Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #21

20 - Katak

PADA pagi hari ini, suasana kelas XI 1PS 3 tampak begitu sepi, tak ada satu pun siswa berwara-wiri dan ke sana kemari. Itu karena semua penghuninya tengah memiliki jadwal di ruang lab komputer yang berada di lantai tiga.

Namun, tak lama kemudian, Wolf dengan mengenakan jaket andalannya mengendap masuk ke dalam kelas yang tak berpenghuni itu. Ia menutup pintu perlahan, lalu dengan santainya melangkahkan kedua kakinya masuk lebih dalam menuju ke kursi di belakang kelas. Di barisan kedua sayap kiri, di sanalah dirinya berada saat ini, tengah melirik ke arah arloji pada pergelangan tangannya. “Aman,” ucapnya kemudian.

Wolf duduk di sana dengan meletakkan sebuah tas ransel yang cukup bermerk di atas meja. “Waahh … Tasnya saja sudah bermerk kayak gini. Pasti di dalamnya banyak barang yang mahal-mahal, nih.” Dari balik masker, Wolf tersenyum riang. Ia mengusap kedua tangannya yang bersarung tangan, sebelum mulai membuka satu persatu resleting pada tas itu.

Sayangnya, aksinya kali ini tak sesuai dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Wolf panik. Karena dirinya tak kunjung menemukan barang yang diinginkannya. Seakan pemilik tas itu sudah tahu, bahwa dirinyalah yang akan menjadi sasaran Wolf selanjutnya. Oleh sebab itu, tak ada barang berharga yang dapat ditemukan oleh Wolf saat ini.

“Ya ampun, bagaimana ini? Aku harus cepat menemukannya sebelum mereka datang,” ucapnya sedikit panik. Ya, karena waktunya sudah tak banyak lagi.

Wolf terus mencari, hingga menumpahkan semua isi di dalam tas tersebut. Ia juga merogoh satu persatu bagian-bagian dalam pada tas itu, hingga pada akhirnya ia menemukan sebuah jam tangan di bagian bawah tas, yang terselip di antara buku.

“Waahh … Louis Moinet. Cantik sekali. Hahaha. Ternyata dia ceroboh juga ninggalin jam tangan semahal ini.” Wolf menyeringai sembari menatap jam tangan yang di dalamnya terdapat potongan meteroit yang berasal dari bulan. Kini jam tangan tersebut sudah berpindah tangan dan menjadi miliknya.

Walaupun Wolf tak mendapatkan uang di dalam tas tersebut, tapi setidaknya ia sudah mendapatkan benda yang jauh lebih berharga dari itu. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ia pun tak lupa untuk merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia juga menyematkam secarik kertas di antara buku-buku. Dan tanpa membuang banyak waktu, ia bergegas pergi meninggalkan kelas.

Wolf tersenyum riang seraya memasukkan hasil curiannya ke dalam saku jaketnya. Setelah itu, ia pun segera menuruni anak-anak tangga untuk menuju ke lantai dasar. Bersamaan dengan itu, para siswa XI IPS 3 turun ke lantai 2 menuju ke kelas mereka. Kali ini, bukan lagi toilet lantai 2 yang dijadikan sebagai tempat menyembunyikan barang curiannya itu. Melainkan sebuah tempat yang jauh lebih aman untuk dirinya maupun barang curiannya bersembunyi. Bahkan, ia begitu yakin kalau tak akan ada satu pun orang yang bisa menemukannya.

***

Penghuni kelas XI IPS 3 telah kembali ke sarang mereka. Sembari menunggu kelas selanjutnya, beberapa siswa memilih untuk pergi ke toilet mau pun berlalu-lalang di sekitar kelas. Ada pula yang bernyanyi, curhat, maupun bergosip ria, menebak-nebak siapa Wolf yang sesungguhnya. Seperti 3 orang cewek yang tengah duduk di meja guru.

“Gue yakin kalau pak Gay itu Wolf.”

“Bukan, jangan-jangan kang Maman lagi.”

“Iihh … Bisa jadi pak Sany atau bu Aya.”

“Atau jangan-jangan lo sendiri lagi Wolfnya.”

“Ngaco, lo,” protes salah satunya yang tak terima jika dirinya disebut sebagai Wolf.

Mereka pun tertawa lepas diiringi dengan suara riuh dan juga gaduh.

Lain halnya dengan sang raja di sekolah ini. Ia adalah Raja. Dengan menumpahkan semua isi di dalam tasnya, cowok bertubuh jangkung dan berkulit putih itu tampak begitu kalut mencari sesuatu. Tadi, ia lupa untuk mengenakan benda yang sangat berharga itu dan meninggalkannya di dalam tas. Namun, seakan raib, kini benda itu tak kunjung ditemukannya. Mati gue. Ke mana jam tangan itu?

Kevin yang tengah bersenandung kecil sambil mendengarkan musik melalui headphone-nya di seberang kursi milik Raja, mengerutkan kening heran ketika mendapati cowok itu tampak begitu kalut. Ia pun melepas headphone-nya dan memasangnya di bagian tengkuk leher. Lalu, menghampiri sahabatnya itu.

“Ja, lo kenapa?” tanyanya penasaran saat sudah berada di meja Raja.

Lihat selengkapnya