Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #25

24 - Friendzone

WOLF berada di suatu tempat yang luas dengan dominasi ruang serba putih. Di depannya, ada beberapa ranjang yang berjejer dan saling berhadapan. Tercium aroma khas obat-obatan yang begitu menyengat berasal dari ruangan ini.

Wolf duduk di dekat dinding dengan jari jemari lentiknya menari indah di atas kertas. Apalagi jika bukan menulis sebuah pesan yang ditujukan untuk korbannya.

Wolf tersenyum senang setelah mengakhiri tulisannya. Ia pun kembali membaca tulisan tersebut di dalam hati. Setelah itu, ia menyeringai dan berkata, “Aku tidak menyukaimu, Monyet!”

Namun, tak lama kemudian, ponselnya berdering. Ia menoleh ke arah ponselnya yang terletak tak jauh dari kertasnya. Lagi-lagi, ia tersenyum senang saat mendapati sebuah panggilan masuk dari seseorang yang sangat dikenalinya.

Buru-buru ia mengangkat panggilan tersebut. Hingga tak sadar dengan apa yang telah diucapkannya. “Halo, Nyet.”

Wolf terperangah. Kedua netranya membulat. Ia juga membungkam mulutnya dengan tangan kirinya yang bebas. Sungguh, ia tak sadar jika bibirnya telah mengeluarkan kata yang kelewat ekstrim dan berhasil membuat lawan bicaranya marah.

“Ma-maaf. A-aku lagi menulis surat. A-aku terlalu menghayati tulisanku dan nggak sadar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku,” akunya gugup. Jujur saja, saat ini yang diharapkannya ialah, agar orang itu memercayai ucapannya.

Wolf kembali mendengarkan lawan bicaranya berbicara di ujung telepon sana. Dan ia pun mengembuskan napas leganya setelah orang itu mengubah topik pembicaraan.

“Aku ada di rumah sakit sekarang,” jawabnya akhirnya.

Di tempat yang berbeda, Awes merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sambil menatap langit-langit kamarnya, ia terkekeh mendengarkan seseorang berbicara melalui saluran ujung teleponnya. Baginya, suara cewek itu sangatlah menggemaskan.

“Iya, nggak apa. Kamu di mana sekarang?” tanya Awes kemudian.

Namun, detik berikutnya, Awes terlonjak kaget hingga langsung terduduk di atas ranjang. “Apa? Di rumah sakit? Siapa yang sakit?”

Awes kembali mendengarkan sebelum kembali bertanya, “Di rumah sakit mana?”

Awes yang cemas segera beranjak dari ranjangnya dan melangkahkan kedua kakinya berjalan ke arah lemari pakaiannya. Ia mengambil jaket dan segera memakainya. Setelah itu, bersiap untuk keluar kamarnya.

“Kamu tunggu di sana! Aku ke sana sekarang.”

***

Rumah Sakit Pratama adalah tujuan Awes saat ini. Ia mengendarai motor bebeknya dengan kecepatan sedang. Sungguh, ia begitu mencemaskan kondisi cewek itu. Hingga saat ini yang terlintas di hadapannya ialah wajah pilu cewek itu. Awes menggelengkan kepalanya. Ia tak akan membiarkan cewek yang disukainya bersedih. Oleh sebab itu, tujuan Awes menemuinya ialah untuk menghiburnya.

Awes berlari menyusuri koridor rumah sakit yang pada siang hari ini tampak begitu ramai. Langkah kakinya langsung tertuju pada ruang VVIP. Kini, kedua maniknya menyorot seorang cewek yang tengah menunggunya di muka pintu ruangan. Cewek itu tengah menyandarkan punggungnya pada pintu dengan bersedekap. Awes tersenyum dan memegangi dadanya. Entah kenapa melihat cewek itu dari jauh saja sudah membuat jantungnya berdenyut lebih cepat. Apalagi jika dari dekat, mungkin saja jantungnya itu sudah tak lagi ada di tempatnya.

“Happy.” Cewek itu menoleh saat seseorang memanggil namanya. Ia pun tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Awes.

“Bagaimana keadaan bunda kamu? Apa sudah baikan?” tanya Awes dengan napas yang memburu.

Happy menggeleng lemah. “Kondisi bunda masih lemah, Wes. Kata dokter, bunda terlalu memforsir tubuhnya saat kerja. Alhasil bunda kelelahan dan tumbang,” jawabnya gamang.

Awes mendesah pelan saat melihat Happy tertunduk. Sungguh, melihat Happy seperti itu membuat hatinya terasa begitu ngilu. Ia pun memegang kedua pundak cewek itu sekadar untuk memberikannya semangat. “Kamu nggak perlu sedih, ya, Py. Bunda kamu pasti baik-baik saja.”

Happy mengangkat wajahnya dan menatap Awes. Ia tersenyum. Entah kenapa, kata-kata Awes barusan bisa membuat dirinya terasa sedikit lebih tenang. “Kamu mau masuk lihat bundaku, Wes?” ajaknya kemudian dan Awes mengangguk.

Awes begitu takjub saat melihat suasana kamar rumah sakit yang begitu luas. Baginya ruangan ini bak kamar hotel berbintang lima. Bagaimana tidak? Di ruangan luas serba putih ini, terdapat meja makan, sofa bed, dapur mini, TV, lemari pendingin, dan juga ranjang elektrik.

Namun, beralih dari semua itu, Awes merasakan dadanya terasa sesak saat menatap Kirana yang terbaring lemah di atas ranjang tanpa bisa menikmati fasilitas mewahnya ini. Bahkan, bagian tubuh wanita itu terpasang sebuah alat infus serta alat bantu pernapasan untuk menopang kehidupannya.

Kini, Awes masih bisa bersyukur, walau tak pernah merasakan fasilitas mewah seperti ini, setidaknya ia masih diberi nikmat sehat untuk tetap bisa mencari pundi-pundi rupiah.

Lihat selengkapnya