Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #30

29 - Indahnya sang Pelangi

"PADA waktunya, kebenaran akan terungkap, walau hanya menyisakan gelora lara yang mendekap. Alam raya pun diciptakan dengan keseimbangan yang dinamis, hingga akan ada pelampiasan yang bisa dilakukan atas tiap-tiap perbuatan."

Wolf

***

“Jadi, maksud kamu, Wolf ... punya komunitas?” tanya Awes tak percaya yang hanya dianggukan saja oleh Happy.

Namun, tak lama kemudian, kedua manik Awes menangkap orang yang ditunggunya keluar dari pintu gerbang sekolah SMA Juara. Kali ini, Awes melihat sebuah kardus besar yang diikat pada jok belakang sepeda motor orang itu. Ia menduga bahwa sang pemilik motor telah meninggalkan benda tersebut, sehingga memilih kembali ke sekolah untuk mengambilnya.

Tanpa buang waktu, Awes segera berlari menyeberangi jalan untuk menghentikan orang itu. Sedangkan, Happy mengekori Awes di belakangnya.

Awes merentangkan kedua tangannya, ketika si pemilik motor sport ninja itu akan melintas. Sehingga, mau tak mau orang yang berada di atas motor memilih untuk menghentikan motornya. Kini, orang itu melepaskan helm full face-nya dan tampak mengernyit bingung saat melihat apa yang dilakukan oleh cowok berkulit sawo matang dengan kedua tangan yang direntangkan.

Mata Awes kini menatap plat nomor milik cowok berkulit putih di hadapannya. Ia mengernyit bingung, karena plat nomor itu berbeda dengan yang dilihatnya kemarin. Mungkinkah yang dibilang Happy benar, jika Wolf memiliki komunitas? Jika memang benar, lantas ada berapa banyak Wolf di sekolahnya?

“Ada apa, ya?” tanya cowok itu kemudian, yang melihat dua orang asing di hadapannya.

Happy yang saat ini berada di samping kanan orang itu pun menjulurkan tangannya. “Hai, perkenalkan aku Happy, dan ini temanku Always. Kami dari SMA Permata.”

“Leo.” Cowok itu pun membalas uluran tangan Happy, sebelum mulai bersedekap. “Kenapa kalian berdua menghalangi jalan gue?” tambahnya dengan menatap ragu ke arah Awes, yang tampak tak suka menatapnya.

“Kami hanya ingin menanyakan sesuatu ke kamu. Apa kamu ada waktu?”

Kini, pandangan Leo kembali beralih ke arah Happy. “Mau tanya apa? Gue nggak punya banyak waktu, karena gue harus cepat pulang,” jawabnya.

“Apa jaket itu punya lo?” Pada akhirnya, Awes turut menimpali dengan menunjuk jaket hitam yang dikenakan cowok bermata sipit di hadapannya.

Leo tertawa kecil. Hanya satu kata yang terlintas dipikirannya tentang cowok berkulit sawo matang itu, yaitu ‘aneh’. Kenapa cowok itu malah menanyakan hal yang tak penting seperti itu? Bukankah sudah jelas jika jaket ini miliknya?

“Ya, jaket ini punya gue. Kenapa? Lo suka sama jaket ini? Lo bisa kok dapetin jaket ini, dengan cara bergabung di komunitas Wolf.”

Awes dan Happy terperangah, hingga saling melempar pandang saat mendengar keterangan dari Leo tadi. “Komunitas? Komunitas apa maksud lo?” tanya Awes penasaran.

Leo melenggut. “Ya, komunitas Wolf. Apa kalian berdua tertarik untuk masuk ke komunitas itu? Sudah banyak yang bergabung.” Leo berdesis seraya menjeda ucapannya, lalu meletakkan jari telunjuk di dagu untuk berpikir. “Sepertinya … ada salah satu anggota kami yang bersekolah di SMA kalian,” tambahnya kemudian.

Awes membeliak. “Si-siapa dia? Wolf yang bersekolah di SMA kami?” tanyanya. Kemudian, ia pun membuka lebar-lebar kedua telinga untuk bersiap menangkap info besar dari cowok itu.

Lihat selengkapnya