Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #12

11 - Glamour Camping

“Di tengah hutan, tertawa lepas, jauh dari kebisingan, dan dekat dengan alam.”

GLAMOUR Camping atau yang disingkat dengan glamping merupakan kegiatan berkemah dengan menghadirkan suasana kemewahan di tengah hutan. Berbagai fasilitas lengkap bisa didapatkan, seperti; tenda yang lebih besar serta alas tidur menggunakan kasur dan bantal. Ada pula listrik dan juga fan di dalam tenda untuk sirkulasi udara. Serta tenda yang dilapisi double layer sebagai pelindung dari hujan.

Glamping akan dilaksanakan selama tiga hari.

Dengan mengikuti acara tersebut, semua peserta sudah pasti akan mendapatkan banyak pengalaman baru dan juga bisa menikmati alam dengan cara yang berbeda. Itulah alasan Arvin memilih glamping sebagai acara tour tahunan di sekolahnya. Ditambah lagi, glamping tak memakan biaya hingga menguras dompet. Sebab, untuk menikmati semua fasilitas mewah tidak harus mahal, kan?

Namun, sebagian siswa masih saja ada yang memrotes acara tersebut. Karena bagi mereka, menginap di hotel berbintang lima lebih menyenangkan dibanding harus bermalam di tengah hutan. Sayangnya, mereka yang memrotes harus siap menelan kekecewaan yang mendalam, karena pak Gay telah menyetujui acara tersebut.

Dengan mengenakan kaos serta short jeans selutut, Awes menggendong ransel gunung di punggungnya, sedangkan tangan kanan membawa gitar kesayangannya. Cowok itu bergegas melangkahkan kakinya menaiki bus. Karena dirinya tak ingin tertinggal bus apalagi sampai tak mendapatkan tempat duduk akibat pagi ini datang terlambat. Dan … Benar saja. Awes cukup terkejut saat mendapati busnya telah penuh. Walaupun begitu, ia memilih tetap memasuki bus lebih dalam, berharap masih ada kursi kosong untuknya duduk.

Awes tersenyum saat manik matanya menangkap Happy yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Ia pun membalas lambaian tangan tersebut dan menghampiri cewek itu. Namun, Awes terpegun, sebab Happy menyuruhnya untuk duduk bersamanya.

Ya, Happy memang sengaja mengosongkan kursi di sebelahnya khusus untuk Awes. Karena hari ini Happy ingin menikmati perjalanannya bersama cowok itu.

Awes duduk di sebelah kiri Happy, sedangkan cewek itu duduk tepat di samping jendela. Hati Awes berdesir lembut. Ia tak pernah mengira kalau perjalanannya akan seindah ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya ada rasa grogi yang mendekap dirinya. Sampai-sampai ia selalu salah memposisikan diri, karena begitu dekat dengan Happy.

“Kamu kenapa baru datang? Untung kamu nggak ketinggalan bus,” tanya Happy memecah kehaluan cowok itu.

“I-itu tadi aku kena macet di jalan,” dustanya dengan tergagap. Pasalnya sebelum berangkat ke sekolah tadi, Awes terserang diare akibat sang nenek memberikan makanan pedas semalam.

Happy hanya menganggukan kepalanya. Bus yang mereka tumpangi sudah berjalan beberapa menit yang lalu. Selama di perjalanan tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Happy memilih untuk menatap jalan. Namun, lambat laun rasa kantuk mulai menyelimutinya. Hingga pada akhirnya, Happy tertidur dengan kepala bersandar pada kaca.

Cantik. Begitu batin Awes yang tengah menatap Happy yang sudah tertidur pulas. Sedari tadi yang Awes lakukan ialah mencuri pandang pada cewek yang ada di sebelahnya. Awes tersenyum. Ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri, kalau ia benar-benar telah jatuh cinta kepada Happy. Sayangnya, ia belum bisa untuk mengungkapkan isi hatinya itu.

Selama di perjalanan, Awes selalu memperhatikan cewek itu yang tak bisa tidur dengan nyaman akibat kepalanya beberapa kali membentur kaca. Oleh karena itu, perlahan Awes menyandarkan kepala Happy di pundaknya, supaya cewek itu bisa tertidur dengan nyaman. Dalam sekejap, kini Awes bisa mencium aroma wangi rambut serta tubuh Happy yang berada di dekatnya. Ini merupakan kali pertamanya Awes bisa berada sedekat ini dengan cewek itu. Dan baginya, ini semua seperti mimpi, dan Awes tak ingin mengakhiri mimpinya ini.

Dua jam berlalu, pada akhirnya bus telah sampai di Gunung Pancar yang berlokasi di daerah Sentul, Bogor. Semua siswa telah turun dari bus dan hanya menyisakan Awes serta Happy yang masih tertidur.

“Ros, liat Awes nggak?” tanya Arvin saat melihat Rosa yang baru turun dari busnya. Arvin tak bisa satu mobil dengan Awes dan juga Happy. Itu karena pembagian bus berdasarkan masing-masing kelas mereka.

“Masih di dalam,” jawabnya dengan menunjuk ke arah dalam bus.

“Thank’s.” Arvin segera masuk ke dalam bus untuk menemui Awes.

Namun, hatinya bagai tertusuk oleh ribuan pisau, ketika kedua netranya mendapati Happy yang sedang tertidur pulas dan bersandar di bahu Awes. Sedangkan Awes, cowok itu juga tertidur pulas dengan kepala bersandar di kepala Happy. Menyakitkan.

Lihat selengkapnya