ARVIN memandang langit yang tak berbintang di balkon kamarnya. Sepertinya, malam ini hujan akan mengguyur ibu kota. Bisa dilihat dari gumpalan awan berwarna hitam pekat yang terus bergerak maju menyembunyikan indahnya sinar rembulan dan juga bintang. Perlahan, angin dingin berdesir lembut menerpa siapa saja yang berada di bawahnya. Arvin pun beranjak dari pembatas pagar untuk segera masuk ke kamarnya. Sebab, ia tak ingin dinginnya malam menggerogoti tubuhnya.
Arvin memilih duduk di kursi meja belajarnya sesampainya di kamar. Membuka buku pelajaran untuk dibacanya. Ia baru ingat, kalau besok akan ada ulangan harian di kelasnya. Kini diantara jari-jemarinya telah terselip bolpoint yang siap untuk bergerak lincah – menuliskan kata demi kata di buku tulisnya. Kebiasaan Arvin yang suka merangkum apa saja yang dibacanya dan akan dibaca kembali nantinya.
Namun, tiba-tiba Arvin berhenti menulis. Entah apa yang merasukinya saat ini, bayangan Happy perlahan muncul di benaknya.
Sepulang sekolah, Arvin mengantarkan Happy pulang ke rumahnya. Itu karena Awes yang tiba-tiba saja mendapat panggilan telepon dari pak Sany, untuk menghadiri rapat perihal hasil wawancara tadi siang. Padahal, Awes sudah berjanji kepada Happy untuk mengantarkan gadis itu pulang. Alhasil, Arvin harus menggantikan Awes menepati janjinya itu.
Di depan pintu gerbang rumah Happy, Arvin memberhentikan motor besarnya itu yang lebih mirip seperti motor balap. Arvin melepaskan helm full face-nya dan menerima helm pemberian Happy yang sudah turun dari motornya.
“Makasih ya, Vin.”
Arvin menganggukan kepalanya sambil mengaitkan helm yang tadi digunakan cewek itu pada jok belakang motornya.
“Makasih juga soal wawancara tadi siang.”
Kini Arvin menautkan satu alisnya. Keningnya pun tampak berkerut. Jujur saja, ia tak paham dengan ucapan Happy barusan. “Makasih, kenapa?” tanyanya.
“Aku yakin, kamu tahu kalau saat itu … aku nggak ada di tempat. Tapi, tadi siang kamu malah bilang ke pak Sany kalau aku … nggak kemana-mana,” terang Happy sedikit ragu bahkan cewek itu berbicara tanpa mau menatap lawan bicaranya.
Arvin memilih untuk mematikan mesin motornya. Lalu, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan supaya bisa menatap cewek itu yang masih menundukkan wajahnya.
“Lihat aku!” titah Arvin kepada cewek itu.
Happy menuruti perintah Arvin. Ia mengangkat wajahnya dan menatap cowok yang jaraknya tak jauh dari hadapannya. Tak sengaja, kedua manik mereka bertemu dan membuat keduanya saling membeku di tempat. Sedangkan Happy, tiba-tiba saja merasakan jantungnya berdegup begitu cepat.
“Jujur sama aku ….” Arvin mengembuskan napasnya pelan. Ia menutup kedua bola matanya sesaat, sebelum membukanya kembali. Ah, sepertinya ia juga tak mampu menatap lebih lama lagi manik hitam pekat gadis di hadapannya saat ini, hingga ia juga tak mampu meneruskan ucapannya. Apalagi, jarak diantara mereka begitu dekat. Ia akui, bahwa dirinya merasakan darahnya mengalir dengan aneh hingga menimbulkan suatu desiran yang sulit diartikannya.
Arvin memilih untuk memposisikan tubuhnya seperti semula. Kemudian, ia kembali menatap Happy. Setidaknya, kali ini aliran darahnya sudah kembali normal. “Jujur sama aku. Memangnya kamu kemana?”