Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #8

7 - Alibi

08.30 p.m

ARVIN baru tiba di rumah, bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, menghempaskan tubuhnya yang terasa lelah sekaligus penat di atas kasurnya. Ia menerawang menatap atap dinding kamarnya yang berwarna biru langit. Seketika, ia terbayang akan kejadian tadi pagi di sekolahnya.

07.15 A.m

Arvin yang merasa tak enak badan, memilih izin keluar kelas saat jam mata pelajaran pertamanya untuk menuju ke UKS. Sesampainya di UKS, ia cukup terkejut mendapati Happy seorang diri tengah terduduk di atas ranjang dengan wajah yang tampak gusar sambil menatap jam bermotif doraemon di pergelangan tangannya. Entah kenapa, hari ini tak ada dokter maupun anggota PMR yang menjaga ruangan. Arvin tak ingin mengejutkan cewek itu, ia berjalan perlahan menghampiri.

“Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Arvin dengan balutan rasa khawatir di dadanya.

Happy yang tengah termenung, terkesiap akan kedatangan Arvin. “A-aku nggak apa-apa, Vin. Kamu nggak usah khawatir,” jawabnya terbata.

Cewek itu pun memilih untuk menutup tirai ranjangnya dan merebahkan tubuhnya. Sedangkan, Arvin hanya bergeming menatap tirai putih di hadapannya. Benaknya mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh pada diri Happy. Entah apa itu.

Arvin berjalan ke arah ranjang yang berada tak jauh dari tempat Happy. Ia menutup tirai dan merebahkan tubuhnya di sana. Kemudian, ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya, sayangnya rasa khawatir terhadap cewek itu, masih saja mendekap dirinya hingga membuatnya tak bisa melakukannya.

Arvin bangkit dan bergegas menuruni ranjang hanya untuk mengetahui keadaan Happy kembali. Ya, itu karena dirinya belum merasa puas dengan jawaban yang diberikan cewek itu kepadanya tadi.

Perlahan ia membuka tirai pada ranjang Happy, berharap sang empu di balik tirai tengah memejamkan ke dua mata indahnya. Namun, Arvin terkesiap saat tak menemukan keberadaan cewek itu di ranjang.

“Kemana dia? Apa mungkin ke toilet?” pikir Arvin yang sudah sadar di dunia nyatanya.

Arvin menggelengkan kepalanya. Tak ingin ambil pusing. Ia membenamkan wajahnya di bawah bantal. Malam ini, keinginannya adalah tidur cepat, supaya besok ia bisa membantu Awes untuk mengungkap siapa Wolf. Namun, pikirannya masih saja melayang, yang tak jauh dari bayangan wajah Happy. Lagi, Arvin menggelengkan kepalanya guna untuk mengusir bayangan cewek itu. Sayangnya, wajah gusar dan pucat Happy yang kini hadir menghantuinya, sehingga rasa cemas seketika merasuki dirinya.

“Gue akan tanyain keadaannya besok.”

***

Awes tengah berada di ruang siaran. Tadi, pak Sany menyuruhnya untuk memanggil satu persatu nama siswa untuk dikumpulkan di ruang OSIS. Nama-nama tersebut adalah daftar nama siswa yang keluar kelas pada saat Wolf beraksi kemarin. ‘Calon tersangka’ begitulah yang ditulis Awes pada kertasnya.

Calon tersangka:

Lihat selengkapnya