SMA Permata memiliki tata ruang bangunan tiga tingkat yang berbentuk layaknya huruf U. Di mana setiap tingkat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sayap kanan dan sayap kiri yang ditengahi oleh tangga utama yang cukup besar. Kendati begitu, masing-masing sayap juga memiliki tangga untuk mempermudah akses jalan para siswa.
SMA Permata hanya memiliki 18 ruang kelas saja, di mana masing-masing kelas terdapat enam ruangan kelas. Namun, kelas 11 dan kelas 12 dibagi sesuai jurusan, yaitu jurusan IPA memiliki dua ruangan kelas, dan jurusan IPS memiliki empat ruangan kelas. Pun, kelas 10 terdapat enam kelas dan dibagi menjadi tiga ruangan kelas yang menduduki lantai dasar pada sayap kanan dan sayap kiri. Sedangkan kelas 11 IPA menduduki lantai dua dan kelas 12 IPA menduduki lantai tiga pada sayap kanan.
Beralih ke bagian tengah. Beberapa laboratorium sains, fasilitas pelayanan, ruang guru, dan ruang OSIS, terdapat di lantai dasar di antara tangga utama. Kelas 11 IPS menduduki tingkat dua dan kelas 12 IPS menduduki tingkat tiga. Di mana setiap dua ruangan kelas ditengahi oleh tangga.
Ruang serbaguna, dan UKS menduduki tingkat dua, sedangkan ruang komputer, ruang siaran, dan perpustakaan menduduki tingkat tiga pada sayap kiri. Namun, yang membedakannya di bagian tengah bangunan dan sayap kiri ditengahi sebuah lorong panjang yang menjorok ke dalam untuk menuju ke kantin dan juga parkir yang berada tepat di belakangnya.
Seperti saat ini, Arvin menarik dasi milik Awes, menyeretnya di sepanjang lorong untuk menuju ke ruang OSIS. Dadanya terlalu panas hingga tak mengindahkan pekik suara Awes yang kesakitan.
“Lepasin gue, Vin! Gue nggak bisa napas!” pinta Awes dengan memegangi dasinya.
Arvin mendesah pelan. Memilih melepaskan tarikan pada dasi Awes setelah sampai di ruang OSIS. Lalu, duduk di kursi.
Deru napas Awes bergemuruh seiring nyalang netranya menatap tajam Arvin.
“Wes, seharusnya lo nggak usah meladeni orang macam Raja! Dia akan semakin besar kepala kalau lo ladenin kayak gitu!” Arvin mulai angkat bicara. Melampiaskan semua kekesalannya kepada cowok berkulit sawo matang di sampingnya.
“Gue nggak suka sama cara dia mempermainkan Yoga! Sok, berkuasa banget itu orang!” seru Awes seraya merapikan seragamnya.
Arvin berdecak kesal. Lalu, memberikan segelas air mineral yang ada di atas meja kepada Awes dan menyanggahnya, "Tapi, nggak gitu caranya, Wes! Semua orang di sekolah ini tahu kalau Raja memang berkuasa. Bahkan, para guru pun nggak ada yang berani buat memberi pelajaran ke dia. Yang ada, nanti malah dia memutar balikkan fakta, dan lo yang terkena imbasnya. Lo tahu apa akibatnya? Lo bisa dikeluarin dari sekolah ini, Wes!”
Awes menerima air mineral itu. Kemudian, mendaratkan bokongnya di atas kursi tepat di depan meja bundar besar yang biasa digunakan para anggota OSIS rapat. “Kenapa si lo selalu membela mereka? Apa karena lo juga orang kaya, jadi lo terus-terusan membela mereka? Kalau gitu, kenapa lo nggak bergabung saja sama mereka? Kenapa lo malah mau sahabatan sama gue, si tukang ojek?”
Arvin berdecak kecil. Menundukkan kepala. Lalu, menggeleng, mendengar runtutan pertanyaan tak bermutu dari cowok itu. Menurutnya, perkataannya itu sama sekali tak ada maksud untuk membela Raja. Hanya saja, dirinya tak ingin melihat sahabatnya dikeluarkan dari sekolah ini.
Arvin mendongak. Menatap manik mata cokelat milik Awes di hadapannya. Tak lama, pandangannya tertuju ke arah gelas air mineral yang tengah digenggam oleh cowok itu. “Mending lo minum dulu, Wes! Biar lo fokus dan otak lo dingin,” sarkasnya, seraya menunjuk gelas air mineral tersebut.
Awes patuh. Meminum air mineralnya sambil membuka lebar telinga untuk mendengar jawaban dari cowok di hadapannya.
Arvin mendesah pelan, sebelum mulai menjelaskan,“Gue nggak suka sama sifat arogan mereka, terutama Raja. Menurut gue, mereka itu anak manja yang suka menghabiskan uang kedua orang tuanya, tanpa peduli bagaimana susah dan lelahnya mencari uang. Dan jelas, itu bukan tipe gue. Lo tau, Wes? Gue suka sama lo—"
Uhuuk! Uhuuk!
Tiba-tiba, Awes tersedak. Netranya melotot saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Arvin kepadanya. Ia pun mengelap air yang ada di bibir dengan baju lengan seragamnya.
“Gila lo, Vin! Gue masih normal kali. Gue suka sama cewek. Jadi, ini alasan lo buat terus-terusan jomblo?” Awes menatap Arvin tak percaya.
"Aarrrrgghh!" Arvin berteriak kesal seraya mengacak rambutnya frustrasi. Ya, Tuhan. Ia tak pernah menyangka, bagaimana bisa dirinya memiliki teman yang sangat bodoh seperti Awes? Ternyata, berbicara dengan seorang Awes lebih susah daripada harus mengerjakan soal mata pelajaran masa lalunya.
“Gue suka sama lo yang pekerja keras, lo yang mandiri, dan lo yang nggak pernah merasa malu ke sekolah sambil ngojek demi mencari pundi-pundi rupiah. Itu yang gue suka dari lo, Wes!” terang Arvin kemudian, dengan batas kesabaran yang masih tersisa.
Awes tertegun mendengar pernyataan dari sahabatnya itu. Ia tak pernah mengira, bahwa Arvin akan mengatakan hal yang akan membuatnya bangga. Benar. Pekerja keras? Mandiri? Ya, semua itu ia lakukan supaya tak seperti sandal jepit, yang selalu terjepit, hanya karena perkara duit. Sebab, sandal jepit diibaratkan seperti dirinya yang hanya merupakan seorang rakyat kecil. Di mana hanya bisa bertahan hidup, dengan bekerja keras.
"Aku sudah menyuruh Raja untuk tutup mulut tentang masalah ini." Happy yang baru tiba, memberi informasi. Lalu, menarik kursi dan duduk di samping Awes.
Awes mengembuskan napas lega. “Thank’s, Py,” sahutnya kemudian.