Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #30

Loe Mau'kan Jadi Imam Gua?

Deraian air mata jatuh makin menetesi basah pipi cantik Aling bersujud keningnya menyentuh tulus sazadah memanjang berhadapan Kiblat. Wajah cantiknya makin terbalut dengan mukenah merah muda membaluti lingkar wajah dan kepalanya, terlihat makin cantik wajahnya walau basah semakin sembab makin tidak terbendung menahan rintik air mata makin jatuh basahi pipinya.

Langit semakin biru, semakin cerah dengan awan putih seraya ikut bersujud mengadu padaNya, ikut merasa bahagia atas apa yang sedang di lakukan Aling siang itu di dalam Masjid megah, Masjid yang jadi kebanggaan Suku Hui. Interior mewah mengisi bagian dalam Masjid, seraya naik karpet terbang menghiasi seluruh pelataran lantai Masjid yang berlantai marmer. Bangunan dalam Masjid sebegitu indahnya terlihat plapon seraya langit cerah berada dalam Masjid, dengan di topang banyak tiang-tiang kokoh berdiri.

"Ya Allah, sampai kapan cinta ini selalu terhalang tembok restu terus menghalangi rasa cinta ini. Sebegitu masih panjang'kah duri cinta semakin saya rasa'kan? Rasanya saya tidak kuat untuk tetap berada dijalur cinta, saat ini saya jalani, Ya Allah. Hati ini makin ragu dengan cinta, yang selama ini saya jalani, tapi tetap hati ini tidak bisa lari dari kenyaatan cinta yang telah membelengu hati saya sekian lama ini." dua tangan Aling seraya memohon pada Allah, dengan di sirtai rintik tetesan air mata makin basahi pipinya.

Diam-diam di nobalik saf barisan paling depan, cuman tersekat tirai kain hijau panjang membentang sampai ujung kiri kanan sudut Masjid. Terduduk sedih Rasyid sejak dari tadi sudah menguping apa yang sedang di ungkapkan dalam doanya Aling. Rasyid serasa berat untuk beranjak bangun, untuk ingin kembali mengutarakan cintanya pada Aling, bila Rasyid tahu bila cintanya Aling hanya untuk Tedy.

"Ling" akhirnya dua kaki Rasyid berusaha tegar menopang kepasrahannya melirik tersenyum perhatikan Aling.

Aling cepat beranjak bangun, cepat Rasyid akan mengejar dan menghadang langkah kecil jalan Aling masih kenakan mukenah merah muda.

"Berat mengambil ketulusan dalam keputusan hati gua untuk nerima loe, Ras. Gua harap loe bisa narik lagi kail cinta yang pernah loe tebar dalam hati gua," sedih Aling berjalan keluar susuri karpet seraya seperti terbang luas terbentang luas, semakin pasrah dirinya di injak bagi Insan siapa saja ingin makin dekatkan diri padaNya.

"Walau sulit bagi gua untuk menarik lagi kail cinta, yang udah gua tebar tersangkut pada hati loe, Ling. Tidak mengapa kail, yang udah gua tebar dan tersangkut di nohati loe tetap bersemayam saja dalam hati loe dan bisa loe kenang selamanya, walau hati loe sudah terjerat dengan kail cinta lainnya. Gua pasrah menerima keputusan loe, Ling. Walau berat keputusan ini gua ambil, tapi sesungguh ini keputusan gua tulus loe kembali bersama dengan Tedy." seakan bibirnya berat untuk menjawab, Rasyid hanya tersenyum dengan derain kesedihan dengan jawaban Aling makin mantap melangkah keluar tinggalkan Rasyid berdiri sendiri di dalam masjid.

"Uhhh! Makin emosi aja gua sama Aling. Kalau ketangkap gua gibeng tuh anak! Gua jadi jadiin perkedel!" gerutu Jaja nyium pakaiannya bau sampah.

"Bang gimana kita mau Sholat Ashar? Pakaian kita bau bangat nih," endus bau ngak sedap dari mantel Mumun.

"Kita ambil wudhu dulu di Masjid itu, Mun," baru berapa langkah Jaja dan Mumun berjalan terhenti rada bingung melihat Aling keluar dari dalam Masjid.

"Mun itu'kan?" tunjuk Jaja.

Lihat selengkapnya