HANGATNYA sinar mentari masuk melalui celah di antara pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Udara segar pun mulai menyeruak masuk ke dalam tenda-tenda yang terbuka lebar.
Di pagi menjelang siang ini, siswa kelas X sudah berbaris rapi di lapangan. Mereka tampak terbakar semangat membara untuk mengikuti permainan outbound. Sebuah permainan yang telah disiapkan oleh para OSIS jauh hari, sebelum acara ini berlangsung.
Outbound diwajibkan untuk kelas X dengan dibimbing langsung oleh anggota OSIS. Always telah berada di barisan terdepan dengan ke-10 anaknya yang telah berbaris di belakangnya. Begitu pula Arvin dan anggota OSIS lainnya, yang juga telah berada di barisan depan dengan ke-10 adik kelasnya. Di hari kedua ini, mereka semua yakin akan menghabiskan hari mereka dengan lebih menyenangkan.
Sebagai pembina OSIS, Pak Sany telah siap untuk memberikan arahan kepada mereka semua. “Permainan pertama adalah membuat yel-yel,” beritahu Pak Sany dengan pengeras suara yang ada di tangannya.
Semua siswa bersorak riang. Juga siswa kelas XI yang hanya menonton di pinggir lapangan. Mereka begitu antusias untuk menonton permainan adik kelasnya.
“Setiap kelompok harus sekreatif mungkin membuat yel-yel beserta gerakannya,” tambahnya kemudian.
“Pak, hadiahnya apa buat yang menang permainan ini?” tanya Awes dengan mengangkat tangan kanannya ke udara. Sejujurnya, pertanyaannya itu hanya sebagai pemanis saja, karena pada kenyataannya anggota OSIS seperti Awes sudah tahu apa yang akan didapat oleh the winner.
“Pertanyaan yang bagus, Wes. Bagi yang memenangkan permainan ini, Bapak akan memberikan hadiah berupa mobil,” jawabnya.
Semua siswa kelas X tampak takjub akan hadiah yang akan mereka peroleh. Bahkan di antara mereka sampai membelalakan kedua matanya hingga menangkup mulutnya dengan kedua tangannyak arena tak percaya. Ada juga yang tampak berbisik-bisik bahwa kelompok merekalah yang harus memenangkan permainan itu.
“Tapi bohooong,” sahut Pak Sany kemudian yang diiringi oleh gelak tawanya. Sontak saja sorakan kekecewaan keluar begitu saja dari para siswa. Sedangkan para OSIS pun ikut tertawa geli mendengar bualan Pak Sany.
“Hahaha. Oke. Oke. Kali ini Bapak akan serius. Buat yang memenangkan permainan ini, Bapak akan memberikan …” Pak Sany menjeda ucapannya. Membuat seluruh peserta tampak semakin penasaran.
“Foto selfie pak Gay.” Kali ini mereka yang ada di lapangan, tak kuasa menahan tawa lepasnya hingga menggema di hutan pinus ini.
Bagaimana mungkin mereka akan mau mengikuti permainan ini jika hadiahnya seperti itu? Sungguh, tak berguna sekali. Oh, sepertinya akan berguna jika di malam hari. Ya, berguna untuk mengusir hewan buas jika foto itu ditempel di muka tenda.
Beruntung, orang yang tengah dibicarakan oleh mereka tak hadir di tengah-tengah mereka. Orang penting sepertinya hanya akan hadir esok hari di akhir acara glamping ini.
“Oke. Sekarang Bapak benar-benar akan serius,” timpal Pak Sany sambil menghentikan tawanya. Ia sadar bahwa pak Gay memiliki seseorang yang mungkin saja saat ini ada di tengah-tengah mereka. Mendengarkan dan menyaksikan mereka.
“Untuk yang menang, Bapak akan memberikan hadiah uang tunai sebesar 1000.000 rupiah perkelompok dan kalian berhak buat nggak ikut permainan selanjutnya di hutan sana,” tambahnya sambil menunjuk ke arah hutan yang ada di samping tempat mereka berdiri saat ini.
Semua tersenyum riang dan setuju dengan hadiah yang akan mereka peroleh. Mereka semua bertekad untuk bisa memenangkan permainan ini, supaya tak perlu masuk ke hutan yang cukup mengerikan itu. Siapa yang akan menyangka jika di malam hari, di hutan sana, terdengar suara raungan bermacam-macam hewan, hingga yang lebih mengerikan ialah suara raungan serigala. Ah, mungkin itu hanya halusinasi mereka saja, karena masih penasaran dan terbayang akan sosok Wolf yang masih menjadi misteri.
Awes dan ke-10 anaknya sudah membuat formasi lingkaran dan terduduk di atas rumput berwarna hijau. Kelompok Awes terdiri dari 5 orang cewek dan 5 orang cowok. Mereka tengah berdiskusi bersama.
“Kak, nama kelompok kita apa?” tanya Lita, salah satu anak Awes yang cewek.
Awes meletakkan jari telunjuknya di dagu, seakan tengah memikirkan sesuatu hal yang cukup rumit. “Gimana kalau Always Happy? Karena aku berharap kelompok kita ini akan selalu bahagia selamanya,” jawabnya dengan diiringi kekehan kecilnya.
“Wah, cocok tuh, Kak. Nama kelompok kita udah kayak nama Kak Always sama Kak Happy. Kalau disambung jadi always happy,” sahut yang lainnya. Kali ini Dito, anak Awes yang cowok.
Awes hanya bisa tersipu malu mendengarnya. Pasalnya, yang dimaksud Awes memang seperti itu. Ingat, kan? Bagi Awes setiap ucapan itu adalah do’a. Siapa tahu dengan menyebut namanya dan Happy, ia bisa benar-benar selalu bahagia bersama Happy. Atau bahkan, Awes bisa selalu bersama Happy. Selamanya.
Priiitt !
Pak Sany membunyikan peluitnya. Itu bertanda bahwa waktu diskusi sudah habis. Para OSIS beserta anak-anaknya sudah kembali berbaris. Pak Sany memilih secara acak kelompok mana yang akan lebih dulu menyanyikan yel-yel mereka. Dan pilihan pertamanya jatuh kepada kelompok Always.