Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #23

Pencarian Cinta Yang Tidak Berujung

"Gua masih ingat betul alamat yang ditulis sama Ci Cinwa, alamatnya ada di daerah ini, Ted. Tapi di mana ya?" terdiam berpikir sambil perhatikan pintu rumah kesemuanya tertutup rapat. Pintu rumah seraya diam membisu, seakan ingin menyembunyikan di mana alamat rumah yang sedang dicari Tedy dan Jupri.

"Loe gimana Jup, katanya masih ingat alamat rumahnya Aling?" hanya sepi jalan berselimut gelap samar saat Tedy berdiri dan Jupri berdiri di tengah jalan.

"Gua yakin ini alamatnya ngak jauh dari sini," yakinkan Tedy, dua mata Jupri perhatikan setiap pintu rumah masih tertutup rapat seperti akan menjawab, bila bukan rumah yang sedang di cari oleh mereka berdua.

"Jup itu ada orang, yuk cepat kita tanya aja. Kali aja dia tahu." cepat Tedy dan Jupri berjalan, jarak antara Jupri dan Tedy dengan orang yang sedang duduk tidak terlalu jauh. Sontak cepat Aling beranjak bangun berdiri sesaat perhatikan dalam gelap samar ada dua lelaki yang akan mendekati. Cepat Aling tutup pintu, pikrian Aling rada takut bila dua lelaki itu orang jahat.

"Ya tuh orang malahan nutup pintu, Jup," makin bingung Tedy tidak tahu lagi harus bertanya sama siapa.

"Lagian tuh orang pake nutup pintu lagi. Takut kali dia sama kita, takut kita orang jahat, Ted," gerutu Jupri tangan kanannya sudah mengepal akan ketuk pintu tidak jadi.

"Iya, dia takut sama muka loe. Muka loe kayak bajaj," ledek Tedy makin bingung lalu terduduk sandaran pintu.

"Kemana lagi Ted, kita harus cari Aling?" kata Jupri duduk rada depanan di samping Tedy terduduk sandaran pintu.

"Kenapa Babeh sama Emaknya Tedy ada di sini? Terus, tadi kalau gua ngak salah dengar. Balikin Tedy? Katanya gua yang nyulik Tedy?" tergurat makin bingung Aling yang ternyata duduk sandaran di balik pintu, persis di depan pintu Tedy terduduk.

"Gua kangen sama Aling," guman dalam hati Tedy sambil kepalanya cepat di sandarkan pada pintu.

"Gua juga kangen sama loe, Tedy" kepala Aling juga di sandarin pada pintu. Wajah mereka berdua saling tersenyum menatap langit terang penuh dengan kedipan cahaya pijaran masih terselimuti rembulan dengan sinar terangnya.

Tapi di sebelah tembok rumah, malahan Rasyid terduduk sedih sandaran tembok, yang memisahkan rumah Yungmi dan rumah tempat tinggal Rasyid. Hanya kesedihan makin membungkus wajah tampan Rasyid tiada lagi harapan cintanya terjawab. Walau dirinya tidak mengapa akan di berikan setengah cintanya dari Aling.

Lihat selengkapnya