“Kamu Always, kan?”
AWES menoleh ke arah tangga yang ada di samping kanan, ketika kedua telinganya mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanya. Kini, netranya mendapati wanita itu yang sedang menuruni anak-anak tangga dengan cukup hati-hati.
Wanita itu tersenyum dan berjalan ke arah Awes saat telah menginjakkan kakinya di lantai dasar. Sedangkan Awes, mengerutkan keningnya samar. Ia merasa pernah berjumpa dengan wanita tersebut. Tapi … siapa dan di mana?
Kini, Awes berusaha untuk mengingat, hingga benaknya berhasil menembus batas waktu beberapa bulan yang lalu, di mana dirinya tengah menjemput salah seorang customer-nya yang sedang hamil.
“Dengan Mbak Shasa?” tanya Awes kepada seorang wanita yang sedang hamil di depannya.
“Iya, benar, Kak.” Awes mengulas senyum kepada wanita tersebut, lalu memberikannya helm.
“Nama kamu beneran Always?” tanya Shasa memecah keheningan dalam perjalanan pulangnya.
“Iya, Mbak. Nama saya aneh, ya?”
“Nggak, nama kamu unik. Kamu juga ganteng.”
Awes terkekeh saat berhasil mengingatnya. "Mbak Shasa?” Awes menunjuk wanita di hadapannya.
Shasa melenggut. “Ya ampun, Always kamu semakin ganteng saja,” ucapnya yang selalu diiringi dengan senyum, sehingga membuatnya masih begitu tampak awet muda.
Awes menyeringai lebar. “Ah, Mbak Shasa bisa saja. Saya benar-benar nggak nyangka, ternyata Mbak masih ingat sama saya.”
“Mana mungkin aku lupa sama kamu, Wes.” Sasha menjeda ucapannya. Kini, pandangannya beralih ke arah cewek cantik yang berada di samping kiri Awes. “Eh, ini pacar kamu, ya, Wes? Ya ampun, cantik sekali.”
Happy terkekeh. Ternyata, benar yang dikatakan oleh Leo tadi. Bahwa, selain cantik, Shasa juga begitu baik.
“Bu-bukan, Mbak. Dia teman saya. Namanya Happy,” aku Awes gugup dengan melambaikan tangannya di depan dada. Kemudian, ia pun memberitahukan perihal Shasa kepada Happy. “Py, Mbak Shasa ini customer aku yang pernah order Ojolali.”
Happy melenggut. Lalu, menjulurkan tangannya ke arah Shasa. “Happy.”
Shasa pun melakukan hal yang sama. “Shasa,” beritahunya. “Oh, jadi, dia yang kamu ceritakan anak Polisi itu, ya, Wes?”
Happy terperangah. Ia pun menatap Awes dengan penuh rasa curiga. Kenapa Shasa bisa tahu tentang dirinya? Mungkinkah Awes secara diam-diam telah menggibah dirinya?
Sedangkan Awes, cowok itu hanya menyeringai lebar dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagai maling yang telah tertangkap basah. Mungkin, seperti itulah ungkapan untuk Awes sekarang. Karena, telah tertangkap langsung oleh cewek yang digibahnya.
“Ayo, sini masuk.” Shasa pun menuntun Awes dan Happy menuju ke belakang halaman rumahnya. “Anggap saja rumah sendiri. Seperti anak-anak yang lain, mereka malah menganggap rumah ini adalah rumah kedua mereka,” ceritanya seraya tetap berjalan menyusuri rumah mewahnya.
Awes dan Happy yang sedari tadi mengekori, hanya mendengarkan saja. Sesekali mereka mengangguk dan juga takjub dengan dekorasi mewah yang ada di rumah ini.
“Waktu itu aku pernah mengajak Awes untuk bergabung di komunitas ini. Berbulan-bulan, Aku tungguin kamu, Wes. Aku pikir kamu nggak tertarik buat bergabung di sini. Tapi, ternyata … kamu datang juga,” cerita Shasa panjang lebar. “Aku selalu membuka lebar pintu rumahku untuk siapa saja yang mau bergabung. Termasuk kalian,” tambahnya lagi dengan diiringi oleh senyum manisnya.