Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #34

33 - Serigala Berbulu Domba

Lima bulan sebelumnya

DI DALAM kamar nun luas, dengan dominasi cat berwarna putih, Wolf duduk di depan meja belajar, seraya memainkan sebuah bolpen yang terselip di antara jari-jemarinya. Ia tengah menatap selembar kertas yang berisikan tiga nama korban yang sengaja diberi nama ‘My Pets’. Pasalnya, memang seluruh korbannya adalah seorang manusia yang memiliki sifat yang sama seperti binatang yang saat ini telah dianggapnya sebagai hewan peliharaan.

Bagaimana tidak? Kebanyakan dari mereka tak sedikit mau saling menghargai atau berbagi dengan satu sama lainnya. Bukankah, binatang saja yang tak memiliki akal dan pikiran masih mau saling berbagi? Lantas, kenapa para manusia yang dikarunia akal sehat malah tak memiliki hati nurani?

Wolf tersenyum. Sudah ada dua nama yang ditandai dengan ceklis di samping nama para korbannya. “Arvin? Kenapa aku bisa lupa untuk memberikanmu sebuah julukan dan pesan? Karena aku menyukaimu, bagaimana jika kau, aku panggil dengan julukan Burung Elang?” ungkapnya bermonolog dengan sepi.

Namun, tak lama kemudian, Wolf terkekeh geli dengan ucapannya tadi. “Hahaha. Sebenarnya gue nggak lupa. Hanya saja, gue memang nggak ada rencana buat ambil uang milik gue sendiri. Tapi, berkat otak cerdik yang gue punya, akhirnya gue sengaja ambil uang itu, supaya nggak ada yang curiga. Kenyataannya, mereka semua malah menganggap gue adalah korban. Hahaha.”

Wolf menghentikan tawanya. Lalu, kembali fokus menatap selembar kertas di hadapannya. Ia pun mulai menggerakkan jari-jemarinya untuk mencoret nama Arvin dengan bolpen dan menuliskan kata Burung Elang di sampingnya. Tak lupa, diiringi oleh seringai tawa kecil seraya bergumam, “Burung Elang memang cocok buat gue. Karena, dari binatang-binatang yang gue tulis di kertas ini, cuma elang yang memiliki filosofi yang bagus dan patut untuk ditiru.”

Seperti sifat burung elang yang dimiliki, di mana segala sesuatunya harus melalui proses belajar yang cukup panjang agar bisa mencapai tujuan hidup. Kini, ia pun merancang sebuah rencana yang cukup matang untuk bisa mengeksekusi korban ketiganya, supaya tak gagal.

Kini, pandangan Wolf menatap kosong ke arah dinding meja belajarnya. Ia juga mengetuk-ngetuk bolpen di atas meja, sehingga berhasil menimbulkan sedikit kebisingan dan mengubah sunyi yang sedari tadi menemani. Ia menyeringai dan kembali bergumam, “Tunggu aku, sang bangau!”

Tok … Tok … Tok ….

“Den Arviiin … ini mie gorengnya sudah Mbok buatkan.”

Suara ketukan pintu, serta panggilan mbok Nah kini mengalihkan atensinya. “Ya, mbok! Buka saja, nggak Arvin kunci pintunya.” Arvin pun segera merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Setelah itu, bersiap untuk menyantap makan malamnya.

***

Arvin berjalan gontai memasuki kamar nun luas yang merupakan milik Juan, temannya. Ia berjalan seraya merintih memegangi pipi kanan yang terasa begitu sakit sekaligus perih. Ia pun duduk perlahan di atas lantai, lalu meluruskan kedua kaki setelah sampai di depan ranjang. Ia juga menyandarkan punggung pada bawah dipan ranjang dan menengadahkan kepalanya di sana.

Tak lama kemudian, Juan masuk ke dalam kamarnya dengan membawa kotak obat dan sebuah baskom kecil yang berisi es batu. Ia duduk di depan cowok yang saat ini tubuhnya telah terkulai lemas dan sedang memejamkan mata.

“Kenapa si lo nggak mau ngasih tahu gue, siapa yang udah gebukin lo sampai babak belur kayak gini? Gue kan bisa bilang ke yang lain buat gebukin itu orang balik,” ungkap Juan geram seraya meletakkan benda yang ada di kedua tangannya di hadapan Arvin. Ia pun duduk di samping cowok itu.

Arvin membuka kedua matanya yang terasa begitu berat. Ia meringis saat nyeri di area pipi kembali mendekapnya. Ia segera menyambar handuk kecil untuk mengompres luka lebamnya dengan es batu dengan tak menghiraukan kicauan Juan yang sedari tadi menunggu jawabnya.

“Malam ini, gue nginep di rumah lo, ya?” pinta Arvin kemudian, seraya meletakkan handuk di bagian pipi kanan dan kembali menengadahkan kepala di bagian ujung ranjang.

Juan bergedik. “Lo boleh nginep di rumah gue, asalkan lo mau ngasih tahu gue, siapa yang udah melakukan ini semua ke lo?”

Lihat selengkapnya