Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #28

Rasa Sayur Asem, Tetap Sama Asem

"Ling, loe ngak bisa ninggalin gua begini aja. Loe tahu kalau gua masih sayang cinta sama loe. Sampai-sampai gua datang jauh-jauh dari Jakarta, datang KeChina cuman buat ngejar loe. Ngejar cinta kita berdua," dua pasang mata menatap sendu wajah Masjid yang jadi kebanggan Suku Hui, hanya terdiam berdiri megah di hadapan Aling dan Tedy. Tedy cepat berdiri di hadapan Aling serasa tidak mau menatap wajah Tedy cepat menyentuh pipi kiri Aling terdiam.

Tatapan sedih dua mata Aling merasa bersalah terus berusaha menatap dua mata Tedy seakan mengumbarkan rasa keyakinannya pada Aling.

"Gua ngak peduli Ling dengan segalanya apapun yang akan merengut kebahagian cinta gua sama loe. Gua, ngak peduli dengan sikap keras Babeh sama Emak gua, yang tetap ngak mau nerima loe." makin meyakinkan Aling, Tedy meraih dua tangan Aling mulai terpancing emosinya saat dua tangannya di kecup mesra bibir kecil Tedy beratap kumis tepis.

"Pasti semua ada jalannya, Ling tuk kita berdua meraih surga cinta. Gua yakin cinta kita akan berakhir indah dan pastinya loe sama gua akan meriah mimpi bahagia itu. Loe sama gua bisa cepat menikah," cepat dua tangan Aling di tarik saat akan sampai lagi di bibir kecil Tedy.

"Gua ngak yakin, Ted." kilah Aling kurang yakin saat Tedy melirik senyum lagi pada wajah Masjid seraya ikut tersenyum sendu dengan apa yang sedang di lihatnya, sudah berdiri sepasang Insan yang sedang terbelengu jangkar berat restu yang karam di dasar lautan luas.

"Rasanya sekarang hati ini gua mulai terbagi jadi dua bagian cinta. Saat loe ngak ada disisi gua, hati gua ngerasa bahagia bangat dengan seseorang yang bisa kasih gua harapan kepastian cintanya. Tapi hati gua ngak bisa dibohongin Ted, perasaan hati gua ini masih sayang dan mencintai loe. Tapi sayang dan cinta loe selalu terhalang ketidak sukaan Babeh sama Emak loe, Ted," sesaat dua mata Aling melirik pada kubah megah Masjid berkilau kuning saat terkena colekan sinar matahari.

"Walau gua sayang dan mencintai loe, Ted. Tapi tetap ketidak sukaan Babeh dan Emak loe makin bikin hati gua luntur, seperti lukisan langit biru itu yang cerah sebentar lagi akan pudar karena akan bergantinya malam," sesaat tatapan sedih dua mata Aling mundur lalu pergi meninggalkan Tedy berdiri sendiri sepi di selasar halaman Masjid luas, seluas hati Tedy tetap akan mencintai Aling.

"Ngak Ling. Cinta loe ngak pernah luntur, karena gua akan selalu ada dalam hati loe. Walau siang itu selalu tergantikan dengan datangnya malam." hanya berdiri seraya Tedy ingin mengejar dan mengusik kesedihan Aling. Tetapi Tedy yakin dalam hatinya Aling, hanya ada satu cinta yang terbenam dalam relung jauh hatinya, yaitu hanya Tedy.

"Walau di China, rasa sayur asem tetap sama kuahnya tetap asem. Emang enak masakan loe, Sid," puji Jaja makin terlihat kedepan perutnya kekenyangan kayak moncong bajaj.

"Benaran Bang, nih sayur asem rasanya enak bangat. Sid loe yang masak?" sambung Mumun kenyang sudah terasa ngak lapar lagi perutnya sambil muji Rasyid cuman terduduk gemetar ketakutan kalau-kalau Muksin terjaga bangun tiba-tiba. Untung saja Muksin tidurnya kehalangan meja kasir dari duduknya Jaja dan Mumun membelakangi meja kasir.

"Saya cuman kerja doang. Yang masak, yang punya kedai ini sebentar lagi mungkin datang orangnya," jawab Rasyid beranjak bangun makin gemetaran makin ketakutan saat Jaja menoleh.

"Nih kalau benaran yang masak gadis yang punya kedai ini, ngak apa-apa deh gua jadiin mantu," beranjak bangun Jaja kedua matanya tegasin melihat tas koper setengah tergeletak di dalam bawah kolong meja kasir.

Lihat selengkapnya