Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #19

18 - Who Are You?

SMA Permata tak ada habisnya dirunding sebuah kasus. Padahal, satu kasus saja belum terselesaikan, tapi entah kenapa telah berdatangan kasus-kasus yang lainnya secara bergantian.

Seperti jam istirahat sekarang ini, semua penghuni sekolah tengah membicarakan desas-desus tentang kasus pencurian baru yang telah menimpa beberapa siswa. Bahkan kasus kali ini menjadi trending topic nomor satu di sekolah mereka, yang menggeser kabar tentang Wolf yang saat ini berada diperingkat kedua.

Bagaimana tidak? Pencurian kali ini begitu menarik, karena para korbannya hanya kehilangan beberapa alat tulis saja. Seperti; pensil, pulpen atau penghapus. Mereka semua menduga bahwa Wolf-lah tersangka utamanya.

“Kira-kira siapa yang melakukannya?” Lisa angkat suara, ia tak kuasa menahan rasa penasarannya.

The Richest yang kini berada di kelas Gavin, tak mau kalah. Mereka pun juga tengah membicarakan tentang kasus itu.

“Gue yakin pasti Wolf yang melakukannya,” jawab Raja begitu yakin.

Gavin yang tengah membaca bukunya pun terasa terpanggil untuk angkat suara. Ia menutup bukunya dan mulai berhipotesa, “Bukan Wolf yang melakukannya.”

Semua terperangah, tak percaya dengan apa yang telah diucapkan cowok itu. Hingga secara bersamaan, mereka menoleh ke arah Gavin.

Gavin hanya mendesah kecil melihat raut muka sahabatnya yang tampak terkejut. “Wolf nggak akan mau buang-buang waktunya, buat ngambil barang yang nggak berharga kayak gitu,” jelas Gavin kemudian.

Kevin mengernyit heran. Batinnya terus bertanya. Bagaimana cowok itu bisa tahu tentang hal itu? Sayangnya, ia hanya memilih diam saja, tanpa bisa mengutarakan pertanyaannya langsung kepada Gavin. “Kalau bukan Wolf. Lalu, siapa yang melakukannya?” tanyanya akhirnya.

“Awes. Gue yakin Wolf yang sebenarnya adalah si tukang ojek miskin itu.” Raja menimpali. “Awes si serigala berbulu domba yang terlihat baik di depan, tapi busuk di belakang. Seharusnya Happy nggak boleh terus-terusan dekat sama itu cowok,” tambahnya kemudian.

Lisa mengepalkan tangannya. Ia tak kuasa menahan getaran di dadanya yang begitu sesak, akibat Raja menyebut nama Happy di hadapannya. Ia pun ikut menyahuti, “Bisa saja kalau Happy adalah Wolf yang sebenarnya. Nggak menutup kemungkinan, kan?”

“Lo jangan sok tahu, ya, Lis! Nggak mungkin Happy itu Wolf. Happy, cewek yang baik.” Raja geram. Ia tak terima Lisa menuduh cewek yang disukainya seperti itu.

Lisa hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ia tak menyangka kalau Raja akan membela cewek itu. Ia pun memilih untuk diam saja. Membiarkan gejolak amarahnya tertahan di relung hati, menahan sesak yang teramat menyakiti.

Gavin berusaha menengahi perdebatan kecil di antara Raja dan Lisa. Ia kembali angkat suara. “Udah lah! Kita nggak tahu siapa Wolf yang sebenarnya, termasuk gue. Jadi, yang perlu kita lakukan sekarang, waspada saja. Bukankah Wolf sedang mengincar di antara kita?”

Semua terdiam. Mereka setuju dengan apa yang diucapkan oleh Gavin barusan. Mereka hanya perlu waspada, karena mereka tak pernah tahu siapa di antara mereka yang akan menjadi korban Wolf selanjutnya.

Di tengah-tengah kekalutan pikiran di antara geng The Richest, iba-tiba saja seorang cewek bertubuh mungil datang ke kelas dengan membawa sebuah coklat berpita pink. Cewek itu adalah Raisa yang merupakan adik kelas mereka. Raisa begitu menggilai Gavin. Ia sangat menyukai pribadi Gavin yang pendiam. Ia juga berharap, Gavin bisa menjadi kekasihnya.

“Ini buat kamu,” ucap Raisa dengan menodongkan coklatnya ke arah Gavin. Dengan jantungnya yang kini berdetak begitu cepat, juga rasa gemetar yang hebat di sekujur tubuhnya. Ia memberanikan diri untuk bilang, “Kak Gavin, a-aku su-suka kamu.”

Hening. Semua yang ada di sana hanya bergeming. Semua bersedekap dan memperhatikan saja apa yang akan dilakukan adik kelasnya itu selanjutnya.

Raisa salah tingkah ketika melihat ketiga teman Gavin yang memperhatikannya. Bahkan, Gavin pun turut bergeming menatapnya. Raisa meneguk salivanya dengan susah payah. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

“Aku tahu kalau aku nggak tahu malu udah ungkapin isi hati aku ke kamu. Aku nggak berharap lebih, aku cuma mau kamu terima cokelat ini, Kak Gavin. Begitu saja, aku juga udah senang,” sahut Raisa penuh harap dengan tangannya masih mengambang di udara.

Gelak tawa memekakkan telinga. Kini Lisa, Raja, dan Kevin tak kuasa menahannya lagi. Sedangkan Raisa, semakin dibuat malu. Ia pun memilih untuk menundukkan wajahnya yang bersemu merah.

“Kalau kamu suka sama Gavin, seharusnya kamu kasih dia barang yang mahal, dong. Masa sih cuma ngasih cokelat yang murahan kayak gitu!” Lisa yang masih tertawa pun tak kuasa untuk bersuara.

Raisa mengangkat wajahnya yang semerah tomat dan menatap sinis ke arah Lisa. “Aku bisa, kok, ngasih jam tangan mahal ke Gavin. Ayahku itu seorang pengusaha yang kaya raya. Jadi, aku pantas mendapatkan Gavin.”

Gavin menggelengkan kepalanya. Sejujurnya ia jengah. Gavin berdiri. Semua mata pun tertuju ke arahnya.

“Udah, nggak usah pada ribut!” tutur Gavin dengan sedikit menaikkan volume suaranya.

Lihat selengkapnya