“ORANG munafik selalu ingin tampak tak bersalah, selalu suka memutar balikkan keadaan, selalu ingin tampak seolah-olah bermaksud baik. Dan tak pernah ingin menghadapinya ketika berurusan dengan soal penghukuman.”
Lauryn Hill.
***
MATAHARI tersenyum hangat. Sinarnya memancarkan warna keemasan. Bulat, jingga yang sempurna. Menyinari pepohonan rindang yang berwarna hijau. Daun-daunnya seakan mengangguk tanda menyetujui matahari pamit dari hadapannya. Angin pun ikut mengantarkan kepergian sang mentari.
Pandangan manik mata Happy mengikuti arah jari telunjuk Awes yang saat ini tengah bergerak, menunjuk satu persatu nama-nama anggota Wolf yang ada dalam berkas di atas meja. Begitu pula Awes, fokus membaca, seolah-olah tak ingin melewati satu nama sekalipun.
Namun, seketika Awes tergemap, hingga kedua netranya membulat ketika jari telunjuknya berhenti pada salah satu nama. Satu-satunya nama di mana orang itu tertulis bersekolah di SMA yang sama dengannya.
Arvin Pratama
Seperti gelegar halilintar yang meremukkan dada. Happy membeliak. Ia menangkupkan mulut dengan kedua tangannya. Lalu, ia menggeleng lemah. Sungguh, ia tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Binar matanya saat ini bergetar menahan gejolak deraian air mata.
Awes memejamkan kedua matanya sesaat. Dengkus nafasnya bergemuruh. Begitu pula dadanya terasa panas, akibat gejolak amarahnya telah meletup. Kini, benaknya pun telah berkelana jauh, hingga berhasil menembus batas waktu lima bulan silam.
Arvin tengah menatap secarik kertas yang berisi sebuah pesan untuk Lisa yang diberikan oleh Wolf. Namun, ia mengernyit bingung dan mulai angkat suara. “Ada yang aneh. Kenapa cuma Lisa yang dapat surat ini? Sedangkan gue, nggak dapat.”
“Gue juga berpikir begitu. Mungkin saja si pelaku lupa atau mungkin saja dia suka sama lo. Jadi, dia nggak perlu ngasih surat yang berisi pesan buat lo.” Awes mulai berhipotesa sambil memakan sosis bakarnya.
Arvin menautkan kedua alisnya dan menatap Awes. “Jadi, menurut lo pelakunya itu cewek?”
Kini, pandangan Awes kosong, menatap ke arah depan. Ia pun bermonolog dengan kekecewaan yang saat ini membalut jiwanya.
“PENGKHIANAT! Jadi, selama ini lo sengaja memutar balikkan keadaan, supaya semua aksi bejad lo nggak bisa gue lacak!” Awes mengangkat sudut bibirnya ke atas. “Lo lihat saja! Apa yang bakal gue lakuin ke lo, Vin!” ucap Awes geram yang saat ini telah mengepalkan kedua tangannya.
***
“Sial!”
Arvin terus merutuki dirinya sendiri, karena telah mengalami kekalahan telak dalam balap motornya malam ini. Ia akui bahwa dirinya memang sedang tak fokus, karena pikirannya tengah kalut. Bagaimana tidak? Bukankah kedua sahabatnya saat ini tengah berada di markas Wolf untuk mencari tahu kebenaran tentang siapa Wolf?
Arvin menghentikan sepeda motornya. Lalu, membuka helm full face yang dikenakan dan menyapu gusar wajah putihnya. Ia pun mendesah pelan. Walau sebenarnya, ia sudah bisa memprediksi bahwa lambat laun kedua sahabatnya itu akan tahu perihal jati dirinya yang selama ini ditutupi. Akan tetapi, kenapa rasanya begitu sangat menyesakkan seperti ini?
“Kenapa akhir-akhir ini lo sering kalah, Vin?” Juan turun dari motor sport ninjanya, setelah memarkirkan benda tersebut di tepi jalan. Lalu, ia pun menghampiri Arvin. Sedangkan cowok yang ditanyanya hanya bergeming, seraya mengacak rambutnya frustrasi.
Leo yang juga sudah turun dari motor, berjalan menghampiri kawanan Wolf lainnya yang sudah berkumpul di samping motor milik Arvin. Ia tersenyum senang, seraya meninju pelan bahu Vian yang berada di sebelah kanannya. “Haha. Akhirnya, setelah berkali-kali kalah, gue bisa menang juga,” ucapnya semringah.
Juan menimpali. “Selamat, ya, bro. Jangan lupa pilih tempat yang besar untuk kita pesta.”
"Setuju!” cetus anggota yang lainnya diiringi oleh lengkingan siulan mereka, membuat suasana sirkuit menjadi ramai tak terkendali.
“Kalian tenang saja, gue pasti pilih tempat yang besar, kok.” Leo pun menengadahkan tangan kanannya, lalu menyodorkannya kepada para anggota yang lain. “Sini, mana uang kalian! Cepetan kasih gue! Hahaha.”
Para anggota pun menuruti titah Leo. Satu persatu di antara mereka merogoh saku, lalu mengambil uang untuk diberikan secara sukarela kepada sang pemenang.
“Ini dari anak baru tadi.” Vian memberikan satu amplop lagi kepada Leo, setelah memberikan uang miliknya. “Katanya, dia ada urusan, dan lagi terburu-buru. Jadi, nggak sempat buat kenalan sama kita semua. Dia bilang Panti Asuhan Dermawan tempat yang tepat untuk kita berpesta. Di sana banyak anak-anak terlantar, karena kurangnya donatur,” terangnya kemudian.