ARVIN ditemani oleh Awes berada di ruang kepala sekolah. Berdiri mematung di depan meja seorang pria berwajah tegas di hadapannya. Sebab, mereka baru saja menyerahkan proposal yang berisi pengajuan pemasangan CCTV untuk setiap kelas.
Pak Gayandra yang selalu disapa hangat dengan panggilan Pak Gay itu membaca proposalnya dengan sangat teliti. Pria paruh baya, yang dikenal memiliki sifat arogan, usianya ditaksir sekitar 45 tahun. Ia memijit pelipis dengan jari jemari tangan kiri. Tak lama setelahnya, meletakkan proposal di atas meja, dan membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot di pangkal hidungnya.
Arvin menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin merebak, seiring dengan degup jantung yang kian meningkat. Apa yang harus ia lakukan untuk memulai pembicaraan dengan pria itu sekarang?
“Ba-bagaimana, Pak? Apa Pak Gay setuju dengan isi proposal yang para OSIS buat?” Cukup lama Arvin mengatur irama degup jantungnya, hingga pada akhirnya berhasil angkat suara. Akan tetapi ....
Brraaaak!!!
Arvin berjingkat kaget saat Pak Gay secara tiba-tiba menggebrak meja kerjanya. Tak hanya Arvin, Always pun sama hingga sampai memeluk cowok itu.
Pak Gayandra menatap tajam kedua cowok di hadapannya. Membuat atmosfer ketegangan melingkupi ruangan ini. “Panggil saya Gayandra! Paham?” tuturnya tegas. Sebab, ia tak pernah suka jika hanya dipanggil dengan nama depannya saja - Gay.
Awes melepaskan pelukannya. Ia menelan salivanya. Mengangguk paham. “Pa-paham, Pak Gay … Yandra.”
“Saya menolak proposal kalian untuk memasang CCTV di seluruh ruang kelas! Pasti itu akan membutuhkan biaya yang sangat besar, dan itu berat. Saya nggak akan kuat.”
“Tapi, Pak—" Belum sempat Arvin akan menyangkal. Sayangnya, ucapannya harus rela terpotong oleh keputusan yang telah dibuat Gayandra.
“Saya hanya akan memasang CCTV di ujung sayap kanan, sayap kiri, dan bagian tengah pada bangunan sekolah saja! Titik!”
Arvin mengembuskan napas kecilnya. Sedangkan Awes yang memiliki ide tersebut pasrah akan semua keputusan yang telah dibuat oleh kepala sekolah mereka. Sebab, mereka tahu, jika keputusan pria berambut panjang sebahu yang diikat ke belakang itu, tak bisa diganggu gugat.
***
GLAMOUR CAMPING
Let’s join with us!
Location: Gunung Pancar
Acara ini memiliki tujuan “Kembalikan kami ke dunia yang menyenangkan, dunia nyata.”
Tema: Kembali ke alam dan menyatu dengan lingkungan sekitar.
Kami akan mengajak kalian bersenang-senang dengan masuk ke dunia yang menyenangkan, yaitu alam. Kalian bisa belajar bersama alam, tentang pentingnya menjaga lingkungan sekitar.
With Love
Panitia OSIS
Langkah kaki Happy terhenti, ketika manik matanya menoleh ke mading dan mendapati sebuah informasi menarik di sana. Ia tersenyum saat membacanya. Baginya, glamping merupakan sebuah acara yang sangat menyenangkan. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh OSIS, yang berawal dari ide sang ketua OSIS.
Acara tersebut wajib diikuti oleh siswa kelas 10 dan kelas 11, yang sudah menjadi rutinitas di setiap tahunnya. Di mana tahun sebelumnya, para anggota OSIS berbondong-bondong memilih tempat yang mewah dengan fasilitas serba ada untuk dijadikan tempat mereka berwisata. Namun, OSIS di tahun ini berbeda. Arvin lebih memilih tema alam dengan budget yang murah meriah, guna untuk meminimalisir anggaran pengeluaran sekolah.
“Sepertinya kamu tertarik buat ikut acara itu?”
Happy terkesiap saat tiba-tiba saja terdengar suara berat seorang cowok, menyapanya. Namun, mendengkus kesal saat menoleh ke samping kanan dan menemukan Raja yang sudah berada di sampingnya.
Happy memilih untuk tak menjawab. Membalikkan tubuh dan melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan cowok itu. Saat yang sama, tangan kekar Raja sudah lebih dulu menggamit pergelangan tangan Happy. Membuat tubuh cewek itu kembali menoleh ke belakang.
“Kenapa si kamu selalu menghindar dari aku?” pekik Raja geram. Jujur saja, ia sudah tak bisa mengontrol emosi, hingga sedikit menaikkan nada suaranya.
Happy tercengung. Manik mata teduh itu seketika mengobarkan api kemarahan. Kendati begitu, Happy tak takut. Ia masih berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Raja darinya. “Karena aku nggak pernah suka sama sikap arogan kamu!” ungkapnya. Namun, seberapa kuat usahanya untuk melepaskan, cowok itu malah semakin mengeratkan genggamannya.
“Raja! Lepasin, nggak?”
Raja menyeringai. Menatap tajam wajah cantik yang telah kalut di hadapannya. “Jawab dulu pertanyaan aku! Apa kamu ikut acara glamping itu?” tanyanya dengan menunjuk papan mading. Tanpa disangka, ia mendekatkan wajah ke arah Happy. Membuat cewek itu memundurkan sedikit wajahnya ke belakang.
Sial! Kenapa tak ada satupun siswa yang menolongnya? Apa sebegitu takutnya mereka dengan Raja? Pasalnya, di lorong menuju kantin ini, banyak siswa yang berlalu lalang. Mirisnya, mereka hanya sekilas melirik ke arah Happy sebelum meneruskan langkahnya.
Happy menatap tajam Raja. “Bukan urusan kamu! Toh, aku berani bertaruh! Kalau kamu dan teman-temanmu nggak akan mau ikut acara murahan seperti itu.”