SEBAGAI ketua tim keamanan OSIS, Always memiliki peran penting untuk menjaga keamanan di lingkungan sekolahnya. Oleh sebab itu, ia merasa bertanggung jawab untuk memecahkan kasus pencurian yang sedang berkeliaran saat-saat ini.
Awes memilih untuk melaporkan kejadian yang telah menimpa Rosa kepada wali kelasnya. Kemudian, bergegas pergi ke ruang siaran setelah laporannya diterima.
"Pengumuman! Untuk semua warga sekolah, dimohon untuk tetap berada pada tempatnya masing-masing. Karena, kami selaku tim keamanan OSIS akan melakukan sidak kepada seluruh warga sekolah. Terima kasih."
Hening.
Awes mematikan mikrofonnya. Tertunduk, seraya mendesah pelan. Hatinya terasa berdenyut pilu melihat kejadian yang menimpa Sekolahnya. Sebab, ia merasa telah gagal menjadi seorang Ketua tim keamanan. Sungguh, ia hanya bisa berharap jika kali ini pelaku bisa tertangkap dan diberi hukuman yang pantas. Sebab, ia tak ingin ada korban selanjutnya yang berjatuhan lagi.
Awes melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruang siaran. Menuruni gundukan anak-anak tangga dengan kecepatan sedang. Namun, ia tercengung ketika netranya menemukan Happy dan Arvin keluar dari ruang UKS secara bersamaan saat sampai di lantai dua.
"Wes, ada apa?" tanya Happy setelah berlari menghampiri Awes.
Tak ada banyak waktu untuk sekadar menyapa mereka. "Cepat balik ke kelas kalian!" titahnya kepada keduanya. Awes pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuruni anak-anak tangga untuk menuju ke lantai dasar. Membuat cewek berambut panjang itu termangu, menatap kepergian cowok itu.
Kini, Awes beserta tim keamanan OSIS didampingi oleh Pak Sany, melakukan sidak kepada seluruh penghuni sekolah. Guru, warga kantin, dan kang Maman pun tak luput dari pemeriksaan. Satu persatu di antara mereka digeledah isi tasnya. Sayangnya, nihil. Mereka tak bisa menemukan apapun, sama seperti kasus pencurian sebelumnya. Membuat tim Awes begitu frustrasi.
"Gila! Lama-lama gue bisa gila kalau kayak gini terus! Aarrrghhh!" Awes berteriak sambil mengacak rambutnya dengan kecewa. Saat ini, bersama timnya sudah berada di ruang OSIS.
Kedua tangan Awes telah terkepal erat di atas meja. Tatapannya menerawang kosong ke arah depan. Sungguh, ia tak habis pikir bagaimana bisa orang itu meloloskan diri dengan begitu mudah? Bahkan, juga bisa menghilangkan barang bukti.
"Jangan-jangan dia bukan manusia?" sahut salah satu tim Awes.
"Atau jangan-jangan dia beneran manusia serigala?" sahutnya yang lain. Membuat suasana di ruang OSIS menjadi semakin mencekam dengan praduga-praduga mereka yang semakin tak keruan.
Awes mengembuskan napas pelan. Ia bergeming seraya menatap timnya tak percaya. Ternyata, bukan hanya dirinya saja yang merasa gila, akan tetapi semua timnya pun sama. Oh, astaga! Bagaimana mungkin mereka menganggap bahwa sang pelaku bukanlah manusia? Apa mungkin mereka telah hanyut terbawa sinetron yang sering mereka tonton? Entahlah. Yang pasti, semua praduga mereka saat ini sangat tak masuk akal.
"Wes, ikut gue ke ruang CCTV!"
Awes tercengung saat netranya mendapatkan Arvin di ambang pintu ruang OSIS. Ia pun melenggut. Dengan sigap bangkit, dan menghampiri cowok itu untuk pergi bersamanya ke ruang CCTV.
***
Wolf berjalan berjongkok saat menuju ke kelas 11 IPA satu. Lalu, menundukkan kepala yang ber-hoodie saat sampai di muka pintu kelas. Membuat wajahnya berhasil tak terlihat oleh kamera CCTV.
Wolf memasuki kelas dan beberapa menit setelahnya keluar dengan kedua tangan berada di dalam jaket hitamnya. Tak lama setelahnya, berjalan berjongkok untuk melewati 11 IPS empat. Satu hal yang dapat dikenali dari orang itu saat memunggungi kamera, ialah gambar seekor serigala yang sedang melolong di samping sinar rembulan dan sebuah tulisan WOLF di bawahnya.
"Sial! Kenapa si pak Gay segala menolak buat pasang CCTV di seluruh kelas? Alhasil, kita nggak bisa lihat Wolf dengan jelas, kan?!" Arvin geram saat melihat rekaman CCTV yang hanya menampakkan Wolf masuk dan keluar kelas saja.
Tak berguna! Ya, seperti itulah yang ada di dalam benak Arvin saat ini. Itulah sebabnya, beberapa minggu yang lalu meminta pak Gay untuk memasang CCTV di seluruh penjuru kelas. Alasannya, supaya semua aksi pencurian Wolf atau bahkan wajah orang itu bisa terekam dengan jelas oleh kamera.
"Apa semua ini ada kaitannya sama pak Gay? Nggak mungkin, kan? Sekolah kita nggak ada dana cuma untuk pasang CCTV di setiap kelas. Sedangkan tahun lalu, sekolah kita mampu kok untuk mendanai acara super mewah yang diadain OSIS. Mungkin, itu cuma alasan pak Gay saja, supaya kita nggak bisa menangkap Wolf." Kali ini giliran Awes yang angkat suara.