Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #9

8 - My Pets

SUASANA kantin pada siang ini tampak begitu ramai. Mereka para penghuni kantin tengah asyik menyantap makan siang mereka dengan diiringi suara lentingan sendok dan juga garpu. Tak sedikit dari mereka yang hanya memesan Pop Ice mbak Wik sambil bergosip ria – membicarakan perihal siapa sebenarnya Wolf. Siapa yang akan menyangka kalau saat ini Wolf tengah menjadi trending topic di SMA Permata. Banyak di antara mereka yang mengagumi kecerdikan Wolf dalam beraksi. Namun, juga tak sedikit dari mereka yang merutuki aksi pencurian yang dilakukan oleh Wolf.

Always, Happy, dan Arvin juga telah berada di kantin menunggu Pop Ice pesanan mereka. Namun, Awes tak kuasa menahan kedua bola matanya untuk tak menatap Happy di depannya. Sebab, wajah cewek itu terlihat begitu lesu.

“Kamu masih nggak enak badan, Py?” tanya Awes kepada Happy, yang tengah menatap layar ponsel digenggamannya.

Happy beralih menatap Awes, ia memasukkan ponsel ke saku seragamnya, lalu menjawab pertanyaan Awes. “Aku udah nggak apa-apa, Wes. Kemarin, aku cuma kecapean lari aja.”

Mendengar jawaban Happy, Awes hanya menyunggingkan senyumnya hingga menampakkan lubang pada pipi kanannya. Perasaan lega yang kini menggelayuti dirinya. Tak hanya Awes seorang. Sejujurnya, Arvin juga merasakan hal yang sama. Pasalnya, semalam ia tak bisa tidur nyenyak, karena terbayang wajah pucat Happy.

Tak lama kemudian, Mbak Wik datang dengan membawa Pop Ice pesanan mereka. Lalu, duduk di samping Happy untuk siap dimintai keterangannya perihal Raja dan Gavin.

“Jadi, bener Mbak kemarin si Raja sama Gavin di kantin?” Arvin yang duduk di hadapan janda cantik itu, menanyakannya sambil menyeruput Pop Icenya.

“Iya, Mas. Kemarin, mas Raja sama mas Gavin di kantin. Mereka pesen Pop Ice sama sosis bakar.”

Kini, giliran Awes yang angkat suara. “Mbak, kemarin pas nggak sengaja ketabrak Wolf, Mbak liat mukanya nggak?”

“Nggak, Mas. Soalnya dia pakai masker.”

Jawaban yang sama yang didapatnya. Sudah cukup menginterogasi Mbak Wik, sehingga ia berlalu pergi dan hanya menyisakan rasa kecewa yang mendalam bagi seorang Awes. Sebab, Awes terlalu banyak berharap kalau Mbak Wik akan melihat wajah Wolf atau bahkan mengenali siapa sebenarnya Wolf.

Seketika Awes teringat akan percakapan teman satu tim keamanannya saat di ruang OSIS kemarin.

“Jangan-jangan dia bukan manusia?” sahut salah satu tim Awes.

“Atau jangan-jangan dia beneran manusia serigala?” sahutnya yang lain.

“Apa jangan-jangan emang bener kalau Wolf itu manusia serigala?” tanya Awes dengan memasang wajah seriusnya.

Arvin dan Happy yang tengah menyantap makan siang mereka, menghentikan aktivitasnya. Mereka saling menatap, sebelum gelak tawa mengiringi canda mereka hingga menambah ramainya suasana pada kantin. Mereka berdua tak pernah menyangka bahwa Awes akan ikut hanyut terbawa gosip yang tak masuk akal seperti itu.

Sedangkan Awes hanya bergeming menatap kedua sahabatnya. Mungkinkah ada yang salah dengan ucapannya?

“Awes kamu ngaco deh,” ucap Happy yang masih diiringi oleh tawanya.

“Wes, gue kasih tau, ya. Wolf itu manusia. Lo tau, kan? Kalau dia itu bener-bener cerdik plus licik,” terang Arvin berharap Awes tak lagi berpikir macam-macam tentang prasangkanya terhadap Wolf.

Awes hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan dari Arvin. Ah, sepertinya Awes sudah benar-benar merasa dipermalukan oleh dirinya sendiri. Bagaimana bisa seorang Awes ikut hanyut terbawa gosip murahan seperti itu.

Lihat selengkapnya