Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #16

15 - The Last Night

"PINKY, kamu di mana?" Rosa sedari tadi, tampak bingung mencari sandal berwarna pinknya yang hilang.

"Ya, ampun. Nggak mungkin kan gue pake sandal cuma sebelah doang," gerutunya kesal. Pasalnya, ia sudah mencarinya di sekitar tenda hingga sampai di bawah bantalnya. Namun, ia tak kunjung menemukannya.

Happy turut dibuat bingung oleh sikap Rosa ketika baru masuk ke dalam tenda. "Kamu lagi nyari apa, Ros?" tanyanya ketika melihat Rosa yang tengah kebingungan mencari sesuatu.

"Sandal aku hilang sebelah, Py. Tolong bantu aku cari dong!" pintanya dengan masih mencarinya di sekitar kasur miliknya.

Happy mengernyit heran. "Aneh, kok bisa hilang, sih?"

"Aku juga nggak tahu, Py. Tadi, aku ketiduran. Pas bangun, pinky aku udah hilang sebelah," terangnya yang masih enggan menatap lawan bicaranya. Rosa masih fokus mencari benda kesayangannya itu di sekitar kasur miliknya.

Happy semakin bingung saja. Mana mungkin sandal itu bisa hilang jika si pemiliknya tengah tertidur? Mungkinkah ada seseorang yang telah mengambilnya? Tapi, siapa orang yang sudah masuk ke dalam tendanya dan mengambil sandal milik Rosa?

Happy tak tega melihat kawannya tampak semakin kalut. Ia pun segera berjongkok dan membantu mencarinya di sekitar kasur miliknya. Tak ada tanda-tanda keberadaan sandal itu, Happy berdiri dan mencoba untuk mencari di sekitar luar tenda. Sayangnya, nihil. Happy juga tak bisa menemukan benda tersebut.

"Yaah ... Terpaksa deh, aku harus nyeker." Keluh Rosa dengan terduduk dan menundukkan kepalanya.

***

Terlihat semburat cahaya berwarna jingga di atas langit. Semilirnya angin yang tenang menambah nikmatnya waktu menjelang malam. Cuaca panas perlahan mendingin. Sinar mentari kian redup dan siap menghilang di balik punggung gunung.

Penerangan cahaya lampu, membuat pekat malam menjadi terang benderang. Udara yang semakin dingin, membuat sebagian siswa enggan untuk keluar tenda. Mereka lebih memilih untuk berada di dalam tendanya sampai acara api unggun dimulai. Namun, juga tak sedikit dari mereka memilih untuk berada di luar, menikmati suasana hutan di bawah sinar rembulan.

Berbeda halnya dengan Always. Ia tengah berada di luar tenda, memakai jaket berwarna biru, dengan bertuliskan 'OJOLALI' di punggungnya. Ia duduk di atas kursi kayu panjang dengan meja di depannya. Di bawah sorot cahaya lampu pijar, jari-jemari cowok itu tengah bergerak lincah memainkan senar gitar kesayangannya sambil bersenandung kecil menyanyikan sebuah lagu Bintang di Surga milik Peterpan Band.

Tepat di depan Awes, Arvin tengah menikmati hangatnya Pop Mie yang telah diseduhnya beberapa menit yang lalu. Efek dingin membuat cowok itu merasa lapar untuk kedua kalinya. Pasalnya, dua jam sebelumnya ia sudah makan nasi padang bersama Awes. Arvin memakan mienya sambil memasang kedua telinga untuk mendengarkan suara merdu Awes. Sesekali,Arvin juga bersenandung mengikuti nyanyian lagu Awes di dalam hatinya.

Bagai bintang di surga.

Dari seluruh warna.

Dan kasih yang setia.

Dan cahaya nyata.

Dari kejauhan, Happy yang mengenakan jaket berwarna krem dengan hoodie berbulu berwarna putih, tersenyum menatap kedua sahabatnya. Ia pun memilih untuk menghampiri mereka dan disambut hangat oleh keduanya. Happy duduk di samping Arvin. Sedangkan Awes, tersenyum menatap Happy yang duduk di depannya sambil masih bernyanyi.

"Kamu mau Pop Mie?" tawar Arvin kepada Happy dengan menyodorkan miliknya ke arah cewek di sampingnya.

Dengan cepat Happy menggeleng dan melambaikan tangannya di depan dada. "Nggak, Vin. Makasih. Aku baru makan tadi."

Arvin mengangguk dan kembali meraih Pop Mie-nya untuk disantapnya kembali. Sedangkan Awes tiba-tiba saja menghentikan nyanyiannya dan dalam sekejap suasana sunyi hutan menyambut mereka. Tak hanya itu, suara jangkrik pun saling bersahutan menggantikan suara merdu Awes.

Awes mendekap gitarnya, lalu menatap tajam Arvin.

Arvin dan Happy sama-sama menoleh ke arah Awes. Mereka mengernyit heran. "Kenapa berhenti nyanyi, Wes?" tanya Arvin sambil menyeruput Mie di dalam cup-nya. "Terus, kenapa lo liatin gue kayak gitu?" tanyanya heran saat melihat Awes tengah menatapnya dengan tajam.

Happy tak bersuara, menunggu saja jawaban apa yang akan terlontar dari bibir Awes.

"Kenapa yang ditawarin Pop Mie cuma Happy aja? Sedangkan gue yang dari tadi ada di depan lo, nggak lo tawarin sama sekali," gerutu Awes kesal. Ia pun langsung merebut Pop Mie milik Arvin dan memakannya.

Pada mulanya Arvin terpegun dengan ucapan Awes. Bukannya ia tak mau menawarinya, hanya saja dirinya sudah lebih dulu larut ke dalam suara merdu Awes, hingga ia lupa untuk menawarinya. Tapi, Arvin juga kesal jika Pop Mie-nya direbut begitu saja oleh Awes bahkan sampai dihabiskannya.

"Wes, Wes. Siniin nggak Pop Mie gue! Jangan dihabisin! Gue masih laper," seru Arvin dengan berusaha keras merebut kembali Pop Mie miliknya dari tangan Awes. Sayangnya, Awes tetap tak mau memberikan cup itu sebelum ia menyeruput isinya hingga tetes terakhir.

Lihat selengkapnya