Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #13

12 - Hilangnya Lisa

“Ingat, ya! Kalau ada yang mau keluar tenda, salah satu dari kita harus ada yang menjaganya.” Arvin tak henti memperingati Awes dan juga Yoga.

Selama acara berlangsung, mereka bertiga akan berada dalam satu tenda. Saat ini, mereka tengah mengatur barang bawaannya untuk diletakkan di samping kasur mereka masing-masing.

“Oke,” jawab Awes dan Yoga bersamaan. Ini sudah puluhan kalinya Arvin memperingatinya. Membuat Awes hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.

“Kita masih belum tahu siapa Wolf. Bisa jadi dia diam-diam ikut acara ini dan cuma tinggal nunggu kita lengah aja, buat dia lancarin aksinya,” ucap Arvin lagi.

Awes dan Yoga kali ini hanya mendengarkan sembari menata barang-barang mereka.

“Atau siapa tahu aja, kalau sebenarnya Wolf itu ada di antara kita –”

“Ngaco lo, Vin!” putus Yoga cepat sambil menimpuk kepala Arvin dengan permen lolipopnya.

Arvin mengusap kepalanya. Ia mendesah pelan. Lalu, menoleh ke arah Yoga yang ada di belakangnya. Untung saja, permen itu masih terbungkus rapi. Aarvin tak bisa membayangkan jika permen itu telah diemut oleh cowok itu, sudah rambutnya akan lengket.

“Jangan potong omongan gue dulu! Maksud gue itu, bisa aja Wolf ada di antara kita, di luar tenda sana lagi ngawasin kita,” tambahnya sambil menunjuk ke arah luar tenda. Sementara Yoga hanya terkekeh tak berdosa.

“Ada benernya juga omongan Arvin. Yang penting kita semua harus tetap waspada dan jangan sampai lengah,” timpal Awes yang sudah selesai menata barang-barangnya.

Yoga menganggukan kepalanya. Setelah itu, mereka mempersiapkan diri untuk makan siang.

***

Happy kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, terduduk di atas kasur dengan kedua kaki juga dilipatnya. Ia ingin sekali menanyakan hal penting kepada Rosa–teman satu tendanya–perihal Bella dan Arvin yang dilihatnya sore itu. Happy begitu yakin kalau Bella pasti menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu.

Sayangnya, sedari tadi yang Rosa lakukan hanya asyik menatap layar ponselnya. Bukankah di tengah hutan seperti ini, seharusnya ia tidak mendapatkan sinyal? Lalu, apa yang begitu menarik pada ponsel miliknya, hingga netranya tak kunjung beralih pada benda itu? Entahlah, yang pasti Happy tak ingin tahu-menahu tentang hal itu.

Happy mengembuskan napasnya pelan. Ternyata berada di dalam tenda dan tanpa melakukan apapun, begitu membosankan. Cewek itu mengusap perutnya yang terasa lapar. Akhirnya, ia berniat keluar tenda untuk mengambil makan siang di Pendopo.

Namun, di saat Happy membuka tenda, tak sengaja manik matanya menangkap sosok Arvin dan Bella yang tengah berjalan beriringan menuju ke Pendopo. Mereka tampak asyik mengobrol sambil tertawa bersama. Happy yang melihatnya hanya mendesah pelan. Ia pun mengurungkan niatnya itu. Kini, ia lebih memilih untuk kembali masuk ke dalam tenda.

“Ros?” panggil Happy akhirnya.

“Hmm,” gumam Rosa tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponsel.

“Ada hubungan apa sih, Arvin sama Bella? Kok aku liat mereka jadi deket banget akhir-akhir ini?” tanya Happy to the point.

Kening Rosa tampak berkerut. Kenapa Happy tiba-tiba menanyakan Bella? Bukankah Happy tak begitu suka mencampuri urusan orang lain? Apa semua ini ada kaitannya sama Arvin? Pada akhirnya, Rosa beralih menatap Happy. “Kenapa emang? Kamu cemburu?” Selisiknya.

“Ng-nggak!” jawab Happy cepat sampai-sampai ia mengangkat kedua telapak tangannya di depan dada. “Aku … Aku cuma mau tahu aja,” jawabnya gugup. Happy merutuki dirinya sendiri. Tak seharusnya, ia memulai obrolan ini.

Rosa mengangguk paham. Ia tersenyum kecil melihat raut wajah Happy yang tampak kalut. Benar seperti dugaannya, walaupun cewek itu berkata tidak, tapi raut wajahnya mengatakan kalau Happy memang cemburu melihat Bella bersama Arvin. Rosa mengembuskan napasnya pelan sebelum ia menceritakan semuanya kepada cewek itu. “Bella sama Arvin nggak ada hubungan apa-apa, Py.”

Lihat selengkapnya