Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #26

Rindu Membawa Sengsara

Siang terasa cerah bertaburan awan putih dengan di selimuti langit biru, terasa sejuk hawa sekitar perbukitan hijau walau ada juga sebagian yang terlihat gersang, tapi tetap saja tidak mengurangi lukisan paling terindah karya, Allah SWT . Liukan panjang seperti ular, terlihat dari atas langit begitu hebatnya Dinasti Ming dan Han membangun Great Wall, atau Tembok China terbentang luas memanjang kokoh berdiri. Banyak wisatawan berkunjung datang dari banyak Negara hanya untuk melihat satu keajiban dunia yang ada di Negeri Tirai Bambu, China.

"Bang lihat itu, bagus bangat ya," rasa kagum terpancar dari raut wajah Mumun bercampur norak dan tersirat makin bahagia. Mantel tebal di pakainya, dengan tetap pakai daster bersepatu boat hitam. Masih berjuntai tergerai tergulung berapa roll rambut warna merah muda, terasa masa bodoh dengan banyak orang yang memperhatikan dirinya, yang penting Mumun happy. Serasa Mumun lupa dengan misinya untuk mencari Tedy berada di mana.

Tidak pada Jaja, sejak dari tadi raut wajahnya cuman bengong kebanyakan ngelamun, seperti bajaj kebanyakan nongkrong berapa hari ngak jalan. Pastinya bajaj itu ngak dipanasin mesinnya, sama halnya kayak pikiran Jaja terus di gelayuti pikiran Tedy, anaknya yang berada di mana.

Tas koper kecil sejak dari tadi cuman didudukin Jaja, rada melesek tas koper menahan bobot seperti terduduki gajah bengkak yang lagi bunting. Tapi kali ini Jaja berpakain rapi, tidak pakai kain sarung dan kaos singlet. Dua matanya dilapisi kaca mata hitam, walau dua matanya tersentuh sedih mikirian Tedy. Mantel tebal warna hitam dan celana bahan serta sepatu boat warna biru menyelimuti seluruh tubuhnya siang itu.

"Bang ...!" congor Mumun memang ngak di mana-mana selalu sama. Jaja terkejut tahan malu sambil melempar senyuman tutupin rasa malunya saat wisatawan terkejut lewat perhatiin Mumun makin masa bodoh.

"Mun mulut loe. Uhh!" menahan marah Jaja cepat tarik handle tas koper lalu berjalan. "Lagian kenapa dari tadi cuman bengong aja, dari tadi kayak kambing lagi nyantai. Nikmatin dong Bang, kita'kan lagi ada di Tembok China. Tuh lihat indah bangat'kan pemadangannya?" masa bodoh Jaja cuman diam saat telunjuk jari tangan kanan Mumun tunjuk perbukitan di hadapannya dari kejauahan terlihat hamparan perbukitan terbentang hijau.

"Dari tadi gua juga lihat," dua matanya belo Jaja di dekatin pada wajah Mumun melirik kaca mata hitam dilepasin, dipegang tangan kiri Jaja.

"Itu muka banjir gitu, Bang? Kayak kebanjiran kuah sayur asem," ledek Mumun tapi sadar ngerasa ngak enak lihat Jaja cuman diam berdiri berhadapan peyangganya tembok terbuat dari tumpukan bebatuan.

"Gua laki mikirin Tedy, anak gua," makin terenyuh sedih Jaja terduduk senderan tembok, masa bodoh di perhatiin kasak-kusuk wisatawan melihat Jaja.

"Saya juga sama Bang, rindu kangen sama Tedy. Tapi kita mau nyari Tedy di mana?" makin banyak wisatawan lewat tersenyum lihat tingkah aneh mengundang tawa saat Mumun terduduk disamping Jaja.

"Krucuk" suara perut Mumun kelaparan.

"Bang perut saya belum makan nih," mesem-mesem ngak karuan Mumun beranjak bangun cepat diikuti Jaja bangun juga.

"Bikin susah aja loe Mun. Nih lagi tas koper pake loe bawa-bawa juga," gerutu Jaja ngak peduli Mumun kelaparan pegangi perutnya.

Lihat selengkapnya