Kombes Pol Adam tengah mengamati setiap sudut-sudut kelas yang terpasang kamera CCTV di depan koridor kelas XI IPS 3 yang tampak sepi. Beralih dari sana, kini maniknya menangkap sebuah tempat sampah yang terletak tak jauh di depannya. Ia pun melangkahkan kedua kakinya menuju ke sana untuk menilik ke dalamnya.
“Bisa saja si pelaku dengan sengaja membuang hasil curiannya itu ke dalam tempat sampah ini”. Adam membatin ketika sudah berada di depan tempat sampah itu. Lalu, ia pun segera mengambil sarung tangan di saku seragam dan memakainya. Setelah itu, merogoh isi di dalam tempat sampah itu.
"Lapor Komandan! Semua siswa yang sudah kami temui, memiliki alibi yang cukup kuat," lapor salah satu anak buah Adam yang berpangkat sebagai Inspektur Dua Bareskrim Polri.
Adam menghentikan aktivitasnya dan mengangguk. "Kalian yakin sudah semuanya?" tanyanya menatap kedua anak buahnya seraya melepas sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah.
"Hanya ada satu siswa yang belum kami selidiki," tukas Ipda Jaka yang merupakan orang kepercayaan Adam.
Adam mengernyit heran. "Siapa?"
"Happy."
Adam mengembuskan napas beratnya. Ia bergeming sesaat, menundukkan kepala, menatap pantulan bayangan dirinya pada lantai, sembari mengurut keningnya perlahan. Kemana anak itu?
Namun, tak beberapa lama kemudian, Adam kembali menatap ke arah Ipda Jaka dan mengangguk saja. Ia percaya bahwa anak gadisnya itu tak mungkin menjadi seorang tersangka atas kasus yang tengah diselidikinya saat ini.
Kini, Adam memilih untuk berjalan ke arah toilet yang ada di samping kanannya. Sedangkan kedua anak buahnya membuntutinya di belakang. Sesampainya di muka toilet, sudah ada beberapa anak buahnya yang lain di sana, tengah melakukan penyidikan. Namun, kini netranya beralih ke satu bilik toilet yang bertuliskan 'RUSAK' di depannya.
"Kang Maman, punya kunci pintu bilik toilet yang rusak ini, nggak?" tanya Adam kepada Kang Maman yang sedari tadi membuntutinya. Ya, Adam memang sengaja menyuruh cleaning service sekolah itu berada terus di sampingnya agar lebih mudah jika ada sesuatu yang dibutuhkannya.
"Ah, iya. Ada, Ndan." Kang Maman pun merogoh saku celananya dan memberikan kunci kepada Adam.
Adam menerimanya dan segera membuka bilik toilet itu. Setelah berhasil dibuka, ia pun mengamati bagian dalam toilet.
"Apa bilik ini jarang ada yang buka?" tanyanya penasaran kepada Kang Maman saat hanya menemukan sebuah ember besar yang berlubang di dalamnya.
"Iya, Ndan. Saya juga nggak pernah membersihkan bilik ini karena sudah nggak terpakai dan rusak."
"Apa ada bilik toilet lain yang rusak selain di sini?"
"Saya rasa nggak ada, Ndan."
Adam mengangguk, tetapi arah pandangnya tetap menatap ke arah ember besar itu. Entah kenapa Adam merasa bahwa di dalam bilik toilet ini seakan telah menjadi saksi bisu atas kejahatan Wolf. Mungkinkah, pelaku setiap kali beraksi menyembunyikan barang hasil curiannya di ember itu?
Beralih dari sana, kini arah pandang Adam menuju ke tempat sampah di samping wastafel. Sedangkan salah satu anak buahnya, mulai menyidik bagian dalam bilik toilet yang rusak.
"Biasanya sampah-sampah ini akan dibuang ke mana, Kang?" tanya Adam kepada Kang Maman sambil menunjuk tempat sampah itu.
"Saya biasanya buang di tempah pembuangan sampah yang ada di belakang sekolah. Besok pagi bakalan ada truk sampah yang mengangkut sampah-sampah itu," terang Kang Maman.