Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #11

10 - Fall in Love

HUJAN semalam masih terus mengguyur bu kota hingga sampai pagi hari ini. Sehingga, upacara bendera yang sudah menjadi rutinitas di SMA Permata setiap senin pagi, terpaksa harus ditiadakan. Hal tersebut membuat seluruh penghuni sekolah masih memiliki waktu 30 menit sebelum jam mata pelajaran pertama dimulai.

Geng Richest memilih menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul. Kali ini, kelas Raja menjadi tempat utama untuk berkumpulnya anak konglomerat itu. Walaupun pada kenyataannya, kini mereka berempat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Mereka semua asyik menatap layar ponsel mereka. Namun, berbeda halnya dengan Gavin yang lebih memilih untuk membaca buku mata pelajarannya sebagai bekal ulangan hariannya nanti.

Kevin memandang takjub layar ponselnya yang memperlihatkan berita tentang pengeluaran miniatur sepeda motor balap terbaru dari seorang pembalap yang berasal dari negara Italy. Pembalap tersebut merupakan pembalap idola kakaknya. Seorang pembalap dengan bernomorkan 46. Kali ini, ia membulatkan tekad untuk bisa memiliki benda tersebut yang hanya ada lima buah saja di seluruh penjuru dunia.

Namun, seketika tekadnya menjadi ciut saat mengetahui harga untuk satu buah miniatur tersebut. Angka yang cukup fantastis hanya untuk sebuah miniatur sepeda motor saja. Namun, untuk mereka yang sangat gemar mengoleksi benda tersebut, berapa pun harganya mereka pasti akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Kali ini, Kevin melirik ke arah Gavin yang berada di sampingnya. Ia menduga bahwa sahabatnya itu pasti telah mendapatkan benda tersebut lebih dulu, sebelum penayangannya di berita. Kevin tersenyum, ia harus bisa meminjamnya dari Gavin untuk bisa dipamerkan ke kakaknya.

"Vin, Valent Rossi ngeluarin 5 miniatur motor balap, lo pasti udah punya, ya?" tanyanya antusias.

Tanpa mengalihkan pandangannya pada buku, Gavin menjawab, "Gue nggak dapet."

Kevin terperangah tak percaya mendengar jawaban Gavin. Pasalnya cowok itu selalu berhasil mendapatkan miniatur tersebut dari berbagai penjuru dunia untuk kelengkapan koleksinya. "Hah! Lo serius, Vin?"

"Hhmm ... Yang dapet cewek. Dia orang Indonesia juga. Sayangnya, gue nggak tau nama dan alamatnya. Kalau tau, gue udah pasti samperin tuh cewek dan gue bayar 2x lipat buat miniaturnya," terang Gavin. Kali ini ia meletakkan bukunya di atas meja. Kemudian, ia menatap Kevin yang seakan masih belum memercayai ucapannya. "Lagian, itu kan berita udah lama, Vin."

Kevin terkesiap. Lagi-lagi ia tak langsung percaya begitu saja. Ia segera melihat layar ponselnya kembali untuk membaca tanggal postingan berita yang tadi dibacanya. Kevin menatap Gavin yang juga tengah menatapnya. Ia tersenyum kecut, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal setelah mengetahui bahwa berita yang dibacanya adalah berita 2 bulan yang lalu.

"Lo tumben banget baca berita gituan, Kev. Biasanya juga lo bacanya tentang politik," sahut Lisa yang duduk di seberang kursinya.

Lagi-lagi Kevin hanya tersenyum. Benar apa yang dikatakan Lisa. Kevin memang sangat menggemari dunia politik. Ia begitu antusias dengan perkembangan apapun yang menyangkut tentang negaranya. Sayangnya, negara Indonesia sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Di mana reformasi tengah di korupsi oleh mereka para pejabat negara.

Mengingat hal itu, Kevin begitu menyayangkan dan juga berduka. Yang pasti, Kevin yang memiliki impian menjadi orang nomor 1 di Indonesia itu, selalu berjanji kepada dirinya sendiri supaya kelak jika ia menjadi seorang presiden, ia akan mengayomi rakyatnya terutama orang-orang kecil. Ya, semoga saja.

***

Wisata GLAMPING hanya tinggal beberapa hari lagi. Oleh karena itu, jam istirahat dipergunakan oleh Arvin untuk memimpin rapat di ruang OSIS. Arvin ingin memberitahukan apa saja yang akan dilakukan seluruh panitia selama berada di sana. Sedangkan Awes memilih merekrut Yoga untuk bergabung menjadi bagian dari tim keamanannya guna untuk membantunya.

"Wolf masih berkeliaran di sekitar kita. Jadi, kita sebagai panitia harus tetap waspada." Himbau Arvin kepada seluruh panitia.

"Gue dan ketua tim keamanan juga punya rencana buat selalu stand by saat acara api unggun berlangsung. Karena semua siswa pasti ninggalin tenda mereka. Terus pagi atau siang harinya, kalau ada yang mau pergi ke toilet atau ada hal lain yang harus ninggalin tenda, sebisa mungkin harus bilang sama teman satu tendanya untuk selalu stand by di dalam tenda. Gimana? Apa kalian setuju?" tambahnya lagi.

Seluruh anggota OSIS menyutujuinya. Harapan mereka semua hanya satu, yaitu supaya acara yang telah mereka buat berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan dari Wolf.

***

Happy berniat untuk menunggu sang bunda menjemputnya di taman sekolah. Entah kenapa, hari ini bundanya dengan suka rela menawarkan diri untuk menjemputnya. Hal yang jarang sekali dilakukan bundanya, karena terlampau sibuk dengan butik miliknya.

Lihat selengkapnya