RAJA terduduk di sofa seraya menatap penuh tanya amplop berwarna cokelat yang saat ini ada di pangkuannya. Ada debaran yang tak wajar di dalam sana, saat akan membukanya. Sungguh, entah apa isi di dalam amplop yang tebal ini, hingga membuat keringat dinginnya merebak keluar.
Raja tercengung, tangannya bergetar ketika menemukan sepucuk surat dan juga uang di dalam amplop tersebut. Uang yang jumlahnya tidaklah sedikit, sehingga berkali-kali netranya mengerjap tak percaya.
Raja meletakkan uang tersebut di atas meja. Kemudian, tanpa buang waktu, ia membuka surat dan membacanya.
"Hai katak ....
Kenapa kau bersembunyi? Kau tahu? Aku jadi sulit untuk menemukanmu. Tapi, bukan Wolf, jika aku tak bisa menemukan keberadaanmu saat ini.
Oh sungguh, Katak yang malang...
Kau melompat terlalu tinggi, sehingga kau terjatuh dan tak bisa melompat kembali. Bukankah aku sudah memperingatimu?
Aku hanya ingin mengembalikan milikmu yang telah kuambil. Karena aku sudah tak membutuhkannya lagi. Dan, aku memberikanmu sedikit milikku, supaya bisa kau pakai bersama ibumu. Kali ini kau harus percaya kepadaku, jika itu benar-benar milikku, bukan barang berharga milik orang lain yang kucuri.
Aku harap dengan apa yang aku berikan kepadamu, kau bisa bangkit dan bisa kembali melompat lagi. Tapi, kau harus ingat! Jangan kau melompat terlalu tinggi, karena kau akan jatuh kembali."
Wolf
Raja mengembuskan napas kecilnya setelah membaca surat itu. Ia merasakan kedua matanya memanas. Sungguh, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, rasa bersalah selalu menghantuinya setiap saat. Namun, apa gunanya saat ini menyesali semua perbuatannya? Semua telah terjadi dan yang harus dilakukannya saat ini, ialah membangun benteng pertahanannya untuk tetap kuat menerima kenyataan pahit yang saat ini telah menimpa hidupnya.
Suatu kejadian berkelebat cepat hingga sukses mengusik ruang pikirannya. Kini, memorinya telah menembus batas waktu menuju kejadian saat di mana jam tangan mahalnya raib dicuri oleh Wolf. Saat itu, ia melihat rekaman CCTV dan diberitahu oleh Awes jika Wolf adalah seorang cewek yang bisa dilihat dari jari jemarinya yang lentik.
"Dia juga sama gantengnya kayak Kakak."
Akan tetapi, kenapa sangat berbeda ciri-ciri fisiknya dengan apa yang diberitahukan oleh tetangganya barusan?
Raja mengernyit bingung. Mungkinkah Wolf memiliki sindikat? Mungkin saja. Karena menurutnya, mustahil jika semua barang bukti tiba-tiba hilang begitu saja, jika tak ada seseorang yang membantu dan menjadi kaki tangannya.
"Apa? Ganteng? Mbak nggak salah lihat, 'kan?"
"Nggak, kok, Kak. Walau jalannya tertunduk, tapi saya bisa merasakan aura kegantengannya. Dan, dia semakin ganteng saat menaiki motor ninjanya yang diparkir di depan gang sana."
Raja tergegap. "Mo-motor nin-ninja?" tanyanya yang hanya dianggukan oleh lawan bicaranya. "Mbak lihat gambar di punggung jaketnya nggak, saat dia naik motor?" tanyanya lagi. Penasaran.
"Ya, gambar serigala, Kak."
Raja mengembuskan napas kecilnya menatap amplop coklat di hadapannya. "Siapapun kamu, aku sangat berterima kasih kepadamu, Wolf," gumamnya.
Senyum kebahagiaan pada akhirnya terbit dari sudut bibir Raja. Ia mengambil amplop tersebut dan segera berlari menuju ke kamar ibunya seraya memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan uang itu. Sudah pasti, hal utama yang akan dilakukannya ialah membayar kontrakan dan membeli berbagai kebutuhan pokok di pasar.
"Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini, Ja?" Kedua manik mata Renata mengerjap berkali-kali, tak percaya dengan apa yang saat ini ada digenggamannya. Anak semata wayangnya baru saja memberikan benda itu kepadanya.
"I-itu ... dari temanku, Mah. Tadi, dia datang ke sini dan meminjamkan uang itu untuk kita," dalih Raja gugup. Jujur saja, ia bingung dengan alasan yang akan diberikan kepada ibunya. Tak mungkin, kan, Raja mengaku bahwa ada seorang pencuri yang memberikan uang itu kepadanya?
Renata terpegun. Ia menatap putra semata wayangnya dengan penuh tanda tanya. "Siapa temanmu yang sudah begitu baik mau meminjamkan uangnya untuk kita? Apa dia Gavin?"