Seakan malam masih terlalu dini untuk cepat berganti siang, karena malam baru saja datang membawa kesedihan terberat dalam terbaringnya Aling di atas ranjang. Jikalau saja dua mata Aling seperti lautan luas, tentu saja ranjang yang sehari-harinya jadi tempat pembaringanya akan banjir dengan deraian air mata tiada terhenti menetes jatuh.
Wajahnya jelas terlihat makin sembab basah, dua matanya makin tidak tertahan terus kucurkan tetesan air mata berkilau tampak jelas terlihat dari dua matanya. Sprei berwarna merah bercorak gambar Great Wall terasa makin tidak karuan bentuknya, terlihat makin acak-acakan. Bantal kepala dan guling cuman tergeletak jatuh di lantai serasa sedih karena tidak bisa memeluk hangatnya tubuh Aling.
Hanya sedih masih menggelayuti pikiran rasa bersalahnya Aling terus menyalahi diri sendiri, kenapa hatinya sampai tersangkut kail yang di tebar Rasyid. Mungkin saja jika tidak munculnya Tedy, maka Aling akan menerima kail cinta yang di tebar Rasyid.
"Gua berat buat nentuin sikap gua dan gua ngak bisa terima Rasyid. Pastinya Rasyid marah dan kecewa sama gua. Dan kenapa ngak sejak dari awal aja gua harus berkata jujur aja sama Rasyid, jika gua udah ada Tedy," seraya berada dalam tahan berjeruji, dua tangan Aling berpegangan jeruji jendela terlihat dari luar jendela, dirinya hanya berdiri berwajah penuh sesal berkepanjangan. Piyama warna merah tua, dengan garis hitam pada kerahnya yang melingkari leher malam itu di pakainya untuk menyelimuti tubuhnya dari hawa dingin.
"Tapi sumpah, hati gua ngak bisa di bohongin, kalau gua juga jatuh cinta sama Rasyid. Selama gua ada di sini, kesejukan dan kenyaman udah gua dapati saat bersama dengan Rasyid. Tapi kenapa? Walau gua cinta sama Tedy dan saat gua bersama Tedy, yang gua rasain cuman ada rasa ketakutan dan rasa bimbang karena tembok restu yang tebal selalu menghadang gua. Gua sadar Babeh sama Emaknya Tedy ngak suka sama gua. Padahal kalau mereka tahu gua?" langsung terdiam makin sedih Aling melirik pintu kamar terbuka sedikit, tampak bayangan Yungmi masuk kedalam.
"Ling" cepat Aling menghampiri dan memeluk Yungmi tahu apa yang sedang di rasakan Aling malam itu. Raut wajah Yungmi ikut terpancing sedih tapi masih bisa di tahannya, begitu erat penuh ketulusan kasih sayang Yungmi sebegitu eratnya makin memeluk Aling. Perlahan dua tangan Yungmi melepaskan pelukannya pada Aling, Yungmi terduduk di atas ranjang. Tersenyum Yungmi seakan tahu Aling diminta cepat terduduk di samping Yungmi.
"Mama tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Ling. Terasa berat memang tetukan cinta yang hanya ada satu dalam hati kamu," telunjuk tangan kiri Yungmi tunjuk dada Aling menahan sedihnya.
"Begitu juga cinta Mama terhadap Papa, serasa berat tidak akan tergantikn sampai kapanpun, walau Papamu sekarang sudah tiada," tangan kiri Yungmi menyeka pipi kiri basah Aling.
"Mama mau kamu tentukan pilihan, yang hanya satu untuk hatimu, Ling. Berat terasa memang tentukan antara Tedy atau Rasyid? Satu untuk di hatimu, Ling." Yungmi diam-diam sudah mendengar keluh kesedihan Aling, beranjak bangun Yungmi awalnya berat tidak mau ikut andil dalam masalah cintanya Aling. Tapi hatinya Yungmi ingin sekali Aling tetap memilih Tedy.
Makin bingung bercampur sejuta kebimbangan terpancar dari raut wajah Aling dua matanya masih berkilau karena tetesan air mata. Yungmi sedikit melepmar senyum harapan pada Aling, jika bisa Aling tetap memilih Tedy. Pintu tertutup, kini hanya kesepian makin membalut kesedihan Aling dalam kesendirian, bila dirinya hanya harus memiliki satu cinta untuk di hatinya. Apakah Rasyid atau Tedy?.