RASA cemas mulai menguasai Wolf. Cemas akan kegagalan yang tak diharapkannya. Namun, tekadnya sudah bulat, ia harus benar-benar melakukan aksinya sesuai dengan apa yang sudah direncanakannya semalam. Ya, ia rela begadang demi membuat rencana dadakannya itu. Dan jika kegagalan yang didapatnya, habis sudah riwayatnya dan semua penghuni hutan ini akan mengetahui identitasnya. Tak boleh hal itu sampai terjadi. Ia harus benar-benar berhati-hati.
Kini dirinya tengah berada di antara dua tenda. Ia menyapu pemandangan sekelilingnya yang masih begitu ramai. Tak boleh gegabah, ia harus menunggu sampai keadaan benar-benar cukup aman.
"Permisi, Kak ..." sapa salah satu adik kelasnya yang hendak melintas dari hadapannya. Wolf tersenyum, lalu menundukkan sedikit kepalanya untuk membalas sapaan itu.
Kemudian, ia memperhatikan kembali keadaan di sekitarnya. Ia tersenyum senang saat kondisi sudah tak begitu ramai. Lalu, ia menoleh ke tenda sebelah kanannya. Ia mengambil ancang-ancang dan bersiap masuk ke dalam tenda. Siapa lagi kalau bukan tenda milik ... Raja.
***
Para pemburu harta karun sudah banyak yang berhasil kembali ke lapangan dengan membawa hasil buruannya. Mereka terduduk sambil meluruskan kedua kakinya. Tak sedikit dari mereka yang mengibaskan tangan ke arah wajahnya karena hawa panas mulai membekap tubuhnya. Kendati begitu, mereka masih tetap semangat untuk mendengarkan siapa yang akan menjadi sang juara.
Di luar lapangan, Awes asyik memberikan sorak sorai serta tepuk tangan meriahnya untuk mereka yang baru kembali dari hutan menuju ke lapangan. Namun, tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada perutnya. Ia meringis. Sepertinya, efek makanan pedas yang diberikan oleh sang nenek kemarin belum juga hilang. Sehingga kini, Awes mendapatkan 'panggilan alam'. Ia harus cepat pergi ke toilet, sebelum semua isi perutnya tumpah di lapangan ini.
"Bob, tolong gantiin gue jagain anak-anak, ya! Gue mau ke toilet bentar," perintah Awes kepada si gembul Bobby, yang hanya dianggukan saja olehnya.
Awes segera berlari menuju ke toilet yang berada di dekat tendanya. Sesampainya di depan pintu toilet, ia menggedor pintu keras-keras, berharap orang yang ada di dalam segera ke luar.
"Siapa di dalam? Cepetan keluar!" teriak Awes sambil masih menggedor pintu. Sayangnya, tak ada sahutan dari dalam.
Awes mengerutkan keningnya. Kenapa tak ada sahutan dari dalam? Apa yang dilakukan orang itu di dalam sana? Penasaran. Awes pun mendekatkan telinganya ke arah pintu. Kini, ia bisa mendengar suara gemericik air, juga lagu yang mengalun dari dalam. Seketika ia teringat akan seseorang dan sekarang ia tahu siapa orang yang ada di dalam sana.
"Arvin! Cepet keluar! Gue udah nggak kuat!" teriak Awes lagi sambil menggedor pintu. Awes yakin bahwa di dalam adalah Arvin. Bukankah tadi Arvin bilang kalau ia akan mandi untuk membersihkan dirinya dari lumpur yang melekat di tubuhnya? Ya, tidak salah lagi.
"ARVIN!" teriakan Awes semakin keras bersamaan dengan gedoran pintu yang juga semakin keras. Namun, lagi-lagi tak ada sahutan dari dalam. Sia-sia saja Awes mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk menggedor pintu tadi.
Awes hanya bisa meringis menahan sakit pada perutnya yang kini sudah menjalar hingga sampai di ujung tanduk. Tak boleh terus berada di sini. Ia harus mencari cara lain. Arvin? Ah, mungkin saja karena lagu yang diputarnya cukup keras sehingga cowok itu tak mendengar teriakan serta gedoran pintu darinya. Begitu pikir Awes.
Pada akhirnya, Awes melihat pintu toilet cewek yang ada di seberangnya, tengah kosong dan terbuka lebar. Ia tersenyum hingga kedua bola matanya tampak berbinar-binar. Seakan pintu itu tengah memanggilnya, Awes segera berlari menuju ke sana dan masuk ke dalamnya. Masa bodoh dirinya dihujat ataupun diamuk oleh para cewek nantinya. Yang terpenting saat ini ialah, ia bisa mengeluarkan isi perutnya itu dengan nyaman dan damai.
***
Awes baru saja keluar dari toilet, tersenyum riang sambil merentangkan kedua tangannya ke udara. Lega. Itulah yang tersirat di wajahnya saat ini.
Tak lama kemudian, Arvin juga keluar dari toilet dengan mengusapkan handuk di kepalanya. Arvin mengernyit heran saat melihat Awes yang baru saja keluar dari toilet cewek. Kini, ia melihat kalau cowok itu tengah melambaikan tangannya ke arahnya, dan berlarian kecil menghampirinya.
"Lo abis ngapain di toilet cewek?" selisik Arvin setelah Awes berada di depannya.
"Biasa. Abis menunaikan tugas negara," dalihnya dengan memainkan kedua alisnya sambil mengusap perutnya.
Arvin berdecak pelan. "Gila lo! Kenapa harus di toilet cewek? Lo kan bisa pake toilet yang di deket pendopo," tutur Arvin dengan masih mengusapkan handuk di rambutnya.