RAJA berjalan santai menyusuri koridor dengan ketiga sahabatnya yang mengekori di belakang. Kantin merupakan tujuan mereka saat ini.
Mereka berempat sangat populer di SMA Permata ini, karena ulahnya yang suka sekali membuat keonaran. Entah itu menindas kaum kecil ataupun merundung yang tak bersalah. Sehingga, banyak warga sekolah yang tak menyukai perilaku mereka.
Kendati begitu, mereka juga merupakan donatur terbesar di Sekolah. Sehingga, sangat disegani oleh para guru. Bahkan, jika mereka membuat keonaran, pihak sekolah hanya mampu menegur tanpa memberi hukuman. Sudah pasti, membuatnya semakin besar kepala.
Langkah Raja terhenti di ujung koridor sekolah. Pandangannya langsung tertuju ke arah seorang cowok berkacamata yang tengah asyik menyantap makan siang di meja miliknya. Ia mendengkus kesal.
Kening Lisa mengerut saat jalannya terhalang oleh punggung cowok yang disukainya. Tatapannya kini mengikuti arah pandang cowok itu dan terpegun saat melihat pemandangan di depannya. Ia tersenyum licik. Lalu, berjalan maju, mendekat ke samping tubuh Raja. "Kita kasih pelajaran aja ke dia!" ucapnya.
Raja menyeringai. Lalu, langsung melangkahkan kedua kaki, mendekati mangsa barunya itu.
Brraaaakkk!!!
Tanpa basa-basi, Raja langsung menggebrak meja dengan kencang. Membuat cowok jenius berkacamata itu terlonjak kaget di kursinya. “Minggir!” bentaknya kemudian.
Semua pasang mata kini tertuju ke arah cowok nahas itu. Mereka hanya bisa menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh kelompok yang berisi anak-anak sultan itu kepada sang korban, tanpa mau membantu. Pasalnya, mereka tak ingin ikut ter-bully karena lantaran membantu.
Siswa berkacamata itu ialah Yoga. Ia merupakan murid pindahan yang baru beberapa bulan belajar di sekolah ini. Yoga menelan salivanya dengan susah payah. Mencoba membenarkan letak kacamata yang sedikit melorot di ujung pangkal hidungnya, saat salah satu cowok di antara kelompok itu sudah duduk di samping kanannya. Bahkan, merangkulnya.
"Lo buta, ya? Lo nggak lihat tulisan sebesar ini?" beritahu Kevin. Cowok bermata sipit, dengan baju seragam yang sudah keluar dari celana panjangnya itu menunjuk sebuah tulisan yang ada di atas meja.
Lisa duduk di kursinya, tepat di depan Yoga. Bersamaan dengan itu, Raja turut duduk di samping kanannya. "Mungkin dia nggak bisa baca, Vin. Sini, biar aku yang bacain, 'Meja ini milik The Richest'," sahutnya mengintimidasi. Cewek yang selalu menguncir rambut panjangnya seperti buntut kuda itu tertawa mengejek saat melihat raut wajah Yoga yang tampak ketakutan.
"Ma-maaf." Yoga tergagap. Panik. Ia memilih untuk bangkit, dengan membawa mangkuk yang berisi bakso. Lalu, melangkahkan kedua kakinya pergi.
Yoga menatap tak suka ke arah Raja saat akan melintasi cowok berkulit putih itu. Mereka sekilas saling bersitatap. Namun, nahas. Tatapannya terlalu fokus ke arah Raja, hingga tak melihat jika kaki cowok itu sudah terulur panjang di bawah kakinya. Dan ....
Praaaanggg!!!
Yoga terjatuh. Mangkuk yang berisi bakso miliknya pecah dan menumpahkan semua isinya yang saat ini telah berserakan di atas lantai.
Gelak tawa kelompok The Richest seketika membahana seisi kantin. Puas. Melihat mangsanya bertekuk lutut di atas lantai.
Gavin yang masih berdiri di samping Lisa, mendesah pelan. Ia menggeleng melihat perbuatan ketiga sahabatnya. Jujur saja, ia tak tertarik dengan permainan mereka. Ia pun memilih untuk duduk di samping Kevin yang merupakan kursi milik Yoga tadi.
Gavin memang yang berbeda. Ia yang terpintar, sekaligus bisa diandalkan di antara ketiga sahabatnya. Ia jarang mem-bully, walaupun terkadang juga suka membuat keonaran. Bahkan, ia memiliki lebih banyak penggemar yang didominasi cewek, dibandingkan dengan Raja. Hobinya ialah balapan motor dan mengoleksi miniatur sepeda motor balap dari berbagai belahan dunia.
Yoga bangkit. Lalu, membersihkan seragamnya yang kotor akibat terkena debu lantai. Beruntung, kuah bakso itu tak mengenai seragamnya. Ia mendengkus kesal. Pikirannya saat ini telah melayang jauh, memikirkan pembalasannya nanti. Tanpa disadar, kedua tangannya telah terkepal erat.
***
Siang merangkak sore. Bel pulang sekolah telah berdering beberapa menit yang lalu. Para penghuni sekolah juga telah banyak yang berhambur keluar kelas dan melangkahkan kedua kaki untuk menuju ke pintu gerbang sekolah.
Begitu pula Awes, cowok itu telah lengkap menggunakan jaket berwarna biru serta helm. Ia juga telah duduk di atas motornya. Mengeluarkan ponsel pada saku celana dan mulai mengaktifkan applikasi ojek online-nya. Kini, ia telah siap untuk menerima pesanan.
Ting !
Tanpa perlu menunggu lama, Awes mendapatkan notifikasi order dari salah seorang pelanggannya. Ia tersenyum semringah. Memasukkan kembali ponsel dan bergegas menancapkan gas. Menjemput sang pelanggan.
Seperti itulah rutinitas keseharian seorang Awes di setiap pulang sekolahnya. Awes bekerja paruh waktu sebagai ojek online yang berada di bawah naungan perusahaan OJOLALI - Ojek Online Bang ALI. Hal itu, dilakukannya guna memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan sang nenek.
Awes tinggal bersama neneknya yang terbiasa berjualan kue jika hanya ada pesanan saja. Pesanan sang nenek belum sebanyak Awes sebagai tukang ojek. Oleh sebab itu, setiap hari Awes rela pulang malam hanya untuk mengais rezeki.
“Dengan Mbak Shasa?” tanya Awes kepada seorang wanita yang sedang hamil di depannya, saat telah tiba di lokasi penjemputan.
Shasa tertegun saat menemukan seorang cowok yang masih mengenakan seragam sekolah di hadapannya. Baginya, zaman sekarang sangat jarang sekali ditemui remaja seperti itu. Di mana biasanya, remaja seusianya lebih memilih untuk berkumpul dengan teman-teman sebaya di jam pulang sekolah seperti ini. “Iya, benar, Kak,” jawabnya akhirnya.
Awes mengulas senyum kepada sang pelanggan. Lalu, memberikan helm, yang langsung diterima oleh wanita berparas cantik itu. Namun, kali ini netranya terpegun ketika melihat wanita itu tampak kesulitan menaiki motornya. Dengan sigap, Awes mengulurkan tangan kanan untuk membantu Shasa naik. Membuat wanita itu kembali tertegun akan sikap baik Awes.
“Nama kamu beneran Always?” tanya Shasa memecah keheningan sore dalam perjalanannya.
“Iya, Mbak. Nama saya aneh, ya?”