DENGAN mengenakan T-shirt berwarna merah yang dipadu padankan dengan celana jeans berwarna hitam, Always tampak menyisir rambut berwarna hitamnya di depan cermin. Weekend pagi ini, ia memiliki janji dengan Happy untuk menemaninya pergi ke Panti Asuhan. Happy pernah bilang, kalau hal tersebut sudah menjadi rutinitas di setiap bulannya. Dan kali ini, suatu kebanggaan untuk Awes bisa menemani cewek itu pergi ke sana.
Setelah menyisir rambutnya, Awes menatap penampilannya yang terpantul di balik cermin. "Gue udah ganteng belum, ya?" tanyanya sambil berulang kali memutar tubuhnya–melihat seluruh penampilannya–dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu udah ganteng kok, Wes," seru seseorang tiba-tiba.
"Astagfirullahal'adzim." Awes berjingkat kaget sambil mengelus dada ketika menemukan Neneknya dengan rambut panjang sepinggang berwarna putih yang terurai, telah berdiri di belakangnya sembari menatapnya, entah sejak kapan.
"Kenapa nggak ketuk pintu dulu sih, Nek?" omel Awes kepada sang Nenek. Awes kesal karena Neneknya itu seenaknya saja masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Untung saja Awes sudah berpakaian lengkap. Bagaimana jika ia belum mengenakan sehelai pakaian? Oh, astaga! Awes benar-benar tak bisa membayangkannya.
"Salah kamu sendiri, kenapa lupa tutup pintu?" beritahu sang Nenek yang tak mau disalahkan.
Awes memukul keningnya pelan. Benar saja yang dikatakan Nenek, kalau Awes memang lupa menutup pintunya. Ternyata kebiasaannya sejak kecil, sudah mendarah daging dan tak bisa dihilangkan dari dirinya. Awes hanya tersenyum kecut menatap Neneknya, lalu berkata, "Hehe. Maaf, Nek."
"Kamu mau ke mana, Wes? Mau kencan, ya?" tanya Nenek heran saat melihat cucunya telah rapi.
Awes tersenyum sambil memainkan kedua alisnya menatap Nenek. "Iya, Nek. Mau kencan sama Happy," dusta Awes yang berharap ucapannya itu menjadi nyata.
Nenek terpegun, ia tak pernah mengira bahwa pada akhirnya cucunya itu telah memiliki pacar. "Ya ampun, Wes. Nenek kira kamu bakal selamanya ngejomblo. Ya udah sana, buruan kamu jemput pacar kamu!" titah sang Nenek memberi komando.
Lagi-lagi Awes hanya bisa tersenyum kecut sambil meratapi ucapan Nenek yang telah berhasil membuatnya tersindir. Bagaimana tidak? Kenyataannya, memang dirinya masih menjomblo, kan?
"Nggak perlu, Nek. Karena Happy yang akan datang ke sini. Dia juga mau ketemu sama Nenek." Awes berbalik menatap cermin, menyisir kembali rambutnya yang masih terlihat rapi. Kemudian, ia menyemprotkan sedikit parfum pada T-shirt yang dikenakannya sambil manik matanya menangkap sang Nenek yang tampak terkejut dari cermin.
"Haduuhh ... Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, sih?" omel Nenek yang kini tampak kalang kabut. Ia pun berniat untuk keluar dari kamar Awes.
Awes yang melihat gelagat kalut dari sang Nenek, ia segera membalikkan tubuhnya. "Mau ke mana, Nek?"
Nenek menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Awes dan menjawabnya, "Nenek mau dandan. Nenek harus terlihat cantik juga, karena si cantik Happy mau datang ke sini buat ketemu Nenek," sahutnya, lalu kembali melangkahkan kakinya keluar kamar dan tak lupa menutup kamar Awes.
Dandan? Awes hanya bisa tersenyum serta menggelengkan kepalanya, takjub sendiri oleh perkataan Neneknya barusan.
***
"Assalamualaikum." Happy tiba di muka pintu rumah Awes dan mengucap salam. Nenek pun langsung menyambut gadis itu setelah menunggunya di ruang tamu sejak beberapa jam yang lalu.