Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #2

1 - Burung Merak

"PEMIRSA. Tercatat sepekan terakhir di Kota Jakarta, rentetan kasus kriminalitas yang didominasi pencurian cukup meningkat. Mulai dari pencurian di sebuah mini market dan beberapa percobaan pembobolan toko sembako. Dengan rentetan kejadian ini. Kombespol Adam selaku Satreskrim Polri meminta warga Kota Jakarta untuk tetap waspada."

IDN News, 2014

…

9:23 AM

SESEORANG berjaket hitam menyusup masuk ke dalam kelas yang kosong. Langkahnya surut perlahan menuju ke kursi nomor empat di dekat dinding sebelah kiri, yang merupakan milik Arvin Pratama–ketua OSIS SMA Permata yang terkenal pintar dan juga tampan.

Orang itu mengambil tas ransel milik Arvin sebelum duduk di kursi. Lalu, meletakkan tas tersebut di atas meja dan mulai membuka ritsleting utama untuk mencari sesuatu yang berharga. Tak butuh waktu lama, netranya langsung menemukan sebuah amplop berwarna cokelat dari dalam sana. Tanpa perlu membukanya pun, ia tahu jika di dalamnya terdapat sejumlah uang yang cukup banyak. Mengingat amplop tersebut begitu berat dan juga tebal. Ia ambil amplop tersebut, dan segera memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Setelah itu, kembali meletakkan tas tersebut ke tempat semula.

Orang dengan wajah yang tertutup masker beranjak dari duduknya. Lalu, membalikkan tubuh, melangkahkan kedua kakinya ke seberang kursi. Gambar seekor serigala yang tengah melolong dan sebuah tulisan 'Wolf' di bawahnya, terlihat jelas pada punggung jaketnya.

Orang itu menyebut dirinya, ialah ... Wolf.

Wolf mengambil tas ransel bermerk berwarna pink di atas kursi, sebelum mendaratkan bokongnya di sana. Sang pemilik tas tersebut merupakan seorang cewek. Ia pun meletakkan benda itu di atas meja dan membuka ristleting utama. Sayangnya, tak ada apapun di sana. Ia berdecak. Lalu, memilih membuka satu persatu ritsleting untuk menemukan sesuatu yang berharga dari dalam sana. Cukup lama ia melakukannya, hingga tak jua menemukan apa yang dicarinya.

Wolf gelisah. Was-was. Ia menilik sekilas ke arah arloji di pergelangan tangan kanannya. Sial! Ia telah melewati batas waktu yang sudah ditargetkannya. Kini, samar-samar, ia mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat ke arah koridor kelas. Mendadak, detak jantungnya berdebar tak keruan. Ya, Tuhan, ia harus cepat menemukan barang itu sekarang!

Wolf segera membuka kembali satu persatu ritsleting pada tas milik cewek itu. Kini, ia merogoh bagian dalamnya dengan tangan kanan. Tak lama, netranya berbinar senang ketika menemukan sebuah dompet berwarna pink di bagian tengah tas. Sudut bibirnya terangkat ke atas. Ia ambil dompet itu dan langsung membukanya. Ia tersenyum, saat mendapatkan beberapa lembar uang kertas ratusan ribu rupiah dan juga kartu di sana.

Suara derap langkah kaki itu kian mendekat. Wolf celingukan. Panik. Ia segera mengambil semua uang di dalam dompet, tanpa mengikut sertakan kartu-kartu tersebut. Kemudian, menyematkan secarik kertas ke dalam dompet, sebelum menutup dan memasukkannya kembali ke dalam tas, serta meletakkannya ke tempat semula.

Wolf bangkit. Tanpa buang waktu, langsung berlari ke arah pojok belakang kelas di dekat dinding jendela. Tak lama kemudian, Kang Maman yang hanya menampakkan kepala saja di jendela, berjalan seraya bersiul di depan koridor kelas. 

Wolf berjongkok dan menekuk kedua kaki. Terduduk di atas lantai seraya menyandarkan punggung di dinding. Ia mengembuskan napas lega seraya mengurut dada untuk menetralisir degup jantungnya supaya kembali normal.

Kang Maman yang merupakan cleaning service sekolah, bersiul seraya menyapu depan koridor kelas. Merasa bosan, ia memilih bersenandung kecil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Wolf milik Exo.

Geurae wolf naega wolf

Aauuuu ....

Ah saranghaeyo nan neukdaego neon minyeo

Kang Maman terus bersenandung, hingga tak menyadari, jika di balik tembok nan tebal tepat di sampingnya, sesosok Wolf asli sedang mendengarkan.

Wolf berdecak kecil. Ia menggeleng. Jika boleh jujur, ia jengah. Bagaimana bisa pria itu terus menyanyikan lirik lagu yang hanya itu-itu saja? Mungkinkah hanya lirik itu yang dihafal olehnya?

Wolf mendesah pelan. Ia bosan mendengar suara sumbang milik Kang Maman dari dalam sini. Oleh sebab itu, ia memilih untuk mengeluarkan sebuah kantung plastik berwarna hitam dari saku kiri jaketnya sambil menunggu si cleaning service itu selesai menyapu. Lalu, memasukkan uang-uang hasil curiannya itu ke dalam kantung tersebut. Sebuah kantung yang sudah terlebih dahulu digambarnya sesosok kepala doraemon dengan cat berwarna putih. Ia membungkusnya dengan rapi. Setelah itu, memasukkannya kembali ke dalam saku jaket.

Wolf tercenung ketika suara sumbang itu sudah tak terdengar lagi olehnya. Perlahan, ia mencoba untuk mendongakkan kepala – mengintip dari balik kaca jendela – melihat keadaan di luar kelas. Kosong.

Tanpa buang waktu, Wolf bergegas melangkahkan kedua kakinya keluar kelas. Tujuannya saat ini ialah toilet yang berada di samping kelas 11 IPS dua. Ia hanya perlu berjalan berjongkok melewati kelas yang pintunya tertutup rapat untuk bisa sampai ke sana.

Wolf berjongkok di depan tempat sampah yang berada di samping wastafel setelah sampai di toilet. Membuka sarung tangan dan maskernya. Lalu, membuangnya di tempat sampah itu, bersama dengan kantung plastik hitam yang berisi uang curiannya. Ia sengaja meletakkan semuanya itu di bagian bawah tong sampah. Supaya benda-benda tersebut bisa tertutup oleh sampah-sampah plastik bekas makanan yang sebelumnya telah ditukarnya dengan kantung sampah yang ada di luar ruangan, yang memiliki lebih banyak sampah dibanding dengan kantung yang ada di dalam toilet ini. Tak lupa, ia juga telah menandai kantung yang ditukarnya itu dengan sebuah gambar lingkaran supaya tak tertukar dengan kantung sampah lain nantinya.

Lihat selengkapnya