Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #1

Prolog

“JANGAN LARI! BERHENTI LO!” pekik Always kencang. Langkahnya kian cepat, mengejar orang berjaket hitam di depannya.

Orang yang mengenakan masker dengan bersembunyi di balik hoodie itu mendengkus kesal ketika melihat sekilas ke belakang dan mengetahui jika jaraknya dengan Always sudah cukup dekat.

“Sial!” Orang berjaket hitam itu langsung menambah kecepatan pada larinya, sehingga membuat deru napasnya kian memburu. Harapannya saat ini, ialah agar rapat orang tua murid segera selesai. Namun sialnya, rapat tersebut masih akan berakhir sekitar lima belas menit lagi.

Always mengepalkan kedua tangannya ketika melihat orang itu menuruni anak-anak tangga. Ia pun menambah kecepatan pada larinya dan turut menuruni anak-anak tangga dengan cepat, hingga tak sadar jika telah melangkahi gundakan dua anak tangga sekaligus.

Orang itu merasa kebingungan saat menemukan persimpangan jalan di koridor depannya. Ke manakah arah yang harus ia tempuh sekarang? Ia celingukan. Namun, segera berbelok ke arah kiri setelah sampai di lantai dasar. Ia kembali menoleh sekilas ke belakang dan mengumpat kesal saat tahu Always masih mengejarnya.

Namun, tak lama kemudian, orang itu menyeringai lebar. Dewi fortuna masih berpihak kepadanya. Kini, kedua netranya mendapati kerumunan para orang tua murid yang baru saja keluar dari ruang OSIS. Tanpa buang waktu, ia mempercepat larinya dan langsung masuk ke dalam kerumunan para ibu-ibu di hadapannya.

Lihat selengkapnya