07.45 AM
PAGI ini. Matahari tampak malu dengan bersembunyi di balik gumpalan awan nan kelabu. Angin berembus lembut, menerpa siapa saja tanpa permisi. Kendati begitu, hawa panas tetap saja terasa membakar diri pada setiap siswa yang sedang berlari.
Itulah yang dilakukan oleh para penghuni kelas 11 IPA satu yang memiliki jadwal mata pelajaran Olahraga. Mereka berlari mengelilingi lapangan Sekolah sebanyak lima putaran. Membuat para siswi merasa kelelahan. Padahal, mereka hanya baru berlari sebanyak dua putaran saja.
Berbeda halnya dengan Awes. Cowok itu telah berhasil menyelesaikan empat putaran larinya dengan semangat membara. Namun, mengernyit bingung saat tak menemukan sosok Happy di belakangnya. Ke mana perginya cewek itu? Pasalnya, cewek berparas cantik itu masih terlihat berlari pada putaran ke tiganya. Tapi, saat ini Happy menghilang. Entah ke mana.
Awes berniat untuk segera menyelesaikan larinya untuk kemudian mencari Happy. Ia menoleh ke samping lapangan. Menggerutu kesal saat menemukan Pak Ronal selaku guru Olahraganya, tengah mengawasi para siswa di sana. Benaknya kini mulai mencari cara untuk bisa melarikan diri dari tempat ini.
Tak lama setelahnya, Awes menyeringai lebar saat melihat Pak Ronal tampak begitu gusar seraya mengusap-usap perut buncitnya di seberang lapangan. Awes yakin, jika pria berbadan gembul itu merasakan mulas pada perutnya dan akan segera melakukan panggilan alamnya di toilet.
“Cepetan dong, pergi!” gerutu Awes yang hanya terlihat mendremilkan sesuatu di sudut bibir. Kendari begitu, ia terus berlari untuk menyelesaikan putaran terakhirnya.
Binggo! Awes terkekeh geli. Tepat seperti dugaan sebelumnya. Jika saat ini pria itu berlari terbirit-birit, meninggalkan lapangan untuk menuju ke arah toilet. Tanpa buang waktu, Awes langsung berlari meninggalkan lapangan.
Kantin merupakan tujuannya saat ini. Karena, kantin merupakan satu-satunya tempat pelarian para siswa untuk membolos pada mata pelajaran yang mereka tak suka. Awes berlari menyusuri koridor yang cukup panjang menuju ke tempat itu. Namun, netranya tak menemukan siapa pun saat sampai di ujung koridor.
Awes menundukkan tubuh dengan menopang kedua tangan pada lututnya. Mengatur deru napasnya yang memburu akibat lelah berlari. Pandangannya masih menjelajah di sekitar arena kantin. Nihil. Lalu, ke mana lagi ia harus mencari?
Awes bangkit. Ruang kelas. Itulah yang terpikirkan di dalam benaknya saat ini. Ia memilih memutar tubuh dan berlari kembali menyusuri koridor untuk menuju ke tangga utama di bagian tengah bangunan Sekolah. Namun, sebelum itu netranya melihat padatnya rapat orang tua murid dari muka pintu ruang OSIS yang terbuka lebar.
***
07.56 AM
Wolf dengan menggunakan jaket hitam ber-hoodie andalannya menyeringai ketika menemukan sebuah dompet berwarna gold di dalam tas ransel. Dalam sekejap, benda tersebut telah berpindah ke genggamannya.
Wolf membuka dompet tersebut dan menemukan uang ratusan ribu rupiah dari dalam sana. Ia ambil uang itu dan menyematkan secarik kertas di dalamnya. Setelah itu, menutup dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tak lupa, ia meletakkan tas itu pada tempatnya kembali.
Tanpa buang waktu, Wolf bangkit. Lalu, melangkahkan kedua kakinya ke arah pintu. Mengintip, sebelum mulai keluar dari sana. Ia tersenyum kecil saat netranya tak menemukan siapa pun di depan koridor. Ia langsung membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, berjalan berjongkok ke arah toilet dengan melewati dua ruangan kelas 11 IPS yang pintunya tertutup rapat. Hal itu sudah menjadi aturan dari pihak sekolah untuk menutup pintu kelas di saat jam mata pelajaran sedang berlangsung. Membuat Wolf dapat dengan mudah melancarkan aksinya.
Wolf bangkit saat telah melewati dua ruangan kelas tersebut. Ia memilih berjalan santai ke arah toilet yang berada di samping tangga utama dengan menundukkan kepala.
Wolf mengintip dari balik pintu toilet melalui lubang kunci, sebelum mulai masuk ke dalam sana. Tak ada siapa pun. Ia menyeringai, dan mulai menggerakkan tuas pintunya.
“HEH! SIAPA LO?”
Wolf tergemap. Seketika, ia menghentikan pergerakan tangannya untuk membuka pintu toilet. Ia menoleh ke samping kanan dan membeliak ketika menemukan Awes di sana. "Sial! Kenapa dia harus naik ke atas?” gumamnya kesal.
Wolf panik. Kalang kabut. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Pasalnya, kehadiran cowok itu yang tiba-tiba sama sekali tak ada di dalam list rencananya. Sama halnya jika ada siswa yang tiba-tiba saja ingin pergi ke toilet atau keluar kelas saat dirinya tengah beraksi. Hal-hal tak terduga seperti itu tak bisa ia masukkan ke dalam list rencananya, walaupun sudah mengamati situasi dan kondisi ribuan kali. Mungkin, jika seorang cenayang, ia rela menghabiskan harinya untuk membaca pikiran semua orang supaya tahu kapan mereka akan ke toilet ataupun keluar kelas untuk dimasukkan ke dalam list. Namun, itu hanya imajinasi yang tak akan mungkin terjadi.
Awes segera melangkahkan kedua kakinya, menapaki anak-anak tangga lebih cepat, ketika netranya menemukan seseorang berjaket hitam yang tampak mencurigakan.
Melihat hal itu, Wolf segera berlari dengan mengambil posisi tangga yang berada di sayap kiri. Aksi saling kejar mengejar pun tak dapat dihindari. Entah kenapa, ia merasa bahwa koridor yang biasa dilalui terasa begitu panjang.
“JANGAN LARI! BERHENTI LO!” pekik Awes kencang, bersamaan dengan langkah yang kian cepat untuk terus mengejar Wolf yang berada di depan.
Wolf mendengkus kesal ketika melihat sekilas ke belakang dan mengetahui jika jaraknya dengan Awes sudah cukup dekat.