengurungkan tangan kanannya tidak jadi ingin menyentuh dua tangan dan akan mengecupnya bila telah mendapatkan jawaban kepastian.
Beranjak bangun sesaat Aling berdiri, dua langkah kakinya mengajak melangkah ingin mendekati selasar halaman Masjid sebegitu senangnya dengan mendengar dua derap langkah Aling semakin mendekati.
"Ling" terhenti langkah Aling tetapi tiba-tiba dua matanya tidak tahan untuk menahan deraian air mata. Tiba-tiba Aling berlari cepat meninggalkan Rasyid seraya tidak sanggup mengejar Aling, seakan dua kaki Rasyid terbelengu rantai berat harapan yang belum pasti.
Aling cepat naik motor, dua tangannya sudah siap pegang stang kiri dan kanan. Motor seketika berjalan pelan walau tetesan deraian air jatuh basahi pipinya.
"Ling?" sesaat Rasyid tatap kesedihan wajah Aling seakan tidak bisa menyembunyikan kebimbangan hatinya, bila dirinya tidak ingin bertambah dosa saat berada di Rumah Allah, bila hatinya tidak mau mengingkari setia cinta dengan Tedy dan Aling juga tidak mau menyakiti perasan hati Rasyid.
"Maaf Ras, gua ngak bisa," tegas jawaban sambil tangan kanan Aling menarik handle gas motor berjalan.
Terdiam serasa terpaku paso besar dua kaki Rasyid berat tidak bisa lagi mengejar harapan kepastian cintanya pada Aling. Sinar rembulan dan kedipan bintang tahu diri tidak saling berkedip lagi, karena ikut prihatin dengan wajah kesedihan Rasyid, bila saja sinar rembulan dan kedipan bintang bisa bicara, mungkin sinar rembulan dan kedipan bintang akan mengatakan pada Rasyid.
"Kejarlah Aling, Ras." lantas dua lutut kaki Rasyid seraya tidak kuat menahan beban kesedihan cinta yang ternyata dipastikan tidak akan memihak padanya. Hanya duduk di selasar halaman Masjid, wajahnya seakan sedih menatap wajah Masjid akan tetap tersenyum sepanjang masa.
"Maafin gua, Ras. Gua ngak bisa. Gua ngak bisa nerima loe," makin kencang handle gas motor di tarik dan motor makin kencang berjalan, seketika motor oleng.