Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #27

Mudah Percaya, Bikin Sakit Perut

Aling masih terbaring tidur, padahal sinar matahari sejak dari tadi sudah masuk lewati celah jendela karena sangat rindunya pada Aling. Sampai-sampai sinar matahari tetap ngak mau beranjak pergi, tetap diam menyinari wajah Aling makin terlihat cantik. Seperti makin tidak karuan acak-acakan dan bantal guling serta bantal kepala masih tetap dicuekin sejak dari semalam cuman tergeletak di lantai saja samping ranjang.

Hiasan foto kecil Aling diapit Yungmi dan Aliong berlatar belakang rumah lamanya masih setia selalu menemani hari-hari Aling terpampang didinding tembok kamar. Tidak banyak perabotan yang ada di dalam kamar, walau Yungmi banyak uang, dirinya mendidik Aling harus hemat dan harus hidup serba prihatin.

Terlebih misi Aling dan Yungmi hanya satu, yaitu mereka berdua masih ingin mengumpulkan banyak uang, ingin sekali menebus rumah kenangan lamanya saat masih bersama Aliong, rumah yang kini sudah di kuasai Aping.

"Waduw gawat gua kesiangan," terjaga bangun Aling dua tangannya sambil mengucek dua matanya masih terlihat sepat mengantuk disertai menguap berapa kali mulutnya mengangah lebar. Saat dua kaki Aling sudah akan mengajak turun tapi sepertinya, dua kakinya malas menyentuh lantai sambil Aling melirik bantal kepala dan guling sebegitu berharapnya ingin dipeluk hangat Aling.

"Malas hari ini gua kekedai. Lagian badan gua juga ngak enak bangat," terdiam terduduk bersila, layaknya orang sedang bertapa tapi diatas ranjang.

Tersenyum bercampur sedih Aling tatap foto dirinya di apit Aliong dan Yungmi, saat Aling masih kecil.

"Gua harus belajar melupakan Rasyid. Tapi apa gua harus menerima Tedy?" guman dalam hati Aling cepat turun dari ranjang, lalu di bungkukkan badannya mengambil bantal guling dan kepala langsung di lemparkan saja keatas ranjang.

"Ma?" masuk Yungmi kedalam menghampiri Aling sedikit terkejut.

"Maaf Ma." ada sedikit rada takut Aling karena malas buka kedai.

"Sudah kamu ngak perlu kedai hari ini. Biarkan Rasyid saja yang buka kedai," Aling ngerasa tidak enak hati karena sudah bangun kesiangan, tapi Yungmi memakluminya.

"Ling, Ko Lim mau ketemu kamu tuh," ucap Yungmi sambil melirik keluar pintu kamar terbuka sedikit.

"Ko Lim?" cuman melirik kearah pintu terbuka Yungmi tapi bikin rada terkejut Aling bila dirinya sudah di tunggu Ko Lim.

"Ma, ngapain Ko Lim mau ketemu aku?" tahan tangan kanan Yungmi cuman tersenyum saja, seperti ada sesuatu yang dirahasiakan Yungmi pada Aling.

Lihat selengkapnya