Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #24

Selamat Jalan Cinta

Diam tanpa kata, hanya gerak dan derap langkah juga tidak terdengar. Membisu bibir untuk berkata seraya berat terucap, hanya pandangan dua mata tidak jelas seakan menyimpan diam dalam hati. Kebetetulan siang itu kedai "Rindu Menu Indonesia" sedang sepi, mungkin saja rasanya malas pengunjung saat akan makan melihat dua wajah saling diam-diaman seakan sedang marahan menyimpan amarah dalam hati.

"Loe kenapa Ling?" beranikan diri Rasyid menegur duluan tapi cuman diam ngak ada jawaban dari mulut Aling. Tentu makin terpancing emosi Rasyid dan tahu diri, jika cintanya ditolak tapi tak semestinya Aling nyuekin Rasyid terus sejak dari tadi.

"Kedai sepi, pengunjung ngak ada yang mau makan di kedai ini. Mungkin dia tahu, kalau kita berdua lagi diam-diaman, mungkin mereka anggap kita lagi marahan," serbet dilempar kearah meja tepatnya di depan muka Aling.

"Siapa yang lagi marahan? Lagian gua ngak lagi marahan sama loe, Ras," serbet balik di lempar kewajah Rasyid karena sakig kesalnya Aling.

"Gua ngerti Ling sekarang, kenapa loe ngak mau nerima cinta gua? Karena gua cuman orang suruhan Mama loe'kan? Emang ngak pantas loe nerima gua jadi pacar loe," asal tuding Rasyid tapi masih ada rasa kasihan melirik Aling kembali terduduk berhadapan meja kasir.

"Kenapa loe datang dalam kehidupan gua, Ras. Di saat gua sedang dalam pelarian cinta gua dari seseorang yang saat ini masih ada dalam hati gua. Awalnya gua mau ninggalan cinta gua. Gua mau ucapain selamat tinggal cinta sama seseorang yang selama ini selalu ada dalam hati gua. Tapi loe datang, loe coba terus mengulik perasaan hati gua, agar gua jatuh cinta sama loe! Sempat gua ngerasa loe akan gantiin dia, tapi tetap aja hati gua masih mencintai dia, Ras!" guman dalam hati sedih mendaratkan wajahnya Aling pada meja terbasah karena tertetesi air mata kesedihan.

"Gua ngak bisa terima loe, Ras. Maaf'in gua. Gua masih cinta sama Tedy," terdiam mikir Rasyid saat Aling menyebut nama Tedy.

"Ling," tangan kanan Rasyid membelai rambut Aling seraya terdiam terpancing sentuhan hangat lembut tangan kanan Rasyid.

"Rasyid?" ucap terpaksa bibir Aling.

"Ted, loe?" Rasyid menoleh kedatangan Tedy sudah berdiri di sampingnya. Wajah Aling didongakan cepat seka air matanya.

"Aling? Loe jadi benaran sama?" dalam pikiran Tedy sudah tuduh Aling berpacaran dengan Rasyid.

Lihat selengkapnya