Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #29

28 - Petunjuk

“Dari postur tubuh tegap yang kulihat kemarin, aku rasa dia itu cowok, Py.”

Always tak ingin membuang waktu seorang diri hanya dengan mendengarkan musik saja di tengah jadwal kosong pelajaran. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepada Happy. Oleh sebab itu, saat ini ia duduk di samping cewek itu dan telah menceritakan semua perihal seseorang yang diduga adalah Wolf, yang ditemuinya kemarin siang.

Happy mengernyit bingung setelah mendengar cerita Awes. Bukankah Wolf yang diceritakan oleh Arvin dan cowok di hadapannya itu, ialah seorang cewek? Tapi, kenapa Awes malah bilang jika Wolf adalah cowok?

“Kamu yakin, Wes, kalau orang itu cowok?”.

Awes mengangguk mantap. Ia begitu yakin jika kedua netranya tak pernah salah dalam menilai seseorang. Ia juga yakin bahwa Wolf yang dilihatnya pada kamera CCTV, ialah seorang cewek. Bukankah selama ini ia juga tak pernah salah dalam menilai kecantikan Happy?

Happy berdesis. Bingung. Ia pun bersedekap, lalu meletakkan jari-jemari lentik tangan kanannya pada dagu untuk berpikir. Sedangkan Awes, hanya terkekeh kecil saat melihat cewek itu tampak berpikir serius. Baginya, Happy selalu saja begitu menggemaskan di matanya.

“Kamu bilang orang itu naik motor ninja berwarna biru, kan?” Awes melenggut, dengan pandangan tak henti menatap wajah cantik Happy yang seolah-olah masih tampak berpikir.

“Di sekolah ini yang memakai motor seperti itu cuma Arvin. Tapi, sudah pasti Wolf bukan Arvin, karena motor dia berwarna merah. Terus, kira-kira siapa di sekolah ini yang memiliki motor seperti itu, selain Arvin?”

Kali ini, Awes menggeleng. Dan … kini keheningan menemani keduanya. Mereka telah hanyut terbawa pikirannya masing-masing. Mencoba menebak-nebak siapakah gerangan sang pemilik motor berwarna biru tersebut?

B 390 LU

Seketika, Awes teringat akan plat nomor motor orang tersebut. Lalu, sebuah ide cemerlang muncul di dalam benaknya. Ia pun tersenyum dan menjentikkan jari tangan kanannya di depan wajah Happy, hingga membuat cewek itu tersadarkan dari lamunannya.

“Aku akan cek satu persatu plat nomor motor sport ninja yang ada di parkiran sekolah kita.” Awes menjeda sesaat ucapannya. Kemudian, ia menyeringai lebar. “Kali ini, aku yakin bisa menangkap Wolf,” tambahnya kemudian.

***

“Mbak Wik, pesan Pop Ice rasa sayang satu, ya!”

Arvin baru tiba, langsung berteriak kencang untuk memesan minuman kesukaannya, bersamaan dengan duduk pada kursi kantin dengan tatapan tertuju kepada Happy yang tengah asyik menikmati minuman di hadapannya.

Awes yang ada di samping kiri cowok itu, berdecak, lalu menggeleng. “Vin, gue kasih tahu lo, ya? Lo itu ganteng. Ada banyak cewek cantik yang pasti naksir lo di sekolah ini. Tapi, kenapa lo malah milih mbak Wik, si?”

Arvin melotot. Ia terkesiap mendengar penuturan Awes tadi. Apa yang cowok itu bilang tadi? Dirinya memilih mbak Wik? Oh astaga, itu sungguh-sungguh tak masuk akal.

“Ngaco lo, Wes!” Arvin menjitak kecil kepala Awes. “Siapa juga yang milih mbak Wik?” protesnya.

Awes berdesis, lalu memukul tangan kanan Arvin yang telah berhasil mengenai kepalanya. “Lah, itu tadi. Kenapa lo malah manggil mbak Wik dengan kata sayang?” Kini, giliran Awes yang berhasil menjitak kepala sahabatnya itu.

Sambil menyesap minumannya, Happy hanya terkekeh melihat tingkah kekanak-kanakan kedua cowok di hadapannya yang saat ini saling berbalas memukul kepala.

Lihat selengkapnya